Kisah Tertinggal di Balik Perhelatan Semata

Kisah Tertinggal di Balik Perhelatan Semata

Ilustrasi: Dok. Ekonomika

Oleh : Restin Septiana

Bacaekon.com-Opini. Selamat datang mahasiswa baru, begitulah antusiasme penyambutan bertajuk Semangat Ta’aruf (Semata). Ospek tingkat fakultas ini hampir rutin diselenggarakan di setiap tahunnya. Bertujuan untuk mengenalkan dunia mahasiswa maupun segala dinamika kelembagaan di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII).

Serangkain acarapun dihelat, mulai dari pemberian materi, sejarah kelembagaan, pengenalan lembaga dan kegiatan lainnya. Bahkan yang terbaru di Semata 2015 ini diadakannya kegiatan Aksi, sebagai ajang yang mencoba mempertontonkan kekritisan mahasiswa. Serupa dengan Manajemen Aksi di Pesona Ta’aruf (Pesta) atau ospek tingkat universitas itu. Tidak ketinggalan tentu, acara senang-senang atau hiburan tetap ada, bahkan hingga pukul 21.00 WIB, peserta baru meninggalkan lokasi Semata. Itupun mereka belum langsung menuju kos atau rumah atau kontrakan masing-masing. Sebab masih kumpul bersama jurusannya sendiri.

Selangkah ke belakang, mari tengok bersama problematika di balik agenda Semata 2015. Seperti yang dipaparkan ketua Tim Advokasi Semata 2015, mulai dari masalah standar makanan pada beberapa kantin Semata 2015 yang dianggap tidak sesuai dengan sampel. Ada juga masalah parkir yang bikin runyam, belum juga selesai, masalah promosi kegiatan atau pamflet undangan diskusi yang tersebar di grup jama’ah pun ikut diseret ke permukaan. Belum lagi ribut-ribut yang terdengar di hari kedua Semata 2015, di saat mahasiswa baru tengah menikmati lantunan musik ditemani cahaya lilin.

Ah, banyak sudah ternyata, barangkali itu hanya yang saya dengar. Entah dengan permasalahan lain yang luput dari penglihatan dan pendengaran ini. Bagaimana dengan penyelesaian masalah-masalah itu? Rasanya akan selalu membekas. Pertama adalah masalah parkir, ketika seorang mahasiswa baru yang “ketahuan” parkir tidak di area kampus. Menurut penuturan sang mahasiswa, ia memarkirkan motornya tidak di area kampus sebab ia datang terlambat dan pintu gerbang tertutup, alhasil ia pun bingung. Lantas ia bertanya pada kakak seniornya yang kebetulan menjadi wali jama’ahnya, “Kak, boleh gak parkir di tempat semalam?”, “Ya, boleh..” Singkatnya seperti itu.

Di dalam peraturan tata tertib Semata 2015 pada buku Panduan tercantum bahwa peserta diperkenankan membawa kendaraan roda dua dan harus di parkir di tempat yang telah ditentukan oleh panitia. Kurang lebih seperti itu bunyinya. Lantas masalah parkir itupun mencuat, hingga sang mahasiswa baru dikerumuni dan seolah diinterogasi atau diinvestigasi oleh tim Advokasi. Jadi, sebagai tim yang dibentuk untuk melakukan pembelaan atau melindungi hak mahasiswa baru, salah satunya, investigasi semacam apakah yang coba mereka terapkan? Siapa yang melanggar hak siapa? Kepada siapa mereka mencoba menegakkan aturan? Dan siapa yang bersalah atas masalah siapa? Terus saja berkecamuk dalam logika ini.

Begitu sama halnya dengan polemik penyebaran pamflet. Namanya juga sosial media, bukankah salah satu fungsinya adalah untuk menyebarkan informasi?. Atau masalah misskomunikasi yang terjadi antar panitia, struktural, atau bahkan mungkin di dalam satu komisi. Hingga ribut-ribut yang terjadi sebelum masa penyambutan mahasiswa baru oleh masing-masing jurusan. Bukankah Semata itu penyambutan? Bukankah lembaga-lembaga sudah dikenalkan? Atau kisruh yang menyebabkan adanya beberapa panitia meninggalkan lokasi Semata 2015?

Barangkali hanya diri ini yang tidak mampu menemukan jawaban atas peliknya setiap pertanyaan yang hadir. Ataukah hanya seorang diri merasakan kegusaran ini? Semoga saja. Katanya mahasiswa harus bersatu demi pencapaian cita-cita yang lebih baik. Katanya UII harus semakin maju. Lantas bagaimana tercapai kalau mahasiswanya sendiri sering berbenturan? Semata oh Semata, ironi mu setiap tahun.

983 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *