Letter To Sweet Coffee

Letter To Sweet Coffee

Oleh: A. Gunawan

Judul               : Surat Untuk Kopi Manis (Letter To Sweet Coffee)

Penulis             : Muhammad Najib Murobbi

Penerbit           : Penulis Muda Publisher

Tahun Terbit    : 2016

Halaman          : 266 halaman

            “Jika kita berjodoh nanti, mau ke barat arahmu bertapak, dan mau ke timur arahku melangkah. Kita akan tetap bertemu di lain waktu”

            BACAEKON.COM-REKOMENDASI. Butuh kesadaran pada tingkatan yang tinggi untuk mencapai keyakinan tersebut. Tidak banyak orang yang mampu berpikir seperti itu. Bukan pula berarti tidak ada orang yang mampu mencapai keyakinan itu.

            Kisah kasih sepasang santri yang saling percaya bahwa cinta lebih tinggi derajatnya dibandingkan nafsu belaka. Ahmad Zain dan Annisa Wimala mengenyam pendidikan di pondok pesantren yang sama hingga mereka lulus dari pondok pesantren itu. Meskipun mereka dalam lingkungan pondok pesantren, apa yang mereka rasakan satu sama lain perihal perasaan tidaklah berbeda dengan kebanyakan orang di luar lingkungan pesantren. Karena cinta tidak mengenal lingkup ruang dan waktu. Lika-liku yang mereka hadapi pun dapat pula dirasakan oleh kita.

Novel ini akan membawa anda hanyut merasakan atmosfer kehidupan di pondok pesantren, khususnya bagi anda yang belum pernah merasakan menjadi santri, setidaknya novel ini akan memberi gambaran tersebut. Kisah kasih ala santri yang kadang jarang terungkap menjadi hal yang menarik mana kala penulis mampu mengaduk perasaan pembaca dengan alur yang tak mudah untuk ditebak. Penggunaan diksi yang ringan dalam novel ini membuatnya tidak sulit untuk dibaca serta dipahami ceritanya.

Bagi anda yang menyukai kisah kasih dengan alur cerita yang tidak melankolis mungkin novel ini akan membosankan untuk dibaca karena penulis menghadirkan karakter yang melankolis dengan media komunikasi berupa surat yang saling dikirim dan dibalas. Wajar saja jika penulis memilih menggunakan surat-menyurat karena memang budaya di pondok pesantren tidak mengizinkan penggunaan ponsel sebagai media komunikasi. Penggunaan surat-menyurat tersebut juga mendambah kedalaman cerita dalam novel ini. Jika sebelumnya anda pernah membaca novel karya Leila S. Chudori berjudul “Pulang”, kurang lebih seperti itu lah gambaran penggunaan surat-menyurat yang ada dalam novel ini. Sesekali penulis menggunakan perumpaan teh dan kopi untuk menggantikan posisi dua tokoh utama, sekaligus menjelaskan apa makna dari judul novel ini.

Cetakan pertama dari novel ini tidak saya sarankan untuk anda baca karena pada cetakan pertama, masih banyak kesalahan yang dilakukan oleh penulis berupa penggunaan diksi yang keliru, tanda baca yang kurang tepat, kover yang terkesan belum matang, hingga kesalahan percetakan yang membuat seakan novel ini belum melewati proses penyuntingan terlebih dahulu. Singkat kata, pada cetakan pertama novel ini belum layak untuk dibaca. Namun setelah terbit cetakan kedua dari novel ini, kesalahan-kesalahan itu semua tidak lagi anda temukan pada novel ini. Wajar saja kalau hal itu terjadi karena novel ini merupakan karya novel pertama yang dibuat oleh penulis, jadi penulis masih minim pengalaman pada karya pertama ini. Bahkan anda akan menemukan fakta inkonsistensi dari penulis pada judul novel cetakan pertama yang menggunakan bahasa Indonesia dan pada cetakan kedua penulis menggunakan bahasa inggris pada judul novel ini, belum jelas apa maksud dari digantinya bahasa pada judul novel tersebut.

Lalu setelah sekian lama Ahmad Zain dan Annisa Wimala tidak bertemu karena alasan tertentu, dipenghujung novel ini anda akan mengetahui akhir dari kisahnya.

 

31570 Total Views 5 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *