Tips

Menghadapi Quarter Life Crisis

Ilustrasi: Azizah

Oleh: Andi Nur Azizah Hafsah

“Habis kuliah mau ngapain, ya?”

“Pengen, deh, punya duit sendiri, nggak minta orang tua terus.”

“Kok kayaknya hidupku gini-gini aja, ya?”

“Kenapa masalah hidup tambah banyak dan runyam begini, ya?”

“Sampe sekarang aja masih jomblo, aku nikah kapan dan siapa ya jodohnya?”

Apakah kalimat-kalimat tersebut juga pernah terpikirkan olehmu? Pernyataan dan pertanyaan seperti itu mulai sering terdengar, apalagi di usia yang sudah tidak bisa dikategorikan sebagai remaja lagi. Umumnya pikiran-pikiran tersebut akan muncul ketika seseorang mulai memasuki fase peralihan (remaja menuju dewasa), pada rentang umur 19-29 tahun atau bahkan lebih lama. Usia tersebut adalah usia produktif, usia yang sangat memungkinkan seseorang untuk mencoba banyak hal. Namun, tidak semua orang dapat melalui fase tersebut dengan optimis. Banyak muncul ketakutan, rasa tidak percaya diri, dan juga kebingungan dalam menghadapi usia peralihan. Fenomena atau keadaan seperti ini lebih dikenal dengan sebutan Quarter Life Crisis (QLC).

Ketika kamu menyadari bahwa sedang berada dalam keadaan tersebut, ada beberapa cara yang dapat kamu lakukan agar tidak larut terlalu lama.

Pertama, yang sangat perlu dilakukan adalah menentukan tujuan. What’s your goals? Mungkin akan terdengar menyebalkan. Tetapi ketika bertanya tujuan apa saja yang harus ditetapkan, jawabannya adalah semua. Segala apa yang kita lakukan baiknya memiliki tujuan, tidak dipersempit hanya pada tujuan hidup.

Contoh kecilnya, kamu memutuskan untuk berkecimpung dalam lembaga kampus dengan tujuan belajar bagaimana bekerja secara tim. Hal tersebut kamu lakukan untuk mempersiapkan diri guna bekerja yang mayoritas pekerjaannya dilakukan oleh tim. Mulailah menetapkan tujuan sedetail mungkin; kapan tujuan harus dicapai, apa saja yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, dan memperkirakan apakah tujuan tersebut memungkinkan untuk dicapai.

Ketika memperkirakan apakah sebuah tujuan memungkinkan untuk dicapai berarti harus memandang dan menilai sesuatu secara realistis. Presiden RI pertama, Soekarno, mengatakan ‘bermimpilah setinggi langit. Jika engkau terjatuh, akan jatuh di antara bintang-bintang’. Kenyataannya, jika hanya harapan dan mimpi yang digantungkan setinggi langit tetapi tidak dibarengi dengan action yang nyata, kamu tidak akan jatuh di antara gemerlapnya bintang-bintang, melainkan langsung terbentur dan hancur di atas tanah. Mengenaskan. Kita bisa menghindarkan diri dari rasa kecewa. Caranya yaitu, mampu memahami dan mengukur kemampuan pribadi dengan harapan yang ingin dicapai. 

Mulailah pahami dirimu sendiri! Memahami diri sendiri berarti mengetahui seluk beluk kemampuan dan kelemahan. Banyak hal yang bisa didapatkan ketika kita memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Dengan mengetahuinya, kita bisa memaksimalkan kekuatan yang kita miliki untuk menambah self value serta mencari cara bagaimana meminimalisir dampak buruk dari kelemahan. 

Setelah memahami diri sendiri, kamu bisa memanfaatkan waktumu untuk menjelajah berbagai hal yang ingin kamu coba. Terkadang keluar dari zona nyaman dan berani mengambil risiko akan membuat kita sadar bahwa sebenarnya kita mampu mengerjakan hal yang kita anggap sulit. Misalnya, setelah pulang kuliah biasanya kamu menghabiskan waktu dengan rebahan di kamar, dan kamu mulai merasa bosan dengan kegiatan seperti itu. Akhirnya kamu memutuskan untuk kerja part time. Keputusan tersebut bisa saja membawa pengaruh besar pada hidupmu, seperti kemampuanmu dalam membagi waktu.

Menjelajahi berbagai hal juga bisa membuat kita terjebak. Terjebak dalam membedakan mana tanggung jawab dan mana  keinginan. Orang di usia 19-29 tahun biasanya disibukkan dengan tanggung jawab kuliah dan bekerja. Ketika mulai jenuh dengan lingkaran tanggung jawab akan cenderung muncul berbagai keinginan. “Ah, kok kayaknya enakan kerja, ya. Dapat duit sendiri,” celetuk mahasiswa tingkat kritis yang mulai lelah dengan semua materi di kelas. Akhirnya kebingungan dalam memetakan apa yang harus dilakukan lebih dulu. Menyusun skala prioritas di umur yang kritis akan pencarian jati diri sangat perlu dilakukan. Urutan prioritas dibentuk dan ditentukan agar semua kegiatan dan keputusan tidak saling tumpang tindih hingga akhirnya malah tidak ada yang terlaksana dengan maksimal.

Tidak bisa dipungkiri, menghadapi QLC ini sangat menguras fokus dan emosi, sehingga tak jarang menimbulkan kegelisahan yang berkelanjutan, bahkan bisa sampai stress. Peran orang-orang di sekitar sangat dibutuhkan. Temukan support system atau pendengar yang bisa membantu dalam menghadapi masa-masa ini. Support system bisa kamu temukan di keluarga, teman, kolega, atau pasangan.

Kamu pun memiliki peran yang sama untuk orang di sekitarmu. Ketika mengetahui ada orang di sekitar kita yang sedang mengalami krisis ini juga, jadilah pendengar keluh kesahnya. Jika ingin memberi saran cobalah untuk mengajaknya berdiskusi, bukan menghakimi atau menggurui. 

Editor : Ikrar

 

124 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *