Menempa Semangat dan Melipat Iman dalam Sunyi

Menempa Semangat dan Melipat Iman dalam Sunyi

(Foto : nuun.id)

Oleh: Ridho Haga Pratama

Mereka yang menyisihkan diri di tengah rasa frustasi pada dunia. Sunyi menjadi jalan. Ia bisa mencerahkan sekaligus menjebak. Berhenti sebagai pelarian atau memulai transformasi.

BACAEKON.COM-OASE. Membaca buku telah mendekatkan pandangan anak muda itu pada gambar hidup yang suram. Ia tinggal di negara besar, tempat sebagian terbesar muslim berkediaman. Tak terbilang negara besar itu punya kekayaan. Bertimbun-timbun uang berputar di pasar sahamnya, gagah gedung-gedungnya sudah seperti tiang sanggah langit saking tinggi dan megah ia. Namun kisah-kisah paling jaya sekalipun selalu datang berpasangan dengan sisi suram yang juga sama banyaknya. Kekayaan pembangunan selalu menjulang, mudah ditemui sekali menengadah menyisir pandang ke atas. Tapi topang tidak pernah di angkasa, ia di bumi menghujam tanah. Menengadah bertemu mewah, menapak tak ada sawah. Dalam riuh diskusi publik, perang urat saraf berlangsung antar ‘ahli pikir’ dan ‘cerdik cendikia’ tentang upaya menjawab siapa yang kafir? Siapa yang akan masuk neraka?

Kondisi seperti ini selalu menyisakan orang-orang yang jemu, lalu menyisihkan diri. Orang-orang yang menyisihkan diri memilih apa yang mereka kenal sebagai jalan sufi, jalan yang menurut mereka mirip seperti para nabi seperti Ibrahim sebelum mengenal penciptanya dan Muhammad di gua hira. Dalam kesunyianlah bagi mereka satu-satunya pembersihan diri dapat  dilakukan. Dengan menjauhkan diri dari orang lain, mereka tak perlu mengkhawatirkan ketidakmampuan menjaga mulut dari ucapan yang tidak berfaedah, ilmu yang akan membawa pada kesombongan, dan harta yang mendekatkan pada sifat kikir dan pamrih. Kesunyian itu menjaga diri dari huru-hara dunia, membebaskan dari keharusan menumpuk harta, dan kewajiban menaati regulasi negara.

Namun sunyi macam itu adalah sunyi tanpa kekuasaan. Iman yang dibentuk dari sunyi seperti itu adalah iman yang tak pernah diuji. Karena tak pernah diuji, tak ada klaim kuat dan lemah yang dapat tersemat pada imannya. Ada perbedaan mendasar antara mereka yang tak membeli karena tak merasa perlu, dengan mereka yang tak membeli karena tak punya uang. Yang pertama adalah tentang mengendalikan kemauan, ada nafsu yang terus merongrong meminta segala hasrat dipenuhi. Dalam kondisi itu, dibutuhkan kekuasaan yang mampu menjadi tali pedati bagi nafsu. Maka, ujian memperkuat pengendalian diri terjadi. Sementara yang satunya adalah tentang ketidakmampuan yang nyata. Dalam ketidakmampuan tak ada nafsu yang perlu dikendalikan, tak ada kekuatan yang diperlukan, dan akhirnya tak ada ujian yang terjadi.

Rasa frustasi pada dunia yang mengantarkan manusia pada penyisihan diri sesungguhnya menyimpan resiko. Anak muda itu teringat perkataan Buya Hamka, “sekian lamanya kaum muslimin membenci dunia dan tidak menggunakan kesempatan seperti orang lain. Lantaran itu mereka menjadi lemah. Mau berkorban tidak ada harta yang dikorbankan. Karena harta benda dunia telah dibenci. Mau berzakat, tak ada yang akan dizakatkan, karena mencari harta dikutuki. Orang lain maju dalam lapangan penghidupan sementara mereka mundur. Dan bila ada yang mencari harta benda, mereka dikatakan orang dunia.”

Bukannya anak muda itu membenci sunyi dan klaim jalan sufinya. Ia hanya menolak menjadikan sunyi sebagai tujuan akhir dan metode dominan mengamalkan iman, lalu tenggelam di dalamnya mengenyahkan kepentingan dunia. Terlebih, baginya itu bukan sunyinya Ibrahim dan Muhammad. Sunyi Ibrahim dan Muhammad adalah sunyi yang selalu bergulat dan menggugat keadaan, tidak sekedar mengutuknya. Sunyi mereka adalah sunyi yang menempa semangat dan melipat iman, bukan sekedar menghindari dialog. Menyendiri buat kedua rasul itu adalah ketenangan sebelum menerima tanggung jawab yang besar. Keduanya tidak karam oleh nikmatnya sunyi tasawuf macam itu.

Islam adalah agama yang kuat, perintah puasa mensyaratkan kekuasaan mengendalikan hawa nafsu, perintah zakat mensyaratkan kepemilikan atas harta. Keduanya tak bisa dicapai berbarengan dengan rasa benci berlebihan atas harta dan kekuasaan. Imam Nawawi pernah berkata, “menuntut berlebih harta-benda, walaupun pada yang halal, adalah siksa yang diberikan Allah kepada hati orang yang mukmin.”

Menjawab itu, Sayid Rasyid Ridha berkata, ”meminta tambahan harta yang halal itu tidaklah haram, tidaklah siksa. Kalau sekiranya meminta tambahan yang halal itu haram, dan siksa pula, mengapa dia dihalalkan? Dan bukan pula dia makruh. Jatuh hukum haramnya, jika harta yang halal menjadi tangga untuk mencapai yang haram, dan dimakruhkan jika menyebabkan perbuatan tercela. Manakah yang utama di sisi Allah, seorang kaya yang syukur dengan seorang fakir yang sabar. Adapun memasukkan kebencian berlebihan terhadap harta kekayaan di dunia itu ke dalam hati sanubari adalah salah satu penyebab lemahnya kaum muslimin dan mudah dikalahkan oleh musuhnya. Kesenangan yang menyebabkan sombong dan lalai dalam mengerjakan kewajiban dan menyebabkan suka pada yang haram.”

Kekayaan dan kekuasaan adalah godaan. Keduanya memberi manusia kemampuan untuk melakukan dosa, tapi di saat yang sama juga dibutuhkan dalam upaya transformasi sosial. Manusia dapat memilih sunyi sebagai tempat mengutuk nasib dan melindungi diri atau menyepuh bara iman untuk mempersiapkan diri. Sunyi Ibrahim dan Muhammad adalah penempaan iman, kegelisahan beratnya tanggung jawab sekaligus kemauan kuat melakukan transformasi sosial. Mungkin terlalu muluk-muluk untuk mencoba mengikuti keduanya. Tapi  anak muda selalu idealis, alami seorang pejuang. Ia mengerti benar konsekuensi pikirannya ini. Mungkin tak selamanya pemikiran ini dapat ia pertahankan dirongrong nafsu dan ujian yang membelokkan arah. Satu yang ia percaya, bukankah iman menguat seiring lulusnya diri dari ujian?

1817 Total Views 100 Views Today

Related Post

ISLAM DAN KUANTITAS

ISLAM DAN KUANTITAS

(Foto : FORUM.MERDEKA.COM) Oleh : Nabila Ramadhani Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Peperangan Badar,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *