Berita Kampus

Kurangnya Antusias Pemilwa, Salah Siapa?

Foto: pixabay.com

Oleh: Nahda Aprilia*

Pemilihan Wakil Mahasiswa (Pemilwa) KM UII telah usai. Pemilwa adalah ajang pergantian kepengurusan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM)  periode berikutnya dan juga sebagai pembelajaran politik bagi mahasiswa, di mana kita mengimplementasikan demokrasi dan asas luber jurdil. Diawali dengan kampanye mimbar yang diadakan pada tanggal 10-11 Desember 2019 dan dilanjutkan dengan debat terbuka pada tanggal 12-13 Desember 2019 telah terlaksana.

Sesuai dengan timeline yang dikeluarkan oleh KPU KM UII, awalnya Pemilwa KM UII dijadwalkan pada tanggal 16-18 Desember 2019. Namun, dikarenakan terdapat beberapa kesalahan teknis dan ketidaksiapan panitia, seperti regulasi peminjaman barang, keterlambatan pencetakan banner, dan lain-lain pemilihan suara diundur menjadi tanggal 17-19 Desember.

Menurut Luthfi Agung Rizaldi selaku Komisi 2 KPU, ketidaksiapan panitia diakibatkan keterlambatannya Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas (DPMU) membentuk tim transisi. “Jadi awalnya kan tim transisi terdiri dari eksekutif, legislatif, dan khusus nanti dibagi jadi KPU, Panwas, sama KPSU ini dibentuk oleh tim transisi, tim transisi dibentuk oleh DPMU. Mereka mungkin ada permasalahan ya kemarin kan ngurus banyak aksi ya jadi agak molor,” ujar Luthfi.

Selain permasalahan teknis, masih banyak mahasiswa yang tidak mengetahui  diadakannya pemilwa ini. Kurangnya sosialisasi dari penyelenggara adalah penyebab utama. Dian Puspita Wati, mahasiswa Akuntansi 2018, menyayangkan tidak adanya sosialisasi ke kelas-kelas yang menyebabkan ketidaktahuan mahasiswa. Hal senada juga disampaikan oleh Nurul Izah, mahasiswa Akuntansi 2018, “Kalau mau ada sesuatu mungkin penyelenggara bisa datang ke kelas-kelas untuk sosialisasi, biar mengajak orang untuk partisipasi juga kan nantinya partisipannya bisa lebih banyak.”

Berdasarkan pernyataan Luthfi, Pemilwa tahun ini bisa dibilang lebih baik dari tahun sebelumnya karena jumlah pemilih jauh lebih banyak walaupun masih belum mencapai target perhari nya. Target yang diharapkan oleh KPU per harinya adalah 200 suara. Namun, pada hari pertama hanya terkumpul 116 suara dan hari kedua 137 suara, tentu pada hari ketiga ada harapan untuk bisa mendapat lebih banyak suara, yang terpenting setiap harinya terdapat peningkatan. Angka tersebut sangat berbanding terbalik dengan Pemilwa tahun sebelumnya yang hanya ada maksimal 6 suara per harinya.

Kurangnya antusias mahasiswa dalam ajang Pemilwa harus menjadi pembelajaran bagi penyelenggara untuk lebih gencar dalam meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya demokrasi di dalam kampus. Dian berharap sosialisasi lebih digencarkan lagi. “Harapannya disosialisasikan kan kita warga FE bukan cuma anak LEM atau DPMnya aja tapi semuanya yang ga ikut organisasi kaya gitu juga harus tau orangnya siapa-siapa aja, aku aja gatau visi misi mereka,” jelas Dian. 

Luthfi juga berharap calon legislatif dan calon pemilihnya harus saling berkolaborasi agar terciptanya Pemilwa yang berkualitas. “Karena Pemilwa ini sebagai ajang demokrasi di mana ini sebagai pembelajaran juga, kita harus memaksimalkan momentum ini, pemilwa ini bisa juga dianggap parade pemikiran dan festival gagasan karena yang diangkat adalah Pemilwa berkualitas.” tutup Luthfi.

Reporter: Tata, Tami, Yuni, Retno 

Editor: Retno

*Penulis adalah magang LPM Ekonomika

357 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *