KISAH DI BALIK IDUL ADHA

KISAH DI BALIK IDUL ADHA

(Sumber foto : merdeka.com)

Oleh : Immelita Budiarti

Bacaekon.com- OASE. Beberapa hari lalu, umat muslim di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Adha. Hari raya Idul Adha juga dikenal dengan hari raya haji atau hari raya qurban. Idul Adha merupakan kesempatan bagi umat muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan pergi melaksanakan haji jika mampu dan menyisihkan sebagian harta untuk berkurban sebagai bentuk rasa syukur dan takwa kepada Allah. Ternyata ada banyak kisah  dibaliknya. Seluruh kisahnya diabadikan dalam Al-qur’an.

Kisahnya berawal ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk membawa istrinya yang bernama Siti Hajar dan anaknya yang bernama Ismail ke sebuah tempat yang jauh, tidak berpenghuni, tandus, gersang dan tak ada pepohonan sedikitpun. Namun baik Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail menerima perintah Allah dengan ikhlas sehingga Allah mengabadikannya dalam Alqur’an surat Ibrahim ayat 37 yang artinya:  Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Sedangkan saat itu Ismail masih sangat kecil, hingga suatu hari Ismail menangis karena kehausan, pahadal tidak ada setetes airpun di tempat tersebut. Siti Hajar pun berlari-lari kecil antara bukit shafa dan marwa sebanyak tujuh kali yang pada zaman sekarang dikenal sebagai salah satu rangkaian haji yaitu sa’i. Hingga akhirnya Allah memberikan air melalui hentakan kaki Ismail ketika menangis. Mata air tersebut adalah mata air yang konon sampai akhir zamanpun tidak akan habis messki telah di minum ribuan orang dari seluruh penjuru dunia. Semenjak ada mata air tersebut, banyak orang berdatangan di sekitar tempat tersebut untuk sekedar beristirahat atau bahkan menetap. Tempat itulah yang kini bernama Mekkah al mukarramah.

Suatu hari, Nabi Ibrahim bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih putra tercintanya Ismail. Mimpi berulang ulang mendatangi tidurnya, hingga ia yakin bahwa itu diperintah oleh Allah. Baginya, itu merupakan perintah yang sangat berat sulit karena Ismail adalah putra yang disayanginya. Sebagai hamba Allah yang taat, ia pun melaksanakan perintah Allah, bahkan Ismail yang saat itu berusia 7 tahun mendukung ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Bentuk taat ini diabadikan dalam Al-quran surat As-saffat ayat 102 yang artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”. Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

Allah melihat bentuk taat mereka sehingga Allah mengeluarkan perintah untuk mengganti nabi Ismail dengan seekor domba yang gemuk. Ketaatan, keikhlaasan, dan kesabaran mereka membuat penghuni langit berdecak kagum pada Nabi Ibrahim dan Ismail. Kisah ini pun akhirnya diperingati setiap tahun pada tanggal 10 dzulhijjah di seluruh penjuru dunia.

Demikian pulalah kita seharusnya, sebagai hamba Allah yang diberikan kenikmatan yang banyak oleh Allah, sudah sepatutnya taat terhadap segala perintah Allah, sabar dan ikhlas terhadap hal- hal yang kurang menyenangkan dalam hidup kita sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT.

 

1139 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *