KOSAKORA YANG BERALASKAN OMBAK

KOSAKORA YANG BERALASKAN OMBAK

(Sumber Foto : betara.id)

Oleh : Ulfa Fajria Ayub

          Bacaekon.com-Rekomendasi. Puncak Kosakora ditemukan dengan menyusuri jalan pantai sepanjang daerah Gunung Kidul, terletak di arah timur Pantai Drini, bersebelahan dengan Pantai Ngrumput. Lebih tepatnya di Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Gunung Kidul. Letaknya yang tersembunyi, menjadikan jalannya cukup sulit untuk dicari. Penduduk sekitar telah membuat jalur bagi para petualang untuk mempermudah pencarian lokasi. Kendaraan yang dibawa harus diparkirkan sekitar 500 meter dari bibir pantai karena jalan setapak yang tidak memungkinkan untuk dilalui.

          Angin laut mulai terasa membelai indera peraba, memaksa untuk segera berjumpa. Setelah menitipkan kendaraan beserta pelindung kepala dengan tarif Rp 2000,00/motor, sang petualang mulai meniti langkahnya. Membawa carier berisi tenda, kayu bakar, nasting (peralatan masak-red), bahan makanan, dan tentunya raga sebagai penikmat semesta. Yap, dia telah siap! Bersama petualang lain, dimulailah pencariannya.

          Rute yang dilalui merupakan jalan setapak berbatu nan sempit yang hanya cukup dilalui oleh satu orang disertai dengan pinggiran bambu agar para petualang tak hilang arah. Pijakkan telapak dengan hati-hati, disarankan untuk memakai pelindung ber-sol tebal agar kaki tidak sakit. Kiri kanan terdapat kebun singkong ditambah lenguhan sapi menjadi soundtrack perjalanan ini. Ternyata ada kandang hewan ternak peliharaan milik warga. Hingga akhirnya di ujung jalan, yang akan disambut oleh embusan angin laut yang bernafas. Pasir putih berserak di sepanjang mata memandang, cukup menjadi hiburan bagi pemburu panorama.

          Tunggu, jangan tergoda untuk melepas alas kaki, apalagi terpaku karena memang bukan tujuan awalnya bukan? Perjalanan masih harus berlanjut. Menuju arah timur, pijakan berpasir putih berubah warna coklat padat hingga menjadi batuan karst yang menjadi permulaan menuju bukit terjal Kosakora. Terdapat pos jaga milik warga untuk memantau jumlah pendaki yang hendak “muncak”. Bahkan senyum ramah si pemilik mampu menjadi penghangat bagi dinginnya angin laut yang bertiup.

          Tak lebih dari 15 meter di depan pos jaga, ada penghubung menuju jalan yang lebih menantang. Relief alami batuan dipadukan dengan campur tangan manusia dirasa cukup membantu pendaki. Bak tangga, tersusun atas batuan karst besar yang tak beraturan dan terjal, ditambah tarikan gravitasi beserta bawaan yang berat menjadi penguras tenaga yang sebelumnya telah dipersiapkan. Cukup menghasilkan bulir keringat dan rasa pegal di kaki kala mendaki. Kurang lebih pengunjung harus menempuh waktu selama 20 menit untuk mencapai puncak. Lelah? Memang pantas untuk dirasa setiap pejuang.

          Tak segan-segan angin bertiup tambah berani, menjadi penanda bahwa sang pendaki telah mencapai puncak. Rasa lelah yang dirasa pun dibayar tunai oleh hamparan permadani hijau di sana. Tempat di mana pendaki kan merebahkan tubuh bau oleh berkeringatnya. Nampak pula  horizon biru laut selatan di bawahnya dibatasi oleh langit senja kejingga-jinggan. Sungguh ketidakteraturan yang abstrak nan elok.

          Langkah selanjutnya, siapkan tempat beristirahat dan kayu bakar sambil menunggu datangnya malam. Kontur tanah yang landai perlu menjadi pertimbangan bagi pengunjung untuk mendirikan tenda. Ujung barat wilayah perkemahan yang hanya dipagari bambu dan plang nama “Kosakora” menjadi pembatas. Tidak egois, si pemburu panorama tetap berbagi tempat dengan yang lain untuk saling menikmati. Melingkari api unggun dengan membawa jagung masing–masing untuk dibakar. Bercerita lelucon receh menjadi pelengkap tawa di malam itu. Tak perlu khawatir, tak akan ada nyamuk yang mengganggu camping-nya. Hingga cerita receh itu berlanjut tak dibatasi oleh waktu.

          Saat gelap tiba, pancaran ribuan rasi gemintang di langit menjadi penerang yang mampu menghipnotis siapapun yang memandang. Untung saja malam itu baik awan ataupun hujan malu tuk menampakkan wajahnya.     Sapuan ombak di bawahnya tak lelah berkejaran, terus dan berulang dengan tempo yang tidak konstan. Tidak ada satu pun kapal nelayan yang nampak karena memang laut yang tidak bersahabat untuk menjaring ikan mengait nafkah. Usailah sudah pencarian si petualang untuk memanjakan dirinya. Tak perlu mahal, dengan sederhana pun dapat terpuaskan. Pun angin malam  menambah kesejukan suasana puncak bukit. Mampu membuai petualang dalam tidurnya yang lelap.

 

3181 Total Views 1 Views Today

Related Post

Letter To Sweet Coffee

Letter To Sweet Coffee

Oleh: A. Gunawan Judul               : Surat Untuk Kopi Manis (Letter To Sweet Coffee) Penulis             :…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *