Berita

Memahami Keadaan dan Kesehatan Alat Reproduksi Perempuan

Foto : Dokumentasi Srikandi UII

Narasi : Retno Puspito Sari

Bacaekon.com-Dilansir melalui Asean Post, tingkat kelahiran remaja menurut WHO (2018) di Indonesia berada pada tingkat 40 kelahiran per 1000 wanita dengan usia 15 hingga 19 tahun. Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., SpOG(K)., PhD dalam Webinar bertajuk Membangun Pemahaman Kesehatan Seksual dan Reproduksi Sedari Dini (29/5) mengungkapkan angka tersebut cukup tinggi. “Menurut kesehatan medis, hamil usia kurang dari 20 tahun maka itu akan memanen masalah-masalah ke depan,” tutur Ova.

Hal ini menjadikan topik terkait kesehatan reproduksi terutama untuk remaja menjadi penting karena kaitannya dengan risiko dan konsekuensi baik jangka pendek maupun panjang. Tak hanya itu remaja juga merupakan salah satu sumber daya potensial di masa depan. Ova mengungkapkan bahwa risiko tersebut mengancam remaja di manapun yang mempunyai konsekuensi medis, psikologis, sosial, dan ekonomi. 

Adapun risiko kesehatan reproduksi yang mengancam antara lain kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD). “Secara medik, kehamilan remaja yang di bawah 16 tahun akan menimbulkan persalinan yang macet karena panggulnya masih belum berkembang dengan baik. Kemudian kehamilan pertama bagi usia-usia remaja juga akan cenderung menimbulkan kelainan hipertensi,” ujar Ova. 

Ova juga menambahkan Pre-eclampsia cenderung beresiko pada yang hamil berusia remaja. Pre-eclampsia adalah hipertensi pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah ≥140/90 mmHg setelah umur kehamilan 20 minggu, disertai dengan proteinuria (adanya protein dalam urine)  ≥ 300 mg/24 jam (Nugroho, 2012: 1 dalam Saraswati dan Mardiana, 2016). Tentunya ini akan menimbulkan problema seperti pendarahan, eklampsia, dan menimbulkan masalah yang mengancam ibu dan bayinya.

Dari kehamilan yang tidak diinginkan tadi memungkinan munculnya risiko lain yakni, unsafe abortion. Unsafe abortion menurut WHO didefinisikan sebagai prosedur untuk mengakhiri kehamilan yang dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki keterampilan yang diperlukan atau berada di lingkungan yang tidak sesuai dengan standar medis minimal, atau keduanya. Minum jamu dan dipijat menjadi salah satu contohnya.

Ova menambahkan kehamilan terlalu dini kemungkinan menutup orang tersebut untuk sekolah atau bekerja secara optimal. Kemudian risiko infeksi menular seksual (IMS) yang di dalamnya termasuk HIV/AIDS dan kekerasan seksual. 

Tak hanya risiko yang mengancam, terdapat faktor lain yang menyebabkan informasi terkait kesehatan reproduksi dibutuhkan. Ova menuturkan usia, status pernikahan, dan norma gender juga membutuhkan informasi yang berbeda. “Misalnya dalam norma gender itu kalau perempuan ya yang harus KB. kalau seperti itu yang harus mencari informasi tentang KB ya perempuan, itu urusannya perempuan, laki-laki tidak perlu,” tutur Ova.

Masalah reproduksi menjadi semakin serius mengingat masa reproduksi seseorang, sebelum nantinya menikah, semakin panjang. Ova memaparkan jika dilihat di akhir abad 18, seseorang rata-rata mengalami menarche atau menstruasi pertama kali pada usia 14,8 tahun dan menikah rata-rata 22 tahun. “Ada masa 7,2 tahun itu memang orang sudah mampu hamil tetapi ia tidak melakukan hubungan seks, secara norma begitu,” tutur Ova. 

Satu abad kemudian, akhir abad 19 menjelang 20, masa tersebut menjadi semakin lebar menjadi 11,8 tahun (rata-rata menarche pada usia 12,5 tahun dan menikah pada usia 24,3 tahun). Hal ini berarti tantangan menjadi besar untuk menjaga agar masa tersebut (re-11,8 tahun) tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Mengingat hal tersebut, pendidikan seks menjadi penting untuk diketahui. Namun, di Indonesia hal tersebut masih menjadi tabu untuk dibahas. Dilansir dari Kompas.com, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional Hasto Wardoyo menuturkan adanya pandangan oleh sebagian besar masyarakat bahwa pendidikan seksual adalah pengenalan terhadap hubungan laki-laki dan perempuan. Dikutip dari Kompas.com, dr Sandeep Nanwani MMSc dari United Nations Population Fund (UNFPA) mengatakan bahwa seharusnya pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi dipahami oleh semua orang tidak hanya kalangan medis saja.

Program pendidikan seks akan efektif jika mengakomodasi pemberian informasi dasar dan akurat, berfokus pada penurunan perilaku seksual yang berisiko, dan memperkuat nilai individu dan kelompok terhadap hubungan tanpa pengaman.

Reporter : Retno Puspito Sari

Editor : Ikrar Aruming Wilujeng

82 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *