Film Rekomendasi

Kim Ji-Young, Born 1982: Menyelami Peran Sosial Perempuan

Foto : imdb.com

Narasi : Retno Puspito Sari

Sutradara: Kim Do-young

Pemeran : Jung Yu-mi, Gong Yoo, Kim Mi-kyung, dan Gong Min-jeung

Rilis : 23 Oktober 2019

Durasi : 118 menit

Bacaekon.com-Kehidupan setelah menikah bagi sebagian orang terkesan cukup kompleks dan menakutkan. Ada tuntutan untuk menyeimbangkan kehidupan pribadi dan keluarga, serta lingkungan yang selalu menuntut untuk sempurna. Hal ini digambarkan secara apik dalam film dengan tajuk Kim Ji-young, Born 1982. Film ini merupakan adaptasi dari novel karangan Cho Nam-ju dengan judul yang sama. Kim Ji-young, Born 1982 menggambarkan dilema kehidupan seorang ibu rumah tangga dan keinginan meniti karir di Korea Selatan yang kental akan budaya patriarki. 

Film ini juga erat kaitannya dengan postpartum depression atau yang dikenal dengan depresi pasca melahirkan. Menurut Gaedrahmati et al. (2017), adanya riwayat depresi dan kecemasan sebelumnya menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan risiko depresi pasca melahirkan yang lebih tinggi. Lelah dan jenuh akan rutinitas sehari-hari, tuntutan ibu mertua, serta anggapan bahwa menjadi ibu rumah tangga merupakan pekerjaan mudah karena hanya menikmati gaji suami membuat Ji-young mengalami tekanan batin. Kehidupan setelah resign pasca menikah menjadikannya kehilangan jati diri. Keinginan untuk kembali bekerja namun ditolak oleh ibu mertua seakan membuatnya “terperangkap”.

Kim Ji-young, diperankan oleh Jung Yu-mi, sejak kecil dan selama fase hidupnya telah mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan dan diskriminasi. Ia selalu melihat bagaimana seorang perempuan selalu dipandang sebelah mata dan berkorban untuk laki-laki. Pada salah satu scene, Ji-young kecil bertanya pada ibunya, “apa cita-cita ibu?” Sang ibu mengungkapkan keinginannya menjadi seorang guru, tetapi tidak terlaksana karena bekerja membantu saudara laki-lakinya. Kemudian hubungannya dengan sang ayah pun bisa dikatakan kurang baik. Sang ayah selalu memfokuskan perhatiannya pada adik Ji-young.

Tak hanya itu, di lingkungan pekerjaan, saat ia belum menikah, seorang perempuan pun mengalami diskriminasi. Walau mempunyai kemampuan mumpuni pun tak lolos dalam tim hanya karena seorang perempuan. Saat promosi jabatan pun mereka dipromosikan satu tahun lebih lambat dibandingkan dengan pekerja laki-laki.

 Saat berada pada titik terendah Ji-young akan bertindak seolah dia menjadi ibu, ibu mertua, atau neneknya. Dae-hyeon, suami Ji-young, merupakan orang yang pertama yang menyadari jika Ji-young mengalami hal janggal tersebut. Ketidaktahuannya akan penyakit yang dialami sang istri, Dae-hyeon berusaha mendatangi psikiater.

Emosi yang dirasakan oleh setiap karakter ditampilkan secara apik. Tak hanya tokoh utama namun juga pemeran pendukungnya. Ibu Kim Ji-young yang diperankan oleh Kim Min-kyung pun sukses mengekspresikan semua hal-hal yang ia pendam selama ini. Pada scene ini, saya pun  dibuat menangis melihatnya.

Sebenarnya beberapa hal dalam film ini cukup relate dengan kondisi di Indonesia. Salah satu yang paling menonjol yaitu tentang kesehatan mental. Tidak semua orang aware dan paham akan kesehatan mental. Jika salah satu anggota keluarga mengalami hal yang dialami oleh Kim Ji-joung mereka akan membawanya ke orang pintar untuk di ruqyah. Walaupun akses informasi sudah terbuka, terdapat beberapa orang enggan mendatangi psikolog atau psikiater untuk mencari bantuan dengan alasan takut, belum parah, ataupun stigma masyarakat yang mengkategorikannya sebagai “orang gila”.

Sama seperti bukunya yang menuai kontroversi, film ini pun menuai kritikan. Dilansir dari BBC, sang pemeran utama, Jung Yu-mi, pun menerima komentar pedas dari netizen. Lebih parahnya, bahkan terdapat petisi meminta presiden untuk melarang penayangan film ini serta netizen berbondong-bondong memberikan bad review sebelum tayang.

Secara keseluruhan film ini bukanlah film yang berat, namun sarat akan realitas sosial yang berkembang saat ini. Mulai dari mengupas isu feminisme dan patriarki di Korea Selatan yang lumayan berkaitan di Indonesia hingga masalah kesehatan mental yang dialami ibu rumah tangga.

Editor : Salwa Nida’ul Mufidah

156 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *