Berita Kampus

Manajemen Aksi: Simulasi Nyata Penyambung Lidah Rakyat

Foto : Amellya Candra

Oleh: Salwa Nida’ul Mufidah

“Jadilah seorang mahasiswa yang aktivis, akademis, dan romantis,” Sultan Salahudin.

Bacaekon.com-Pesona Ta’aruf Universitas Islam Indonesia (Pesta UII) telah dilaksanakan pada tanggal 9-12 September 2020. Kegiatan ini diselenggarakan melalui berbagai platform media sosial. Pandemi menyebabkan seluruh kegiatan kampus harus dilakukan secara daring, tak terkecuali ospek. Setiap tahunnya dalam Pesta UII terdapat agenda simulasi aksi yang diberikan kepada mahasiswa baru saat ospek di tingkat universitas. Tidak hanya materi saja yang diberikan. Namun juga menjalankan simulasi aksi tersebut secara nyata. 

Sayangnya, pada tahun ini hal tersebut tidak bisa dilakukan. Sebagai gantinya, panitia memberikan materi webinar tentang manajemen aksi bertajuk “Perkenalan Lembaga dan Manajemen Aksi Pesona Ta’aruf UII 2020” secara langsung di kanal Youtube Pesona Ta’aruf UII. Ada beberapa pembicara pada webinar kali ini, yaitu Bagus Muhammad sebagai Kepala Bidang Advokasi di Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) UII, Sultan Salahudin sebagai Kepala Bidang Kajian Strategis LEM UII, Muhammad Maulana Bimasakti sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM), dan Pancar Setiabudi I. M. sebagai Ketua LEM UII.

Webinar dibuka dengan mengingat kilas balik sejarah pada era Soeharto oleh Bagus Muhammad. Jika dilihat secara historis, pada tahun 1998 merupakan tahun di mana reformasi terbentuk. Mahasiswa saat itu benar-benar menjadi agen of change, pembawa perubahan dan penyambung lidah masyarakat yang menuntut keadilan pada era Soeharto. 

Materi manajemen aksi didasarkan pada suatu kesadaran nyata bahwa aksi dan mahasiswa itu adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Manajemen berarti mengendalikan sedangkan aksi adalah gerakan. Jika keduanya dipisahkan akan menimbulkan ketakutan-ketakutan dalam massa aksi itu sendiri karena tidak ada kesistematisan dalam aksi yang akan memungkinkan terjadi kericuhan. 

Sultan Salahudin mengatakan bahwa ada beberapa hal yang yang perlu diperhatikan sebelum melakukan manajemen aksi. Yang pertama, mahasiswa harus mengerti apa makna dari aksi tersebut. Karena output yang dihasilkan oleh aksi tidak melulu tentang demonstrasi secara nyata. Misalnya dengan menyuarakan dan mengkritisi isu-isu pemerintah di media sosial. Hal itu termasuk ke dalam gerakan-gerakan yang memang bisa terafiliasi membawa kepentingan masyarakat secara luas. 

Sebelum melakukan aksi, mahasiswa pun perlu memahami ideologi yang akan dibawakan, gerakan apa yang bisa kategorikan menjadi gerakan yang sesuai, dan output yang akan dihasilkan. Gerakan demonstrasi memang diperlukan mengingat mahasiswalah yang menjadi pionir masyarakat.  “Di situlah tanggung jawab kalian untuk menyadarkan masyarakat yang memang tidak menyadari jika ada suatu kebatilan atau tindakan yang zalim di depan matanya,” ungkap Sultan. 

Tak hanya itu, sebagai mahasiswa harus membangun kesadaran sosial. Dalam artian bahwa aksi mahasiswa harus sama-sama menyadarkan kesadaran sosial antara masyarakat dan mahasiswa itu sendiri. Diharapkan nantinya isu atau hal yang dikritisi bisa dilakukan secara maksimal. Adapun cara membangun kesadaran sosial yaitu dengan melakukan edukasi kepada mahasiswa maupun masyarakat tentang kebijakan-kebijakan yang bisa dikritisi secara seksama dan melakukan kajian terhadap isu-isu yang akan dikawal. Penggunaan sosial media ataupun propaganda dirasa perlu agar memberikan pemahaman lebih luas. 

Kepala Bidang Kajian Strategis LEM UII tersebut juga memaparkan jika setelah melakukan edukasi perlu ditindak lanjuti dengan koordinasi atau konsolidasi massa yang baik. yaitu hal-hal apa saja yang harus dirumuskan, isu-isu apa yang harus dibawa, dan teknis di lapangan. Kemudian barulah melakukan seruan sembari memberikan pemahaman-pemahaman kepada masyarakat secara luas. 

Di tengah-tengah penyampaian materi, Sultan memberikan tiga trik untuk menawarkan konsep rekayasa sosial atau mengubah paradigma di lingkungan masyarakat. Yang pertama memiliki basic integritas, kedua memiliki basic intelektual yang mumpuni, dan yang ketiga harus memiliki daya sensor yang kuat yaitu sensitivitas terhadap lingkungan. Mahasiswa bisa memberikan suatu pengertian tersendiri terhadap apa yang tampak oleh mata. 

“Jadilah seorang mahasiswa yang aktivis, akademis, dan romantis,” imbuh Sultan. Aktivis, berani menyampaikan suatu kebenaran di hadapan lingkungan. Akademis, memiliki tanggung jawab terhadap akademi. Dan romantisme yang berarti memiliki jiwa yang sadar akan lingkungan. 

Melihat kondisi saat ini, manajemen aksi masih memiliki permasalahan dilematis. Ada beberapa mahasiswa yang turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi hanya ikut-ikutan saja. Tanpa tahu tentang isu yang dibawakan. “Hari ini, ketika kita bicara tentang manajemen aksi, belum tentu ia paham akan konsepsi yang baik. Turun ke lapangan belum tentu paham tentang isu yang dibawa,” ungkap Pancar.

Secara teoritis banyak literasi-literasi yang menggambarkan eskalasi gerakan yang baik. Banyak isu-isu dari tahun kemarin yang patut mahasiswa kritisi seperti  isu KPK, Omnibus Law, atau dirampasnya hak-hak petani. Hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa untuk mengawal isu-isu tersebut hingga tuntas. 

Sekjen DPM, Muhammad Maulana Bimasakti mengatakan bahwa peran DPM adalah melakukan konsolidasi aksi dengan Keluarga Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (KM UII) yang dihadiri oleh seluruh keluarga besar UII ataupun perwakilan dari LEM, DPM, atau lembaga kemahasiswaan tingkat fakultas. Di dalam strukturalis DPM, Komisi Dua mempunyai fungsi aksi yang bekerjasama dengan lembaga untuk merumuskan konsep strategi dan taktis setelah berada di lapangan. Jadi, hal-hal yang dikonsolidasikan bisa dieksekusi bersama. 

Tak lupa, mahasiswa harus memiliki gerakan intelektual kolektif yang berbasis kepada moralitas. “Gerakan mahasiswa yang dibangun adalah gerakan mahasiswa yang kolektif yang berbasis pada moralitas karena moralnya sebagai mahasiswa mengkritisi kebijakan dari pemerintahan,” ungkap Bima. Mahasiswa bergerak karena diberi kesempatan untuk menimba ilmu di perguruan tinggi. Kemudian dengan privilege itu mampu menyalurkan apa saja yang tidak baik atau perlu dikritisi untuk mencapai Indonesia yang lebih baik. 

Dari webinar Manajemen Aksi tersebut dapat disimpulkan bahwa UII memiliki peran yang sangat  besar dalam hal perubahan. Di mana jiwa UII itu sendiri adalah mahasiswanya dan mahasiswa harus membawa perubahan. Sebagai mahasiswa, tidak hanya menyuarakan tetapi harus memiliki basic intelektual dan perlunya sensitivitas atau kepekaan terhadap perubahan.

Di pundak seorang mahasiswa, kita memiliki tanggung jawab untuk menjadi penyambung lidah masyarakat. 

Reporter : Salwa

Editor : Retno

286 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *