Berita Yogyakarta

Memaknai Seni Lewat Artjog 2019

Foto : Azizah

Oleh : Gilang B. Putra

Artjog mulai dapat dikunjungi sejak tanggal 25 Juli 2019. Salah satu acara pagelaran seni terbesar di Yogyakarta ini mendapat dukungan dari banyak pihak, “event ini didukung oleh Dinas Kebudayaan, Badan Ekonomi Kreatif, dan sponsor partner lain.” Ungkap Ditya Sarasi, selaku wakil direktur Artjog 2019. Acara yang direalisasikan di Jogja National Museum Yogyakarta ini mengusung tema “Arts in Common”. Agung Hujatnika, sebagai salah kurator, memiliki peran penting dalam perancangan konsep pameran, penataan ruang, serta penyeleksian seniman yang masuk dalam event. Ia menjelaskan bahwa tema artjog yang sudah berjalan di tahun ke-12 ini merupakan tema besar yang akan  dipecah dalam tiga penyelenggaraan, yaitu pada tahun 2019, 2020, dan 2021. “Dan tahun ini edisi pertamanya berfokus pada ruang atau common space.” Jelasnya.

Beberapa konsep dan program berbeda berhasil dilaksanakan pada artjog 2019. Contoh program baru yang dilaksanakan bernama “Leksikon”. Agung menuturkan bahwa program tersebut masuk ke dalam sektor edukasi yang sudah terealisasi di tanggal 9-10 Agustus. Leksikon merupakan program dimana seniman berbicara tentang karir mereka dalam bentuk performatif, semi teatrikal atau eksperimental, bukan dalam bentuk ceramah. Berbeda dengan tahun lalu, konsep festival yang diangkat menjadi menarik dengan proyek besar yang dibuat oleh lima orang seniman. “Yang spesial proyek pertama, dua kubah putih itu dibuat dua seniman yaitu Handi Wirawan Saputra dan Tengku Hendrik, terowongan bambu itu oleh Sunaryo , di lantai satu dalam ruangan piramida gerilya kolaborasi dari banyak seniman, dan lantai tiga itu ada Riri Riza. Bisa dibilang ini proyek utama tapi tidak mengecilkan seniman lain.“ Tutur Agung.

Acara yang dibuka oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani, menjadikan pameran sebagai sorotan utama dari acara. Pameran seni rupa menjadi pusat gravitasi dari seni yang lain. Kurator mengungkapkan bahwa dalam pusat gravitasi terdapat satelit, dimana satelitnya  menyatu dan sinkron dengan pameran seni lain. Yang dimaksud satelit yaitu musik, teater di panggung, designer shop dan designer corner, serta program edukasi melalui meet the artist. Hal tersebut juga diharapkan dapat menambah kemeriahan di Artjog 2019 ini.

Hani Santana, pengunjung asal Cilacap yang sekaligus pelukis juga mengapresiasi acara tahunan ini. “Seru banget dan atmosfernya luar biasa, semua ikut andil besar untuk mensukseskan acara ini, seluruh seniman-seniman dan bahkan seluruh genre seni ada di sini.” Ungkapnya. Ia juga berharap di Indonesia terdapat tanggal yang dijadikan hari seni rupa dan menjadi agenda penting negara. Menurut Hani, kesenian di Indonesia memiliki geliat yang luar biasa. Adi Rahmatullah, salah satu pengunjung asal Bandung yang baru pertama kali mengunjungi artjog, juga mengungkapkan kekagumannya atas antusiasme masyarakat yang membludak. “Mungkin baru di artjog yang kayak gini, untuk pameran seni ya, antusiasme masyarakat dahsyat sekali” Ucapnya.

Agung memaparkan tema besar “Arts in Common” yang pada edisi pertama difokuskan pada “Common Space”  memiliki makna hubungan ekologi seperti hubungan manusia dengan alam, manusia dengan manusia yang berubah karena perubahan alam, dan seterusnya. “Harapannya pesan festival bisa sampai ke orang luar, seluasnya pesannya bisa sampai.” Harap Agung. Selain itu, disisa waktu menuju penutupan artjog pada tanggal 25 Agustus 2019, masyarakat bisa datang dan melihat langsung karya-karya yang ada di artjog supaya dapat mendalami makna karya secara langsung. 

Reporter : Azizah, Gilang, Taufan, Ikrar

Editor : Azizah

229 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *