Jejak

Mengulik Sisi Lain Kota Perak

Oleh : Dina, Rafani, Ulfa

Tak banyak yang mengetahui, ternyata di daerah yang terkenal dengan kerajinan peraknya ini terdapat ratusan Joglo kuno yang masih menjulang. Mereka menjadi saksi bisu jalannya roda kehidupan Kota Perak.

Bacaekon.com-Jejak. Jogja istimewa! Kalimat tersebut bukan hanya sekedar slogan yang kini tengah digembar-gemborkan oleh pihak pemerintah saja. Banyak hal menarik yang dapat kita telusuri dari kota Jogja tercinta ini. Cobalah Anda menyusuri daerah Malioboro lalu bergerak menuju arah tenggara Kota Yogyakarta. Di sana Anda akan menemukan sebuah daerah penghasil kerajinan perak yang dikenal dengan nama Kota Gede.

Kota Gede, selain dikenal sebagai gudangnya pengrajin perak, ternyata ada bagian menarik yang perlu pembaca ketahui. Di sana terdapat relief yang telah ada sejak masa lalu dan masih berdiri kokoh hingga saat ini. Ada sebuah kompleks di Kota Gede yang berisi ratusan rumah Joglo, rumah tradisional khas Yogyakarta. Kawasan ini menyuguhkan eksotisme rumah Joglo yang kini telah tersebar acak meski sudah termakan jaman.

Selama ini kita hanya tahu bahwa Kota Gede merupakan pusat kerajinan perak semata. Padahal di balik itu semua justru terselip cerita yang tak kalah menarik bagi para wisatawan yang hendak mengetahui sejarah Yogyakarta di masa lalu.

Kami mencoba menyusuri jalan di barat Kota Gede, lalu mengikuti petunjuk arah bangunan yang berimpit dan berjajar rapi di tepi jalan yang dikenal dengan nama jalan Mandakaran. Mulai lah kami memasuki gang sempit yang berada di kiri jalan. Setelah itu mata kami tertuju pada kemegahan sebuah bangunan Joglo Ijoi sebelah kiri jalan yang seluruh bangunannya tertutupi warna hijau mencolok. Tak luput dari penglihatan, di atas joglo tersebut terdapat atap yang berbentuk limas berwarna emas.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan menemukan sebuah pos yang berjuluk pos Malang. Bentuknya melintang dan menghubungkan tiga gang sekaligus yang memiliki fungsi sebagai pos ronda dulunya. Namun sekarang hanya dijadikan tempat berteduh bagi pejalan kaki. Konon katanya saat malam hari, kawasan tersebut dikenal angker sehingga tidak ada orang yang berani melewatinya. Pos itu berjarak sekitar lima meter dari sebuah rumah joglo terkenal yang bernama Omah UGM.

Setelah melewati pos, kami belok ke barat dan memutuskan untuk menuju rumah joglo tersebut. Joglo indah ini tidak hanya menyuguhkan desain yang mampu memanjakan mata, tetapi juga menggoda bidikan kamera para pengunjung.

Rumah Joglo tersebut milik Ibu Parto Darsono (almarhumah) yang terletak di Kampung Bodon, Jagalan, Kota Gede, Yogyakarta. Bangunan dengan luas tanah mencapai 900 m2 ini didirikan pada tahun 1860. Rumah ini masih asli seperti dahulu tanpa mengalami pemugaran yang berarti, kecuali bangunan tambahan pada bagian samping rumah. Arsitektur bangunan bergaya tradisional jawa dengan ukiran khas pada kayu jati tuanya ini, mampu menyedot banyak wisatawan lokal maupun non-lokal.

Pesona ini semakin bertambah ketika kita disuguhkan oleh interior berupa lampu-lampu khas Jawa tempo dulu. Bahkan tempat ini juga dijadikan sebagai salah satu lokasi pembuatan film “Sang Pencerah” serta acara “Dua Dunia” yang dipandu oleh komedian Tukul Arwana.

Pada tahun 2006 setelah peristiwa gempa bumi yang melanda Yogyakarta, rumah joglo milik keluarga Parto Darsono ini berpindah tangan menjadi milik salah satu universitas terkemuka di Yogyakarta. Rumah tersebut ditawarkan pada pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) oleh lurah setempat seharga 250 juta rupiah, dengan alasan sang pemilik tidak memiliki ahli waris. Alhasil rumah itu kini telah menjadi milik Fakultas Arsitektur dan Perencanaan, yang sampai saat ini diberi nama Omah UGM.

Rumah joglo tidak hanya dapat dinikmati dalam segi budayanya saja, namun juga dari segi filosofi joglo itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari sejarah Kota Gede yang dahulu pada awalnya berupa hutan yang akhirnya dialih fungsikan untuk pemukiman pada jaman Mataram Kuno. Ada perbedaan antara rumah joglo seorang saudagar yang dibuat lebih tinggi dibanding dengan rumah joglo rakyat biasa. Menurut penjaga Omah UGM, “Dulu, rumah joglo disini banyak mbak, malah hampir semua joglo. Kalo yang tinggi itu buat para juragan perak tapi kalo yang pendek itu buat para pekerja pengrajin perak sama batik”.

Selain itu, terdapat tiga ruang utama dalam rumah joglo yang memiliki fungsi tersendiri. Senthong tengen (kanan) digunakan untuk kamar tidur pemilik rumah, pada jaman dahulu ruang ini dilengkapi dengan senthir (lampu minyak yang diletakkan di tembok). Senthong tengah merupakan ruang kosong yang digunakan sebagai tempat ibadah, tempat ini sangat sakral sehingga tak jarang hanya sang kepala keluarga saja yang boleh memasukinya. Senthong kiwa (kiri) biasanya digunakan sebagai tempat meletakkan benda pusaka seperti keris milik kepala keluarga. Pada dasarnya, semua rumah joglo dibangun menghadap ke selatan, filosofi orang jawa pada masa itu adalah untuk melawan terbit dan tenggelamnya matahari sehingga kondisi rumah tetap silir (sejuk).

Kota Yogyakarta, bukan hanya sekedar surga belanja bagi para wisatawan, tak hanya memiliki wisata alam yang menawan. Namun di balik itu semua, Yogyakarta memiliki sisa kebudayaan yang hingga kini masih terjaga keberadaannya. Salah satunya rumah Joglo dengan segala keunikannya. Sebagai generasi muda, kita harus mampu menjaga dan merawat peninggalan di masa lalu. Banyak hal implisit yang terkisah bila kita mau mempelajarinya. Maka mari kita lestarikan kebudayaan lokal yang masih tersisa, sebab jika bukan kita, siapa lagi?

Reporter: Ulfa, Rafani, Dina

2345 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *