Film Rekomendasi

Kucumbu Tubuh Indahku : Sangat Kerdil Apabila Hanya Membahas Peleburan Feminitas dan Maskulinitas

Foto: imdb.com

Oleh: Ikrar Aruming Wilujeng

Tanggal rilis : 13 Desember 2018 (Jogja-NETPAC Asian Film Festival)

9 April 2019 (Layar lebar di Indonesia)

Sutradara : Garin Nugroho

Durasi : 107 menit

Pemeran : Muhammad Khan, Raditya Evandra, Rianto, Sujiwo Tejo, Randy Pangalila, Teuku Rifnu Wikana, Whani Dharmawan, Endah Laras, Fajar Suharno.

Setiap tubuh adalah peran, setiap tubuh adalah perang, setiap tubuh adalah perjalanan bagi masing-masing tuannya. Merengkuh semua trauma adalah salah satu cara untuk berdamai dengan segalanya. Kucumbu Tubuh Indahku, sebuah film karya Garin Nugroho yang sangat apik dalam kemasan multi perspektif. Di tengah kontroversinya, Kucumbu Tubuh Indahku melalang buana mewakili Indonesia pada Oscar 2020. 

“Isu PKI adalah payung dari cerita ini,” kata Garin di acara Rosi, Kompas TV.  Cerita dimulai dari sana, isu PKI merupakan luka mendalam bagi keluarga Juno –Pemeran utama. Bapaknya terkena fitnah yang akhirnya memaksanya untuk meninggalkan Pulau Jawa, memilih untuk menjauhi traumatiknya, dan tentu saja meninggalkan Juno yang masih sangat bocah.

Juno ditinggalkan hanya dengan kalimat perpisahan “tidak tahu pulang lagi kapan.” Sejak saat itu ia resmi hidup sendiri, memasuki babak baru melalui kasih sayang orang lain. Raditya Evandra sangat berhasil memerankan hidup Juno kecil yang sangat melas. Mata Juno adalah representasi dari kehidupan yang berat dari seorang anak kecil yang polos dan lemah gemulai. Senyumnya berhasil menyampaikan kegetiran dalam melawan segala traumanya. Karakter Juno kecil sangat kuat dengan segala yang melekat; pakaian, raut wajah, dan sebagainya.

Di tengah kepungan kepriaan, Juno tumbuh dengan sisi feminim yang menonjol. Feminitasnya menyimpan filosofi. Tokoh wayang yang sangat maskulin, sakti, gagah, dan berani dipresentasikan dengan watak dan laku yang lembut. Feminitas di dalam maskulinitas. Perawakan yang tenang seperti air dan kuat seperti gunung, mencerminkan namanya. Wahyu Juno; Wahyunya Arjuna. Namun kisah ini begitu kerdil apabila hanya membahas peleburan feminitas dan maskulinitas dalam satu tubuh. 

Juno kecil tumbuh di  lingkungan desa dengan kesenian tari Lengger Lanang. Tarian tersebut diperagakan oleh laki-laki yang berperilaku seperti perempuan. Ia mendapat kasih sayang dari guru Lengger yang diperankan oleh Sujiwo Tejo. 

Kasih sayang guru Lengger pada Juno berujung pada trauma. Guru Lengger mendapati istri mudanya bercumbu dengan muridnya. Saat itu juga guru Lengger menghabisi muridnya di depan mata Juno. Darah, darah di mana-mana.

 “Yang namanya hidup itu cuma numpang nitip urip. Pisah, pindah, mati iku wes biasa,”  ucap Budhe (kakak dari orang tua-red) Juno (diperankan oleh Endah Laras), ketika memergoki Juno tengah bersembunyi di kolong meja, beradu dengan traumanya. Perpindahan Juno yang pertama bermuara pada rumah budhenya. 

Jalan hidupnya tidak mudah, ia masih harus menghadapi cacian teman-temannya sebab jemarinya bau tahi ayam. Belum lagi hukuman dari budhe yang beberapa kali menusukkan jarum di jemarinya. Traumatiknya pun bertambah kala ia melihat langsung guru tarinya (diperankan oleh Winarti) digrebek warga dengan tuduhan perusak moral, melakukan tindakan asusila. 

Trauma masa kecil membuatnya semakin pendiam. Babak baru Juno dimulai dengan perpindahannya mengikuti pamannya (diperankan oleh Fajar Suharno). Lingkungan Juno bertumbuh dewasa merupakan masyarakat ideal yang menghargai orientasi seksual orang lain. Namun ada beberapa kondisi yang menggambarkan pergeseran budaya paguyuban desa yang natural. Ada permainan uang di sana, bertaruh segepok uang atas sebuah pertandingan. Pun ada praktek penjualan organ tubuh manusia. 

Juno dewasa tumbuh menjadi Juno yang feminim (diperankan oleh Muhammad Khan), namun bersarang batin yang kuat di tubuhnya. Ia dekat dengan seorang petinju (diperankan oleh Randy Pangalila). Mereka adalah dua manusia yang kalah, dua orang yang fakir perhatian, dan akhirnya memutuskan untuk bertukar kasih sayang. Lagi-lagi, kasih sayang selalu berujung pada trauma. Paman Juno meninggal termakan usia, ditambah sang petinju ditawan oleh perewa sebab kalah pertandingan. Sebuah perpaduan yang pas untuk menyeduh air mata.

Menambah daftar traumanya, babak baru Juno dilewati dengan perpindahan (lagi). Juno bertaruh hidup dengan bergabung dalam paguyuban Seni Lengger. Tidak hanya unsur budaya, kesan dan unsur politik juga mengendap kuat di struktur ceritanya. Pelibatan sesuatu yang tidak logis pada kejadian politik ditunjukan melalui scene ketika calon bupati (diperankan oleh Rifnu Wikana) meyakini bahwa Juno adalah kunci dari kemenangannya. Namun Juno sadar bahwa ia sedang diperalat. Akhirnya sang calon bupati mendapat penolakan yang mengakibatkan Juno dan kelompok Seni Lengger terusir. 

Pengusiran itu mengantarkan Juno pada rumah sederhana seorang Warok (diperankan oleh Whani Darmawan). Keduanya memutuskan untuk bertukar kasih sayang. Warok menjadikan Juno sebagai seseorang yang berarti. Mendapati Juno sering melukai diri sendiri, Warok banyak memberikan sebuah empati dan meyakinkan bahwa Juno bukanlah seseorang yang kalah.

Kasih sayang yang begitu besar membuat Warok murka pada siapapun yang akan merebut Juno darinya. Pertarungan berlumuran darah untuk memperebutkan Juno berhasil dimenangkan Warok, padahal itu justru menghidupkan traumatiknya kembali.

Hidup Juno adalah pergulatan antara kegetiran dan usaha memaknainya sebagai pelajaran. Ia menyakiti diri sendiri agar dapat merasakan rasa sakit yang sesungguhnya. Persakitan itu tak ubahnya perang yang berkabung pada tubuh Juno. Tubuh itu pikiran, tubuh itu karakter, tubuh itu juga sosial, dan tubuh itu juga politik.  Setiap tubuh menyimpan traumanya masing-masing.

Trauma yang disimpan Juno dikatarsiskan secara produktif oleh Garin. Pola kehidupan direpresentasikan pada struktur film ini. Penggambaran kejadian kecil hingga munculnya sebuah masalah besar mengadopsi nilai-nilai kemanusiaan pada kehidupan sehari-hari. 

Film ini dikemas secara cerdas dengan diawali narasi oleh Rianto, seorang penari, yang menjadi inspirasi dalam Kucumbu Tubuh Indahku. Narasi yang diucapkan Rianto merupakan pengantar yang diiringi dengan gerakan tari yang sangat representatif.

Bahasa yang digunakan sepanjang film pun menggunakan Bahasa Jawa yang multi logat. Sebab Juno lahir di desa kecil di jawa Tengah yang menggunakan logat ngapak, Rianto membacakan narasi juga dengan menggunakan logat ngapak. Sedangkan beberapa tokoh di antaranya menggunakan Bahasa Jawa berlogat Solo / Yogyakarta. Pada kelompok Seni Lengger dan Reog Ponorogo beberapa menggunakan Bahasa Jawa medhok Jawa Timur-an.

Namun karena setting tempat berada di wilayah ngapak, penggunaan Bahasa Jawa ngapak itu sendiri masih kurang menonjol. Penggunaan bahasa masih cenderung kental pada Bahasa Jawa logat Solo / Yogyakarta. Tapi seharusnya itu tidak menjadi suatu masalah yang berarti. 

Perjalanan Juno seharusnya dapat memberitahu masyarakat, bahwa pada setiap tubuh seseorang bersarang trauma dan kisah pedihnya masing-masing. Fakta menyakitkan itu harus dilalui secara produktif, berupaya mengubahnya menjadi sebuah pelajaran. Bawalah tubuhmu pergi kemanapun kamu mau, sebab itu adalah otoritasmu, juga hak prerogatif yang seharusnya tidak dapat diganggu gugat.

Editor: Azizah

241 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *