KRISIS PENDIDIKAN VS PERMINTAAN PASAR

KRISIS PENDIDIKAN VS PERMINTAAN PASAR

(Sumber foto : www.pixabay.com)

Oleh: Ulfa Fajria Ayub

          BACAEKON.COM-OPINI. Memasuki era globalisasi, abad teknologi dan informasi yang berkembang cukup pesat, menyebabkan persaingan yang terjadi semakin ketat. Dapat dilihat, dari sisi sumber daya manusia Indonesia yang bisa dibilang “turah-turah”. Keuniversalan ini menuntut adanya perkembangan yang signifikan dan future oriented, atau akan terlindas habis oleh lain negara. Kekuatan sumber daya manusia menjadi salah satu penunjang perkembangan dari bangsa Indonesia sendiri. Untuk menjawab tantangan zaman, mutu sumber daya manusia mutlak harus dikembangkan. Tanpa hal tersebut, kita akan tenggelam di kancah persaingan dunia yang semakin menggila.

          Apalagi saat ini, dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) seakan sudah tidak memiliki batas negara, budaya, maupun sosial, sebab sudah terbuka lebar, dan akan mempengaruhi struktur ketenagakerjaan, baik di dalam maupun luar negeri yang menyebabkan akan banyak tenaga asing yang menginvasi negara kita dengan berbagai keahlian yang dimiliki.

          Pendidikan yang baik menjadi tugas bagi pemerintah untuk mewujudkan sumber daya manusia yang tidak kalah saing dengan negara tetangga. Secara bahasa datang dari kata “pedagogi” yang dipecah menjadi dua kata yaitu “paid” yang berarti anak, serta “agogos” yang artinya menuntun. Jadi pedagogi yaitu pengetahuan dalam menuntun anak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata pendidikan berasal dari kata “didik” dengan memperoleh imbuhan “pe” serta akhiran “an”, yang memiliki arti langkah, sistem atau perbuatan mendidik. Maka dapat dilihat pendidikan memiliki makna yaitu melakukan suatu proses untuk mengembangkan kemampuan manusia lewat pelatihan dan pengajaran.

          Sedangkan menurut Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, pengertian pendidikan yaitu tuntutan dalam hidup tumbuhnya anak-anak yang bermaksud menuntun segala kekuatan kodrati pada anak-anak itu supaya mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat mampu menggapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

          Perkembangan pendidikan sejak diproklamasikannya Undang-Undang Dasar 1945 hingga saat ini menjadi suatu bahasan yang menarik untuk dikaji secara kontinu. Namun apabila ditelisik secara mendalam, dunia pendidikan mulai mengalami ketimpangan ketika menghadapi kebutuhan pasar. Ketika lulusan sekolah menengah maupun perguruan tinggi kurang memiliki kompetensi yang memadai untuk memasuki dunia kerja. “Kebutuhan perusahaan akan sumber daya manusia saat ini sudah berbeda, antara lain karena cara menjalankan bisnis yang berubah. Situasi ini menuntut profil sumber daya manusia yang tepat,” kata Lilis Halim, Direktur Konsultan Willis Towers Watson Indonesia, dalam acara “A Taste of L’oreal”, Rabu (20/4/2016), di Jakarta. Saat ini, menurut dia, delapan dari 10 perusahaan di Indonesia menghadapi kesulitan dalam merekrut lulusan universitas dengan keahlian yang tepat dan siap memasuki dunia kerja. Berita selanjutnya dapat diakses melalui www.kopertis12.or.id/2016/04/21/perusahaan-sulit-peroleh-lulusan-yang-sesuai.html

          Hal ini dapat terjadi ketika metode pengajaran dan sarana praktek yang dilakukan oleh sekolah agak tertinggal ketika tuntutan profesional yang terus berlari kencang. Sehingga memunculkan ketidakterkaitan antara keluaran (output) suatu lembaga pendidikan dengan kebutuhan pasar. Padahal, di dunia kerja sendiri membutuhkan masukan (input) individu-individu yang berkompeten untuk mengurangi kemacetan perusahaan dalam memutar roda-roda produksinya.

          Diibaratkan, penemuan bangsa Sumeria pada 3.500 SM ini tersusun atas berbagai komponen seperti bantalan roda, hubungan ruji, pelak, dan ban itu sendiri yang bergerak dengan simultan sesuai fungsinya masing–masing. Dari mana perusahaan mendapatkan berbagai onderdil tersebut? Tentu lah berasal dari sebuah toko bernama lembaga pendidikan. Oleh karena itu, secara sistematis antara dunia industri maupun jasa harus memiliki interaksi yang kuat dengan lembaga pendidikan jika ingin tetap hidup.

          Meskipun lembaga pendidikan merupakan sumber mutlak di mana perusahaan mencari “suku cadang” profesional, bukan berarti tujuan pendidikan hanya berorientasi untuk memenuhi kebutuhan pasar. Karena pendidikan memiliki tujuan yang lebih luas ketimbang hanya menyiapkan calon tenaga kerja. Pun pendidikan memiliki tujuan yang lebih filosofis dalam mengontemplasi gagasan-gagasan umum. Dapat kita lihat dari kondisi alamiah manusia yang menuntutnya untuk belajar dan mengembangkan dirinya dalam proses aktualisasi dirinya. Mengutip kata–kata John Henry Cardinal Newman dalam bukunya yang berjudul ”The Idea of University defined and illustrated”, “Pengetahuan itu bernilai karena ia ada dan hadir dalam diri kita, meski ia sama sekali tidak digunakan untuk satu kepentingan pun, atau bahkan jika tak diarahkan demi tujuan tertentu.”

          Program Link and Match yang memperkenalkan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yang mana popular dikenal dengan istilah belajar sambil magang kerja. Kegiatan ini merupakan perpaduan antara program pendidikan sekolah dan praktek kerja lapangan. Memang hal ini bagus untuk menyinkronkan ilmu yang telah didapat dengan fakta yang ada di lapangan. Hanya saja bila dilihat dapat menimbulkan promosi gratis dan publikasi produk dengan sasaran kaum terpelajar.

          Memang menjadi suatu harapan ketika dunia pendidikan mampu menyiapkan para alumninya untuk terjun dalam dunia kerja yang persaingannya mengalir dengan deras. Namun lebih bijak ketika lembaga pendidikan mampu mengembangkan kemampuan dan bakat anak yang dimiliki untuk turun andil dalam pertumbuhan di masyarakat.

 

11839 Total Views 1 Views Today

Related Post

2 Comments

  • itu judulnya kurang pas… begini ya… permintaan pasar itu hanya sebahagian kecil dari tujuan manfaat pendidikan… dan itu bukannlah hal yang berlawanan dengan pendidikan…

    jadi dalam pembuatan suatu artikel ataupun opini… judul haruslah berbasis pada isinya… ataupun isi berbasis pada judulnya….

    permintaan pasar meminta anak didik untuk seperti ini sedangkan keadaan pendidikan sendiri masih terbilang bagaimana….

    ini merupakan hal sebab akibat… dan dirasa isinya tidak mencerminkan judulnya

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *