Berita Ekonomi

Kondisi Rupiah di Tengah Pandemi Covid-19

Foto: cncbindonesia.com

Oleh: Khairul Raziq

Jauh sebelum Covid-19 merambah ke Indonesia, pemerintah telah melakukan beberapa kebijakan ekonomi baik dari sisi moneter maupun fiskal. Kebijakan itu tak lain sebagai upaya pemerintah guna melindungi perekonomian dari sentuhan Covid-19.

Dari sisi fiskal, kebijakan yang diberlakukan yaitu memberikan berbagai insentif untuk menggenjot sektor pariwisata Ibu Pertiwi. Pemerintah sendiri melalui Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto, memaparkan bahwa terdapat insentif untuk wisatawan mancanegara senilai Rp298,5 miliar. Alokasi dana tersebut meliputi kegiatan turisme Rp25 miliar, sebesar Rp103 miliar untuk promosi wisata, dan untuk maskapai serta agen travel senilai Rp98,5 miliar.

Pada sisi moneter, Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan BI menjadi 4,75%. Suku bunga ini turun sebesar 25bps yang sebelumnya ada pada angka 5%.

Mengacu pada data Center for System Science and Engineering (CSSE), John Hopkins University, hingga malam ini (4/4/20) kasus Covid-19 sudah berhasil menembus 181 negara, sebanyak 1.131.713 orang terjangkit, 59.884 orang meninggal dunia dan sebanyak 226.669 orang dinyatakan sembuh. 

Sementara itu di Indonesia, kasus pertama dilaporkan pada awal bulan Maret dan hingga hari ini (4/4/20) terkonfirmasi ada sebanyak 2.092 kasus positif Covid-19, 191 orang meninggal dunia dan 150 orang yang sembuh.

Covid-19 berhasil menginfeksi beberapa sektor. Selain dari sektor kesehatan, sektor ekonomi pun turut terjangkit. Dilansir pada situs web resmi Bank Indonesia, kurs rupiah langsung meroket pada Jum’at (20/3/20) menembus pada level Rp16.273 per dolar AS. Level tersebut menjadikan rupiah melemah 3,57% dibanding hari sebelumnya di posisi Rp15.712 per dollar AS. 

Selain rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ikut terkena imbasnya pada Senin (23/3/20). Mengutip dari Katadata, IHSG pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan sebesar 3,4% ke posisi 4.048,84. Bernardus Satya, Head of Business Development Sucor Sekuritas, mengatakan hal tersebut terjadi karena hampir sebagian besar investor menarik modalnya dan mengonversi aset mereka yang sebelumnya dalam bentuk rupiah menjadi dollar. 

Di hari yang sama (23/3/20), rupiah harus kembali bertekuk lutut pada dolar. Nilai tukar rupiah terhadap dolar mencapai puncak tertinggi pada nilai Rp16,608. Bernardus juga menanggapi bahwa pelemahan rupiah ini karena tindakan panic buying terhadap dolar, dengan asumsi bahwa dolar dianggap sebagai mata uang yang kuat di dunia.

Tidak hanya penurunan nilai rupiah dan IHSG, sektor modal asing pun turut serta terjangkit. Melalui bisnis.com, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa pada periode Januari-Maret terdapat arus modal asing yang keluar (capital outflow) sebesar Rp167,9 triliun dengan komposisi Rp153,4 triliun Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp13,4 triliun pasar saham. 

Dengan keadaan seperti itu, mau tidak mau memaksa pemerintah Indonesia untuk segera bertindak responsif. Sebelumnya pada pertengahan Maret (15/03/20), Jokowi telah menggelar rapat terbatas yang digelar melalui telekonferensi video di Istana Kepresidenan Bogor. 

“Saya minta sinergi kebijakan antara pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Keuangan, BI, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan terus diperkuat,” tuturnya. 

Jokowi juga menyampaikan pesan secara khusus kepada Bank Indonesia (BI), sebagai aktor utama yang harus menjaga kestabilan nilai rupiah. Jokowi menekankan agar sistem keuangan tetap menjaga stabilitas inflasi dan mempercepat berlakunya ketentuan penggunaan rekening rupiah di dalam negeri sebagai salah satu bentuk mitigasi atas melemahnya rupiah.

Merespon instruksi Jokowi, Perry mengungkapkan bahwa Bank Indonesia (BI) telah mengeluarkan tujuh kebijakan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi serta menjaga stabilitas pasar keuangan. Sementara itu, mengenai adanya capital outflow ia mengaku BI telah membeli SBN sebesar Rp195 triliun. Sikap itu diambil untuk memastikan modal tetap ada, menahan pelemahan rupiah, serta mengantisipasi penjualan SBN oleh pihak asing.

Selain itu, baru-baru ini Presiden juga tengah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) guna mereduksi dampak yang diakibatkan oleh Covid-19 ini. Mengutip Tirto.id, Jokowi mengklaim Perppu baru tersebut memberikan fondasi bagi pemerintah, otoritas perbankan dan otoritas keuangan untuk melakukan langkah-langkah yang luar biasa dalam upaya menjamin kesehatan masyarakat, menyelamatkan perekonomian nasional serta stabilitas sistem keuangan.

Di dalam Perppu tersebut, ada beberapa kebijakan yang akan dilakukan oleh pemerintah. Di antaranya, menambah belanja APBN senilai Rp405,1 triliun, memprioritaskan anggaran pada bidang kesehatan dan perlindungan sosial, fokus anggaran terhadap dunia usaha, prioritas pada bidang non-fiskal serta revisi batas maksimal defisit APBN. 

Belanja APBN senilai Rp 405,1 triliun nantinya akan dialokasikan untuk dana kesehatan sebesar Rp75 triliun, jaring pengaman sosial atau social safety net (SSN) sebesar Rp110 triliun, insentif perpajakan dan stimulus kredit usaha rakyat sebesar Rp70,1 triliun. Termasuk Rp150 triliun yang dialokasikan untuk pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional.

Hingga Jum’at (3/4/20), kondisi IHSG sendiri ditutup melesat naik sebesar 91,74 poin atau 2,02% ke level 4.623,43. Tercatat juga pada sesi I sebanyak 242 saham menguat, 130 saham terkoreksi dan 114 saham stagnan.

Pada waktu yang bersamaan rupiah juga berhasil mengalami penguatan. Merujuk kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menunjukkan rupiah menguat menjadi Rp16.464 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp16.741 per dolar AS.

Di satu sisi kondisi pasar domestik juga berhasil mencatat torehan positif selama 30 Maret-2 April 2020. Mengutip Tempo, berdasarkan data Bank Indonesia (BI) terjadi beli bersih (net buy) di pasar keuangan domestik sebesar Rp3,28 triliun. Aliran modal masuk tersebut dominan berasal dari pembelian Surat Berharga Negara (SBN). Adapun aliran kas masuk (inflow) dari SBN tercatat Rp 4,09 triliun, sedangkan di pasar saham pada periode tersebut masih terjadi net sell (outflow) Rp820 miliar.

Editor: Retno

 

171 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *