LATIHAN ADU JOTOS

LATIHAN ADU JOTOS

(Foto : Dok. Ekonomika)

Oleh: Restin Septiana

Salah satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah nurani,” Harper Lee dalam bukunya To Kill a Mockingbird. 

Bacaekon.com-Opini. Roman temaram hampir selalu menimbulkan kewaspadaan tersendiri. Sebab aktivitas yang dilakukan di bawah redup cahaya itu selalu memunculkan tanda tanya. Geliat perilakunya hanya samar-samar, seperti membaca bayangan. Pun demikian ketika sumpah mahasiswa kembali dilantangkan di lapangan parkir Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII). Bukan hanya getar suaranya, tapi juga lapangan parkir khusus mobil yang memiliki gerbang tersendiri itu meski masih berada di dalam area FE UII menutup rapat pagarnya. Entah mengapa dengung sumpah mahasiswa itu begitu terasa dingin dan jauh.

Seperti halnya tahun lalu (2015), tahun ini pun ospek fakultas hadir menyambut mahasiswa barunya. Lantas seperti halnya tahun lalu pula, perkelahian yang diduga antar mahasiswa itu pun terulang kembali, menutup malam pelaksanaan ospek fakultas. Seperti de javu memang, seolah orang-orang yang berlalu-lalang mampu menimbulkan pola yang yang sebenarnya diharapkan tidak terjadi.

Ospek fakultas itu sudah melakukan upacara penutupan atau closing ceremony pada sore hari waktu setempat. Lantas sejenak seusai penutupan saya berbincang dengan orang nomor satu di FE UII, tanpa permulaan yang menyinggung perkelahian (entah antar siapa) usai pelaksanaan ospek universitas pun dimulai. Sembari tertawa bersama, FE UII 1 itu hanya berkomentar, “ya latihan adu jotos saja itu. ” Namun belum ada lima jam dari percakapan singkat itu, sekitar 40an orang berkerumun di gerbang FE UII. “Adu jotos,” katanya.

Ironisnya, terdapat sejumlah wali mahasiswa yang tengah menjemput mahasiswa baru dan berada di area kampus. Bahkan sekitar tiga orang wali mahasiswa dan mahasiswa baru tersebut terjebak di tempat parkir khusus dosen di dalam gerbang masuk. Tentu saja mereka kebingungan, ya wajar saja bukan? Hari-hari pertama anak atau kerabat atau teman mereka memasuki dunia mahasiswa berakhir dengan suguhan seperti itu. Hanya untuk mencairkan suasana kami berbincang. Ya, entah mereka sungguh khawatir atau hanya menunjukan raut wajah tegar seolah-olah perkelahian mahasiswa sudah menjadi suatu hal yang wajar bagi mereka.

Lagi pula, bukankah belum ada satu minggu dari penutupan ospek universitas yang banyak membicarakan tentang organisasi, mahasiswa, dan keluarga mahasiswa. Seolah itu semua hanya isapan jempol yang manis sekedar untuk diperdengarkan kepada mahasiswa baru. Entah apa yang melatarbelakangi kalimat-kalimat indah itu sirna, toh “adu jotos” tetap terjadi di area kampus. Tahun ke tahun berlalu, pun demikian dengan mahasiswanya yang silih berganti. Lantas kenapa masih mewarisi hal yang sama? Ataukah dendam antar generasi harus terus berlanjut? Apakah saya harus membenci orang yang teman saya benci?

Tidak bisa rasanya hanya sekedar duduk bersama, atau barangkali kita perlu belajar dari kasus Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)? Bekukan dulu, jernihkan permasalahan, bangun kembali? Atau kita kembalikan pada moral masing-masing? Ah, klise sekali nampaknya. Barangkali kita perlu kembali ke regulasi awal, sedang seluruh elemen mahasiswa dan kampus memikirkan kembali urgensi dari pelaksanaan ospek ini.

Lelah, semuanya juga lelah. Tidak cukup 144 sks, skripsi, KKN, dan kompre selalu terngiang di benak ini. Ditambah lagi pesantren satu bulan yang resmi diberlakukan pada tahun ajaran baru ini. Belum lagi matrikulasi akibat penyesuaian dari kurikulum baru. Wah, mahasiswa, engkau harus tangguh mahasiswa.

1786 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *