MEMAKNAI ULANG NASIONALISME

MEMAKNAI ULANG NASIONALISME

(Sumber Foto : orijinalmens.wordpress.com)

Oleh: Ridho Haga Pratama

Bacaekon.com-Opini. Peluh keringat, teriak-teriak serak suara komando, pegal-pegal betis, dan mandi matahari selama 2 jam dalam barisan buat apa? Ritual rutin tahuanan itu kini mulai menuai tanya-tanya seperti tadi. Untuk menghormati jasa para pahlawan dan memperteguh semangat nasionalsme kiranya sudah tidak terlalu memuaskan lagi sebagai jawaban. Alih-alih berdiri pegal selama 2 jam dan pulang penuh keringat dan penat, tidakkah membaca buku biografi Mohammad Hatta jauh lebih memberikan penghayatan dan hemat energi? Yah setidak-tidaknya begitu bagiku.

Tapi mereka yang mula-mula mempertanyakan simbol akan berakhir dengan mempertanyakan semangatnya. Yang mula-mula mempertanyakan ‘untuk apa upacara’ akan melanjutkan pertanyaannya dengan ‘untuk apa nasionalisme?’ Padahal pertanyaan ‘untuk apa’ mula-mula harus mengasumsikan bahwa nasionalisme sebagi suatu paham haruslah bersifat produktif. Artinya memiliki nilai guna atau fungsional, dapat menghasilkan sesuatu. Nasionalisme sebagai sebuah paham seakan dilihat seperti mesin pabrik yang layak tidaknya ia harus dimiliki tergantung dari seberapa besar manfaat atau nilai gunanya.

Contoh yang jelas mungkin terlihat dalam film Tanah Surga Katanya yang ditulis oleh Danial Rifki. Salman dalam kisah ini dihadapkan pada dilema untuk mengambil keputusan tentang kewarganegaraannya. Ia harus memilih tetap di Indonesia, tempat lahirnya bersama kakeknya, atau menjadi seorang Malaysia bersama ayah dan adiknya yang lebih sejahtera secara ekonomi. Berlatar di daerah perbatasan, film ini menunjukkan bagaimana minimnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan di daerah perbatasan Indonesia.  Salman seakan dihadapkan pada dua pilhan: nasionalisme atau kesejahteraan.

Pertanyaan menarik muncul dari sang ayah, “buat apa kamu setia dengan pemerintah Indonesia yang nggak bisa ngasih kita apa? Kamu ikut ayah ke Malaysia nanti ayah belikan kamu macam-macam mainan.” Dari kacamata sang ayah, loyalitas pada negara berada dalam kerangka pertukaran sosial. Penting baginya mengetahui apa yang ia peroleh sebagai timbal balik jika ia memberi loyalitasnya. Dalam hal ini sang ayah mengekspektasikan kesejahteraan ekonomi atau sekurang-kurangnya pembangunan infrastruktur.

Sementara bagi sang kakek yang bersikeras tetap tinggal di Indonesia dengan segala ketidakpuasannya pada pemerintah punya alasan berbeda. Sang kakek, Hasyim namanya, adalah veteran pejuang di perbatasan Kalimantan dan Malaysia pada tahun 1965 kala kedua negara ini bersitegang. Tanah yang pernah ia perjuangkan dengan darah dan bedil di masa lalu tak rela ia tinggalkan. Ditambah kematian sang istri akibat konflik tersebut memperkukuh penolakannya pindah ke Malaysia.

Persis seperti bagaimana bangsa didefinisikan oleh Bung Karno, yaitu sekumpulan manusia yang diikat oleh sejarah yang sama, nilai historis perjuangannya yang mengikat Hasyim pada Indonesia. Seperti bagaimana Indonesia pertama kali menyatakan kemerdekaan adalah karena kesamaan pengalaman akan kolonialisme. Namun begitu, bagaimana dengan Salman sang cucu? Tidak seperti Hasyim yang pelaku sejarah, yang mengalami sejarah, Salman terlahir tidak dengan pengalaman akan konflik wilayah atau penjajahan Belanda.

Satu-satunya sejarah tentang penjajahan dan konflik wilayah bagi Salman adalah apa yang diceritakan Hasyim padanya. Di luar itu, tidak. Namun tentu saja mengetahui tidak pernah sama dengan mengalami. Salman mengetahui sejarah, Hasyim mengalami sejarah. Ada kesenjangan besar antara keduanya. Justru jikapun ada yang dialami Salman, itu adalah ketidakpuasan pada kebijakan pembangunan pemerintah pada daerah tempat tinggalnya, daerah perbatasan. Dalam hal pengalaman, Salman lebih dekat dengan ayahnya. Meski begitu, di akhir cerita, Rifki ‘memenangkan’ Indonesia di hati Salman. Akhir yang agak naif kupikir.

Pesan yang menarik kupikir adalah bagaimana kisah ini menawarkan sebuah permasalahan sebagai renungan: bagaimana generasi yang bukan pelaku sejarah ini harus menyikapi nasionalisme? Jika nasionalisme dulu digaungkan untuk menggalang persatuan melawan kolonialisme, lalu bagaimana nasionalisme dikontekskan di saat tidak satupun dari peristiwa tersebut terjadi saat ini? Bagaimana nasionalisme harus dimaknai saat ini? Atau malah yang paling sederhana, adakah terik matahari, peluh, dan pegal dalam baris upacara berarti sesuatu bagi diri kita?

1261 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *