KUSABI

KUSABI

(Foto : www.mldspot.com)

By: Lita Rohma Dewi

Bacaekon.com-Ekspresi. Aku terduduk merenung di tepi pantai menatap lautan yang berubah warna menjadi orange karena senja. Angin sore membelaiku lembut seolah ingin menghiburku. Suara debur ombak begitu memanjakan telinga seolah mengatakan “Semua akan baik-baik saja”. Tapi apakah semuanya akan benar-benar baik? Semua yang telah terjadi, semua yang telah berlalu, akankah semua itu akan bisa diulang dan diperbaiki?

Aku menghembuskan napas pendek sembari menenggelamkan wajahku pada lipatan tanganku. Rasanya sakit. Sangat sakit. Bagaimana mungkin aku bisa merasakan rasa sakit yang mencengkram ini? Bagaimana bisa aku mengalami kejadian yang begitu menyakitkan ini? Bagaimana…..

“Sayra…”

Aku mengangkat wajahku begitu mendengar suara yang cukup familiar di telingaku memanggil. Kini, seorang laki-laki tinggi berkacamata berdiri di depanku dengan tangan yang terulur padaku. Dia, sahabatku, Kiran. Orang yang selama ini selalu berada di sisiku dalam berbagai keadaanku.

“…Udah sore. Ayo pulang.”

Aku sedikit mengangkat sudut bibirku, memberikan senyum tipis lalu menerima uluran tangannya. Dan kami pun akhirnya meninggalkan pantai dengan menggunakan mobil Kiran.

Tidak ada sepatah katapun yang keluar selama perjalanan pulang. Aku tidak berminat memulai pembicaraan dan sepertinya Kiran juga bingung harus berbicara apa. Akhirnya Kiran menyalakan musik di mobilnya. Keheningnya pun terpecahkan oleh suara musik. Tak lama kemudian, Kiran juga mulai buka suara.

“Gimana persiapan kontesnya?” tanya Kiran to the point.

“Nol,” Jawabku singkat.

Ya, sejujurnya, aku memang sedang mengikuti sebuah kontes bernyanyi yang diadakan Universitas. Dan sebenanya aku juga telah menyiapkan semuanya. Namun, semua hancur seketika saat orang yang kucintai akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Kejadian itu jelas berdampak buruk pada semuanya. Pada kehidupan pribadiku dan kontesku. Aku sempat depresi sehingga Kiran akhirnya mengajakku untuk berlibur di beberapa tempat agar aku bisa melupakan semua kejadian menyakitkan itu dan kembali stabil. Namun, tetap saja. Rasanya separuh hidupku sudah mati. Tidak ada lagi apapun yang bisa kurasakan saat ini.

“Ayolah Say. Aku tahu kamu udah nyiapin lagu. Kontesnya tinggal 3 hari lagi lho.”

 “Aku udah nggak bisa nyanyiin lagu itu.” Ya, karena lagu yang telah kusiapkan adalah lagu yang bercerita tentang cinta. Sedangkan saat ini aku sedang bermusuhan dengan cinta. Lagu itu bisa kunyanyikan tapi tidak akan memiliki “kekuatan” apapun.

“Cari baru?”

“Belum dapat.”

Dan sunyi pun kembali menyelimuti keadaan mobil. Kurasa Kiran sudah mulai menyerah dan aku pun sudah mulai malas membahas apapun. Karena suasana yang cukup sunyi, akhirnya aku menyalakan musik di mobil. Lagu demi lagu berganti begitu saja. Namun, satu lagu telah berhasil menyedot perhatianku. Lagu Jepang, mellow, tapi rasanya seperti memiliki aura tersendiri.

“Lagu apa ini?” tanyaku langsung

Kira menoleh padaku, “Oh, judulnya Kusabi. Lagu Jepang yang cukup keren menurutku. Ceritanya tentang cinta, janji dan patah hati. Kenapa?”

“Siapin lagu ini. Aku mau nyanyi lagu ini aja buat kontes lusa.”

***

Akhirnya hari ini pun tiba. Hari di mana aku harus tampil di depan ratusan orang untuk kompetisi yang sudah tiada artinya lagi bagiku. Namun, aku tidak ingin mengecewakan Kiran. Bagaimanapun, Kiranlah yang sangat mengharapkan aku ikut kompetisi ini. Apapun yang terjadi selanjutnya, entah menang atau kalah, aku sudah tidak terlalu peduli lagi.

Dan di sinilah aku. Duduk di belakang piano, di bawah sorot lampu. Menekan tuts piano perlahan, membuat alunan musik untuk memulai laguku. Kusabi. Sebuah lagu yang benar-benar mewakili apa yang kurasakan saat ini. Kupejamkan mataku,

On the road with no people after last train, there is one shadow of the two of us. Never ever, never ever meet again, we promised each other in the summer night. I laughed with you only when we kept together, I believed the day would continue. I prefer to be a shadow with you than to begin hating you. The last kiss stings by just touching. Before my loving feelings flood and break you. Please hold me with your arms, I want to be doing this in even the slightest seconds. I can’t have a quarrel, a jealous, a grance of your face any more

Kuresapi lagu ini dan hatiku mulai bergetar.

I wonder why human make a failing promise easily. We know there’s nothing that can keep someone close anywhere. The last words sting because they are so gentle. The two of us had overknown each other. I want to hold childish you tight in my chest and stroke your hair. I can’t laugh at your side, sleep at your side, even call your name any more

The thing that can keep someone close is not promise. Promises may be placebos… Please hold me with your arms, I want to be doing this in even the slightest seconds. I can’t have a quarrel, a jealous, a grance of your face any more. Even if I want to meet you, even if I can’t breathe, I promise I won’t call you. I promise I won’t call you

“Arigatou…. Soshite…. Sayonara”

Dan akhirnya air matakupun menetes, membawa rasa sedih, kecewa dan sakit yang kurasakan.

 

4814 Total Views 5 Views Today

Related Post

GULANA HARAP SEBUAH CITA

GULANA HARAP SEBUAH CITA

(Sumber Foto : ricoveryheart.blogspot.com) Oleh: Phalini Herman Bacaekon.com-Ekspresi. Bertemu tengah malam sendu lagi Dilanda rindu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *