Berita Yogyakarta

Menganyam Asa Tanpa Jeda Bersama Kagem Jogja

Foto : Adim

Oleh : Adisti Nugraheni

“Untuk anak-anak yang tidak mampu, dunia ini terbuka lebar, jadi jangan takut berbuat sesuatu,” -Susi, founder Kagem Yogyakarta.

Lembaga nonprofit pendamping belajar, Rumah Belajar Kreatif Kaki Gunung Merapi (Kagem),  berdiri sejak 19 Oktober 2012, bertempat di Jalan Mandala I, Dayakan, Sardonoharjo, Kec. Ngaglik, Kab. Sleman. Berangkat dari kepedulian terhadap anak-anak yang kerap berkumpul di rumah, tidak ada sesuatu yang mereka dapatkan dari sekadar bermain. “Terbentuknya hanya itu, kita peduli dengan bermainnya anak-anak, waktu itu susah untuk baca buku, dekat dengan buku, mereka hanya bermain,” tutur Susi, founder Kagem. 

Buku yang awalnya Susi sediakan untuk anaknya dan anak teman-temannya ternyata berkembang menjadi bacaan terbuka untuk umum. Dari sinilah lahir permintaan dari masyarakat untuk mendirikan komunitas belajar bagi anak-anak sekitar yang membutuhkan. Permintaan ini pula yang menjadikan Kagem tetap bertahan tanpa jeda, dan belum pernah vakum sejak awal berdiri. “Komunitas ini jadi bukan kita bentuk karena kita ingin melakukan bla bla bla, tapi karena permintaan masyarakat untuk kita bisa mendampingi anak-anak mereka,” ujar Susi.

Kagem kini tidak sekadar menjadi wadah bagi anak-anak yang kerap berkumpul di rumah Susi. Kagem memberi manfaat yang lebih besar terhadap banyak anak-anak di kawasan sekitar kaki Gunung Merapi. Kagem memiliki sasaran khusus, “yang pasti anak-anak kurang mampu, karena di sini gratis. Yang kedua karena belajar adalah hak setiap orang, hak siapa saja, kalau dia punya uang mau belajar disini, ya silakan. Tetapi sasaran saya dan teman-teman itu antusiasme belajar anak-anak,” tambah Susi. Anak didik Kagem kurang lebih berjumlah 40 siswa setiap tahunnya. Tidak ada syarat yang sulit untuk menjadi murid di Kagem, cukup mendaftar dan mengisi data diri lengkap layaknya di lembaga belajar lain.

Susi tidak menjalankan dedikasinya sendirian, ia dibantu oleh volunteer atau disebut juga punggawa, yang berasal dari latar belakang mahasiswa dari berbagai Universitas di Yogyakarta. Saat ini Kagem memiliki sekitar 20 orang volunteer aktif yang memiliki jadwal mengajar masing-masing. Selain 20 volunteer aktif tersebut juga terdapat banyak volunteer belakang layar yang masih terus mendukung kegiatan Kagem. Dalam memilih volunteer, Susi mengatakan tidak ada seleksi khusus, “Saya lebih senang untuk mengatakan itu akan seleksi alam. Karena tidak setiap orang bisa klik dengan kegiatan sosial, karena di sini jelas tidak berbayar. Volunteer jelas kehilangan waktu, kehilangan biaya bensin dan sebagainya,” tambah Susi.

Belajar bersama merupakan rutinitas Kagem yang dilaksanakan setiap hari Selasa, Kamis, dan Minggu. Sistem belajar di Kagem tidak menggunakan kurikulum, melainkan mengikuti permintaan siswa itu sendiri. Seperti yang dikatakan Adim, salah satu punggawa di Kagem, “kami di Kagem tidak ada yang namanya kurikulum. Tidak ada yang namanya kami harus ngajar apa. Jadi kami ngajarinnya sistemnya apa yang diminta oleh adik-adik.“ 

Selain belajar bersama, Kagem juga memiliki kelas inspirasi yang dilakukan setiap hari Minggu di akhir bulan. “Kita adakan namanya kelas inspirasi. Kita kadang bekerja sama dengan pihak luar, dari Perguruan Tinggi, instansi, dari manapun untuk memberikan sesuatu disini,” tambah Susi. Tidak hanya menaruh perhatian pada anak, pelibatan orang tua juga diikutsertakan melalui pendampingan kepada wali mengenai parenting dan pola asuh. Ada juga event pendukung lain seperti kegiatan jual sembako murah yang diadakan setiap bulan puasa.

Adim menuturkan bahwa Kagem mengajarkan banyak hal. Selain pelajaran formal, anak-anak juga ditanamkan kebiasaan baik melalui contoh dan ajakan sehari-hari, seperti salam, sapa, dan kebersihan. Terciptanya anak didik yang percaya diri dan tidak merasa minder atas dirinya sendiri merupakan bayaran atas peluh yang dikeluarkan. 

Adim mengaku mendapatkan banyak hal dari bergabung dengan Kagem. Adim bertemu banyak orang, mendengarkan keluh kesah wali murid, dan mencari problem solving.  Adim memilih untuk bertahan di Kagem bukanlah tanpa alasan. “Jadi kalo aku pribadi yang membuat aku bertahan itu karena saya melihat pendidikan itu harus dibenahi, karena membenahi bangsa itu harus dari dasar tu dari pendidikanya.” ujar Adim

Meskipun Susi dan teman-teman Punggawa tidak dibayar, Kagem tentu tetap membutuhkan biaya untuk operasional. “Jelas ya, rasional jelas membutuhkan biaya. Biaya biasa kita dari teman-teman yang simpati yang peduli. Atau dari kunjungan, atau dari habis seminar, ada sisa spidol, papan tulis diserahkan,” ungkap Susi. 

Punggawa pun memegang peran dalam operasional kagem, “kami juga memiliki tugas untuk menghadapi bagaimana Kagem bisa berjalan operasionalnya. Jadi kami, Kagem, dan punggawa itu sebenarnya menghidupi kehidupan sendiri.” Selain dari simpati dan empati orang-orang di sekitar, pada event-event tertentu Kagem juga didukung oleh Pemerintah Desa. Ada juga instansi lain yang memberi beasiswa, saat ini sekitar 25 anak telah mendapat beasiswa.

Di atas tanah yang dikontrak selama sepuluh tahun ini Kagem eksis untuk terus menebar kebaikan. Dengan pondok dan tikar sederhana, konsep alam membuat anak-anak nyaman belajar dengan Kagem. Susi menuturkan masih banyak target yang ingin dicapai oleh kagem, “Harapan saya kagem ini suatu saat akan berkembang menjadi sebuah pusat belajar. Jadi kalau sekarang kita lebih fokus kepada pelajaran sekolah, tetapi ke depan masih dalam proses. Saya ingin masih menjadi tempat belajar apapun oleh siapapun,” tambah Susi. selain Susi, Adim juga berharap Kagem semakin eksis dan lahir Kagem Kagem lain di luar Yogyakarta. 

Susi berpesan, isilah masa muda dengan aktivitas yang bermanfaat bagi orang lain. Ketika masuk dalam komunitas, tanpa disadari ada banyak pengaruh positif yang akan berguna nantinya. “Kalo buat saya berbagi itu tidak perlu menunggu kita punya uang, kita punya waktu, atau menunggu kita punya ilmu. Tanpa kita sadari kita punya semua kok. Tinggal kita mau gak, ikhlas gak.” Tutup Susi.

Sementara bagi Adim, mahasiswa memiliki tanggung jawab lebih dari sekedar belajar. “Jadi peran mahasiswa saat ini bukan hanya belajar maupun demo, tapi tunjukan aksi nyatamu. terjun ke masyarakat, kenali bagaimana permasalahan di masyarakat. Dan tuntaskan disitu jangan hanya kita saling berpangku tangan dan lempar tanggung jawab.” Karena bila bukan para pemuda, para mahasiswa, siapa lagi yang meraih bangsa ini untuk kedepannya nanti?

Kagem telah mengajarkan banyak hal kepada anak didiknya, begitupun juga dengan orang lain yang terlibat di dalamnya. Ada pelajaran berharga yang terselip, Kagem bukan lembaga dari yayasan yang memiliki aliran dana yang pasti, tetapi ketika setiap orang mau bergandeng tangan, maka jalan akan selalu ada.  

Reporter : Adis, Ikrar

Editor : Ikrar

166 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *