MATA AIR

MATA AIR

(Dok. uii.ac.id)

Oleh: A.M. Zulfikar Taufik*

                Bacaekon.com-OPINI. Tulisan ini saya tujukan kepada adik-adik mahasiswaku. Kalian mungkin tengah asyik-asyiknya belajar mengejar IPK (Indeks Prestasi Kumulatif-red) dan menurut standar nilai kalian masing-masing. Jika seperti itu maka teruskanlah. Kalian adalah calon penerus bangsa pelanjut tongkat estafet kepemimpinan negeri ini selanjutnya. Ada dua kata yang ingin saya sampaikan yakni, “Mata” dan “Air”.

                Jadilah mata air yang jika mengalir panjang dan seterusnya akan memberikan tumpahan bagi pohon-pohon dan tanaman yang ada di sekitar, di mana mata air itu mengalir. Akan tetapi ada satu yang harus kalian ingat adalah setiap mata air muncul dari tanah yang bergolak. Air itu akan terus naik menembus setiap butiran tanah yang menghalangi.

                Hal ini menjadi analogi bahwa kalian ada untuk belajar dan terus belajar demi mencapai target kalian. Namun yang harus kalian ingat kembali adalah mana yang lebih besar kebutuhan kalian sendiri atau kebutuhan orang lain. Atau yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah kalian belajar untuk siapa? Kalian mencari ilmu untuk siapa? Ataukah kalian hanya mengejar IPK yang bahkan bentuknya kalian tidak tahu seperti apa?

                Yang perlu kalian ingat sekarang adalah IPK hanyalah batu loncatan yang perlu kalian lewati untuk mencapai tujuan yang lebih besar. IPK hanyalah objek yang menghalang dan harus kalian lawan. Seperti halnya logika dasar pesawat terbang yang melawan angin. Sebuah pesawat tidak akan terbang tanpa adanya dorongan untuk melawan angin yang menghembus di bawah sayap pesawat itu sendiri.

                Ya! Kalian harus melawan hal-hal yang menghadang agar kalian dapat terbang atau seperti air yang melawan butiran tanah untuk menembus dan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Kemudian gunakalah ilmu kalian sebaik-baiknya. Seperti air yang mengalir ke tempat yang rendah dan pesawat yang terbang tinggi. Capailah ilmu setinggi pesawat yang terbang kemudian alirkanlah ke tempat yang rendah seperti mata air yang mengalirkan kesejukan airnya.

Fase yang kalian hadapi adalah fase di mana kalian masih belajar mencari celah untuk menembus butiran tanah untuk tembus ke permukaan. Akan tetapi ada yang harus kalian ingat adalah tidak ada yang lebih puitis dari membicarakan kebenaran. Kalian belajarlah untuk meneriakkan kebenaran yang menjadi hal langka. Banyak hal yang belum kalian lihat selama berkuliah di kampus tercinta ini. Ya, kampus tercinta, kita yang mencintai kampus ini seperti slogan yang di bawa oleh tim Marcomm #BanggaMenjadiMahasiswaUII dan kampus yang mencinta. Kampus ini sangat mencinta dengan apa yang dinamakan dinamika. Baik itu di bawah jajaran KM (Keluarga Mahasiswa) UII maupun di jajaran Badan Wakaf, Rektorat hingga Dekanat.

                Jika adik-adik menganggap dinamika ini seperti “Politik Tai Kucing” seperti yang ada pada kutipan film “Gie”, saya hanya bisa berharap buanglah jauh-jauh stigma yang kalian bangun itu. Sesungguhnya keberadaan konflik itu menandakan ada hubungan dengan kita. Sama halnya seperti kalian memiliki teman, pacar bahkan orangtua kita sendiri pun pasti ada konflik yang terjadi dan itulah salah satu syarat kita menjalin sebuah hubungan.

                Ingatlah untuk selalu menjadi Insan Ulil Albab yang selalu berpikir berkelahi dengan logika kalian karena sejatinya beban yang ada pada penduhulu akan kalian tanggung nantinya. Dan yang terakhir untuk belajar mengejar IPK kalian mesti belajar yang namanya bersabar, seperti kisah Nabi Musa yang belajar kepada Nabi Khidir bahwa apa yang sejatinya kita lihat buruk tidak selamanya buruk. Jika nilai kalian nantinya tidak memuaskan cukup bersabar dan bersyukur. Selamat Belajar… Good Luck for the test…

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Menejemen angkatan 2014

10997 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *