Oase

Menuhankan Balasan

Foto : http://okistudio.com

Oleh : Vina Hesti Fahrani

Alkisah dua orang pemuda sedang membicarakan kebahagiaan serta keresahan menjelang hari raya. Kebahagiaan karena waktu bagi mereka mendapat THR (Tunjangan Hari Raya –red), dan keresahan saat harus menghadapi sikap-sikap yang ditunjukkan oleh keluarga besar. Maklum, kedua pemuda tersebut terbilang belum sukses dalam karir maupun asmara, sehingga rasa minder datang menghantui. Ada niatan untuk mengurung diri dalam kamar saat keluarga besar datang, dan berniat menemui saat pembagian THR saja. 

Dari cerita di atas, beberapa orang merasakan hal baik dan hal buruk saat hari raya. Sebenarnya apa esensi dari hari raya itu sendiri? Dalam sebuah hadis dari Ummu Athiyah ra. “Kami diperintahkan untuk mendatangi tempat shalat, bahkan perawan di pingitannya dan wanita yang haid diperintahkan untuk mendatangi tempat shalat ied. Hanya mereka berposisi di belakang saf kaum muslimin. Mereka bertakbir dengan takbir kaum muslimin, dan berdoa dengan doa kaum muslimin, dengan berharap keberkahan dan kesucian hari tersebut,” (HR. Bukhari). Dalam hadis tersebut dikatakan bahwa tujuan utama hari raya adalah untuk mendapat keberkahan dan kesucian. Dalam hal ini, silaturahmi dan saling bermaafan turut menyempurnakan esensi hari raya itu sendiri. THR hanyalah bonus, bukan tujuan utama. Masalah lain seperti sikap keluarga besar yang tidak mengenakan tentu harus mampu dihadapi dengan kedewasaan. Banyak sekali tujuan utama dari suatu hal yang terasa kabur eksistensinya.

Gambaran lainnya seperti saat sebagian besar anak kecil beranggapan bahwa belajar bukanlah suatu kebutuhan. Beberapa orang tua memberikan stimulus untuk membuat anaknya lebih semangat dalam belajar, terkadang mereka menjanjikan sebuah hadiah menarik ketika sang anak berhasil mendapat peringkat satu atau target tertentu. Akhirnya belajar pun menjadi sarana untuk mendapat hadiah, padahal tujuan utamanya adalah mendapat ilmu. Apakah hal tersebut salah? Tentu tidak, dalam menetapkan tujuan untuk sesuatu yang baru memang harus diimplementasikan sesuai tingkat intelektualitasnya. Namun, yang perlu disoroti adalah semakin bertambahnya usia apakah tujuan utama dalam belajar adalah untuk mendapat hadiah?  Rasionalnya semakin dewasa semakin sadar bahwa belajar merupakan kebutuhan, belajar untuk mendapat ilmu yang mampu digunakan sebagai problem solving dan memberikan kemanfaatan dalam hidup. Jadi, hadiah hanyalah motivasi lain saja.

Allah berfirman dalam QS. AL-Baqarah ayat 148 “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Dalam ayat tersebut diajarkan bahwa kita harus berlomba-lomba dalam kebaikan atau yang disebut dengan Fastabiqul Khairat. Dalam hal berbuat kebaikan seperti tolong-menolong misalnya, apa tujuan sebenarnya di dalam hati saat menolong orang lain? Ada berbagai motivasi yang diimplementasikan. 

Pertama, bagi orang-orang yang percaya hukum karma, mereka akan beranggapan bahwa setiap tindakan akan mendapatkan balasan, meskipun hal itu kecil.  Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Az-zalzalah ayat 7 dan 8 “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” Allah telah menjanjikan balasan atas apapun yang manusia lakukan. Namun banyak dari mereka yang justru fokus mengharapkan balasan. Semakin tinggi ekspektasi seseorang dalam mendapat balasan, maka sangat mudah untuk kecewa, dan rasa ikhlas kabur bagai menulis di atas air. Tidak semestinya balasan-balasan tersebut justru membuat keikhlasan kita dipertanyakan.

Motivasi kedua adalah berbuat kebaikan yang berasal dari naluri kemanusiaan itu sendiri. Seperti keinginan menolong orang lain karena rasa iba, memberi hadiah kepada orang lain karena ingin melihatnya senang, serta segala empati lainnya. Dengan tidak berekspektasi tinggi pada hukum karma yang telah dijanjikan, seseorang benar-benar ikhlas dalam melakukan kebaikannya. Inilah tujuan utama yang seharusnya. Menurut Al Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, dari Abu Hurairah ra. Ia berkata Nabi Shallahu’alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”

Selain kepercayaan manusia terhadap hukum karma dan naluri kemanusiaan untuk menambah pahala, rasa penasaran akan pahala orang lain bisa saja menjadi motivasi untuk berbuat kebaikan. Namun, seseorang mungkin saja membanding-bandingkan pahala yang ia dapat dengan orang lain. Ada dua kemungkinan yang terjadi, seseorang bisa  overconfident untuk masuk surga karena merasa ibadahnya lebih baik dari orang lain, atau akan putus asa dan membenci dirinya sendiri karena menyadari ibadahnya lebih buruk dari orang lain.

Sekarang jika berbicara mengenai ibadah, untuk siapa sebenarnya manusia melakukannya? Ibadah sendiri merupakan perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah SWT, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tetapi, pernahkah mendengar lirik lagu berikut ?

Apakah kita semua

Benar-benar tulus menyembah pada-Nya

Atau mungkin kita hanya

Takut pada neraka dan inginkan surga

Jika surga dan neraka tak pernah ada

Masihkah kau bersujud kepada-Nya

Jika surga dan neraka tak pernah ada

Masihkah kau menyebut nama-Nya

Bisakah kita semua 

Benar-benar sujud sepenuh hati

Karena sungguh memang Dia ada

Memang pantas disembah

Memang pantas dipuja

Dalam lirik lagu tersebut terdapat pertanyaan, sesungguhnya untuk apa manusia beribadah? Apakah memang benar-benar ikhlas berbakti kepada Tuhan? atau hanya takut akan ancaman neraka? dan menginginkan cerita keindahan surga? Tentu bagi orang awam hal ini sangat kontroversial. Doktrin bahwa melakukan kebaikan akan masuk surga, dan melakukan kejahatan akan masuk neraka sudah terpatri sejak dulu, sehingga muncul perintah untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan dan sebisa mungkin untuk tidak melakukan dosa. Jadi latar belakang atas ibadah itu yang perlu dipertanyakan.

Orang-orang yang hanya fokus mencari pahala akan berangan-angan berapa pahala yang ia dapat setiap kali beribadah. Ada kalanya manusia merasa paling baik dari sesamanya hanya karena ia merasa rajin beribadah, ada kalanya juga manusia memandang rendah kedudukan sesamanya yang dinilai buruk dalam beribadah. Dalam bahasa kerennya hal ini dinamakan mabok agama. Jelas bahwa tindakan seperti itu bukanlah output yang diharapkan dari esensi beribadah.

Sesuai dengan riwayat dari Abdullah bin Mas’ud ra. Dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. ”Ada seseorang bertanya, “Bagaimana dengan seseorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus ?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain,” (HR. Muslim). Yang perlu diingat, belum tentu orang yang shalatnya tidak lancar dan tidak tepat waktu itu melakukan perbuatan keji, mungkin orang tersebut paling baik di antara kita dalam bersedekah. Belum tentu orang yang tidak sempurna dalam menutup aurat itu melakukan zina, mungkin orang tersebut yang paling baik di antara kita yang mampu menolong orang lain tanpa pamrih. 

Pernahkah manusia berpikir, mengapa kuantitas pahala dan dosa tidak diperlihatkan oleh Allah? Bukankah jika tahu berapa banyak pahala yang telah dikumpulkan  akan semakin bersemangat untuk menambahnya? Lalu jika tahu berapa banyak dosa yang didapat akan semakin berusaha menghindari berbuat dosa? Tetapi lihatlah fenomena saat ini, tanpa diperlihatkan jumlah pahala dan dosa pun benih-benih kesombongan bisa muncul di hati manusia. 

Andai saja neraka dan surga tidak ada, apakah manusia akan tetap berlomba-lomba dalam kebaikan? Sama halnya seperti apakah seorang anak kecil akan tetap belajar jika tidak dijanjikan hadiah? Semua orang seharusnya berpikir apa tujuan sebenarnya manusia diperintah untuk beribadah ; beribadah ikhlas karena Allah, bukan karena sesuatu yang Dia janjikan. Seperti lirik terakhir lagu di atas, manusia harus ikhlas bersujud kepada-Nya karena memang Dia pantas disembah dan dipuja.

Seperti yang dikisahkan juga oleh sufi wanita yang bernama Rabi’ah Al-adawiyyah. Beliau dikenal karena kesucian dan kecintaannya terhadap Allah. Konon karena rasa sangat cintanya kepada Allah, beliau menolak semua lamaran pria dan memutuskan untuk tidak menikah seumur hidup. Hal ini dilakukan karena beliau tidak ingin menduakan Allah. Syairnya yang terkenal yaitu :

“Ya Illahi! Jika sekiranya aku beribadah kepada Engkau karena takut akan siksa neraka, maka bakarlah aku dengan neraka-Mu. Dan jika aku beribadah kepada Engkau karena harap akan masuk surga, maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku beribadah kepada Engkau hanya karena semata-mata karena kecintaanku kepada-Mu, maka janganlah, Ya Illahi, Engkau haramkan aku melihat keindahanmu yang azali.”

Banyak hal yang bisa dipetik dari beberapa contoh di atas, salah satunya adalah dalam melakukan sesuatu sebaiknya ikhlas sesuai dengan esensi kebaikan itu sendiri. Jangan menggantungkan diri kepada balasan-balasan dari suatu hal. Semakin dewasa manusia harus semakin tajam intelektualitasnya, agar menjadi insan ulil albab yang benar-benar dirahmati Allah. Semoga kita termasuk dalam golongan manusia yang tidak merugi.

 

Editor : Azizah

 

197 Total Views 3 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *