Opini

Mengulik Tantangan Indonesia Pasca Resesi

Foto : Mohammad Abinaya H. 

Narasi : Khairul Raziq

Bacaekon.com-Resesi ekonomi adalah suatu kondisi yang dialami oleh suatu negara yang mengalami kontraksi ekonomi secara berturut selama dua kuartal (Q). Berangkat dari hal tersebut, Indonesia hingga saat ini sedang mengalami kondisi resesi.

Tercatat pada Q2 2020 Indonesia mengalami kontraksi sebesar 5,32%. Kondisi tersebut lantas berlanjut, Q3 2020 masih terkontraksi sebesar 3,49%, lalu minus 2,19% pada Q4 2020. Setahun pandemi nampaknya belum mampu membuat perekonomian melejit. Posisi ‘merah’ masih dialami pada Q1 2021 yakni sebesar 0,74%.

Meski dengan kondisi begitu, banyak yang memprediksi perekonomian akan jauh meroket di Q2 2021. Apabila pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) menunjukkan peningkatan dibandingkan kuartal yang sama di tahun lalu, maka dapat dikatakan Indonesia telah berhasil keluar dari resesi secara teoritis.

Kendati demikian kinerja PDB yang didasarkan harga konstan masih mencapai Rp2.683,1 triliun. Sehingga meskipun mengalami kontraksi, kinerja PDB masih dapat mencatatkan peningkatan dibanding kuartal sebelumnya di tahun 2020. 

Salah satu yang memprediksi ekonomi Indonesia akan meroket adalah Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati. Beliau memprediksi ekonomi nasional mendatang akan kembali ke jalur positif. Ia memprediksi ekonomi akan tumbuh sekitar 7,1-8,3%. Jika berdasar asumsi PDB, maka tentu sepertinya kinerja positif akan mudah untuk didapatkan. PDB triwulan II tahun 2020 saja mencatatkan Rp2.589,7 triliun. Paling tidak Indonesia akan mencatatkan positif, dengan begitu, Indonesia telah beranjak dari posisi resesi. 

Berbagai indikator ekonomi yang ada menampakkan kinerja yang membaik. Sebuah kewajaran apabila optimisme datang dari berbagai kalangan. Indikator pertama yang dapat ditinjau adalah Purchasing Manager Index (PMI). Per April 2021 PMI tercatat sebesar 54,6 lalu mencatat rekor di Mei 2021 sebesar 55,3. Mei menjadi bulan tertinggi dibandingkan tiga bulan sebelumnya, yang hanya ada pada angka 52,2; 50,9; dan 53,2 secara berturut-turut. 

Dalam pengukuran PMI, dijelaskan bahwa nilai yang berada di atas 50 menunjukkan kinerja sektor usaha ada pada kondisi ekspansi. Sebaliknya, di bawah 50 menunjukkan kondisi kontraksi pada sektor usaha. Berkaca dengan data yang ada, dapat dikatakan sektor usaha pada Q2 2021 sedang menggeliat. Selanjutnya, indikator yang dapat dijadikan acuan adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI) juga berada di level yang meyakinkan. Tercatat sebesar 104,4 pada Mei 2021, naik hampir tiga poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Tidak hanya itu, kondisi ekonomi di Q2 ini juga ditopang dengan adanya bulan Ramadan dan hari raya Idulfitri. Secara tradisi, perayaan hari tersebut dapat menjadi amunisi tambahan untuk mendorong konsumsi masyarakat.

Konsumsi pada hari raya tidak dapat dipungkiri setiap tahunnya meningkat. Produksi barang dan jasa juga turut menjadi faktor konsumsi tersebut meningkat. Lebih jauh, mencairnya Tunjangan Hari Raya (THR) untuk kalangan pekerja beberapa waktu lalu tentu akan menambah daya gedor ekonomi nasional. 

Atas dasar indikator-indikator di atas, nampaknya cita-cita yang diharapkan Sri Mulyani dapat segera tercapai, setidaknya untuk merangsek keluar dari jebakan resesi pada kuartal kedua di tahun ini. 

Tantangan yang Mengintai

Kendati beberapa indikator ekonomi menunjukkan aktivitas yang perlahan memulih. Nyatanya masih ada tantangan yang mengintai di balik hal tersebut. Keluar dari jurang resesi bukan berarti perekonomian Indonesia akan aman-aman begitu saja. Justru ketika berhasil, Indonesia harus bersiap dengan beberapa tantangan yang ada. Tantangan itu datang dari dalam negeri. Sektor yang belum pulih sepenuhnya juga masih ada. Supermarket satu per satu mulai tumbang dan gulung tikar akibat pandemi Covid-19. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mencatat, selama pandemi beberapa supermarket harus ‘berduka’ karena tidak mampu bertahan di tengah pandemi. 

Bergeser ke sektor keuangan, permintaan akan jasa kredit juga masih rendah. Melansir data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sektor tersebut masih terkontraksi sebesar 2,28%. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, Dana Pihak Ketiga (DPK) di periode yang sama industri perbankan tumbuh sebesar 10,94%. Dapat disimpulkan, likuiditas pada sektor perbankan cukup berlimpah, namun mengalami pendistribusian yang mandek. Namun, hal itu juga menjadi perhatian penuh dari sektor perbankan. Perbankan masih sangat berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Di sisi lain, permintaan kredit yang ada juga masih cukup rendah. 

Optimisme yang tinggi memang sangat penting untuk terus digelorakan. Namun, pemerintah juga harus yakin bagaimana dapat merealisasikan kebijakan yang telah ada. Semisal, penyerapan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) hingga kini belum optimal. Dari lima sektor yang ada, baru satu sektor yang berhasil diserap di atas 50% dari pagu.

Optimisme harus dibarengi dengan optimalisasi yang pasti. Pemberian terhadap sektor UMKM juga perlu ditingkatkan melalui dana PEN. Tercatat baru sekitar 26,3% dana yang direalisasikan untuk sektor tersebut. Hal tersebut harus dioptimalkan, pasalnya bisnis UMKM melibatkan 97% tenaga kerja nasional dan berkontribusi terhadap PDB sekitar 61% dan ekspor sebesar 14%. 

Lebih jauh, tantangan juga datang dari sektor kesehatan; peningkatan drastis angka Covid-19. Senin, 21 Juni 2021 Indonesia ‘pecah telur’ dengan rekor tertinggi sejak pandemi. Total kasus dicatatkan mencapai 2.0004.445 positif Covid-19. Selain itu, Data Kementerian Kesehatan juga menunjukkan bed occupancy rate (BOR) atau jumlah keterisian tempat tidur rumah sakit rujukan Covid-19 semakin menipis terutama di Pulau Jawa. Harus ada upaya untuk memitigasi agar rumah sakit tidak kolaps. Upaya yang dapat dilakukan dengan penambahan jumlah tempat tidur. Hal tersebut membutuhkan dana yang cukup banyak apabila penambahan kasus Covid-19 juga terus meningkat. Pengendalian pandemi begitu penting agar dapat menekan kasus. 

Kendati dana yang ada diklaim oleh Menkeu RI masih cukup untuk sektor kesehatan, hal itu bukan berarti suatu hal yang baik. Separuh waktu 2021 sudah terlewati. Namun, realisasi penggunaan dana PEN untuk sektor kesehatan baru mencapai 26,3% saja. Serapan realisasi di pos kesehatan ini memang cukup mandek. Tahun lalu saja, hanya 63,8% dari pagu Rp99,5 triliun yang berhasil diserap. Ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi pemerintah. Realisasi harus lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Dengan begitu, kita berharap semuanya dapat terselesaikan secara kolektif; pemerintah, rakyat, dan lainnya. 

Integrasi kebijakan antara ekonomi dan kesehatan juga perlu ditingkatkan lagi. Pasalnya, upaya yang dilakukan masih cenderung berorientasi pada sisi ekonomi. Apresiasi tertinggi juga memang layak dihaturkan kepada pemerintah dengan segala beleid yang ada. Namun, perlu dicermati kembali agar tidak terlena dengan peningkatan gairah ekonomi.

Peningkatan ekonomi dibarengi dengan peningkatan kasus Covid-19 di setiap harinya hanya menjadi pekerjaan tambahan. Hal tersebut hanya akan menyebabkan perekonomian dapat kembali tumbang dan hanya dapat berjaya sejenak. 

Editor : Ikrar Aruming Wilujeng

178 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *