KILAS BALIK PERINGATAN 10 NOVEMBER

KILAS BALIK PERINGATAN 10 NOVEMBER

(Sumber Foto : www.situsbaca.com)

Oleh: Rafani Adhyapaka Shafira

“Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri

Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa s ejati

Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh sribu
Tanah air jaya sakti” ­– Gugur Bunga

BACAEKON.COM-OPINI. Masih ingatkah kalian dengan lirik lagu di atas? Atau Setidaknya masih ingatkah kalian dengan judul lagu tersebut?

Gugur Bunga, telah gugur pahlawan-pahlawan kami dalam medan perang. Purna sudah baktinya kepada negeri Indonesia Raya dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bait-bait lirik nan indah karangan Ismail Marzuki ini, mengingatkan kembali akan peristiwa sakral, 10 November 1945 silam. Peristiwa berdarah di tanah Surabaya, yang menewaskan beribu-ribu pejuang didalamnya.

Beralih pada peristiwa 71 tahun yang lalu, sebuah refleksi kisah juang bela negara dari arek-arek Suroboyo yang sekarang telah terukir sejarahnya pada monumen peringatan 10 November, Tugu Pahlawan yang letaknya di tengah kota Surabaya. Berikut adalah cuplikan sejarah peristiwanya.

Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, akibat peristiwa baku tembak, maka penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Pada tanggal 9 November 1945, Inggris mengeluarkan ultimatum yang berisi ancaman akan menggempur kota Surabaya dari darat, laut, dan udara apabila orang-orang Indonesia Surabaya tidak menaati perintah Inggris. Batas ultimatum adalah jam 06.00 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan / milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.

Pada 10 November 1945 pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan bom udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang.

Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal maupun terluka.

Para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pejuang-pejuang Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.

Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri – santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) sehingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.

Setidaknya 6.000-16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600-2.000 tentara. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_10_November , dengan sedikit perubahan).

10 November, menjadi titik balik memaknai arti kemerdekaan. Jatuh sebagai Hari Pahlawan, sebagai peristiwa mengenang para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Sebuah ungkapan menyatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati dan menghargai pahlawannya. Memang hasil kerja keras para pahlawan terdahulu, hanya dapat kita nikmati dalam rupa-rupa bentuk, yang telah terukir pada monumen peringatan, patung, gambar maupun cerita sejarah.

Pemaknaan hari pahlawan kini telah berubah. Peringatan 10 November pada setiap tahunnya hanya sebatas seremonial belaka, tanpa ada pemaknaan lebih lanjut pada setiap individunya. Kita memang tidak merasakan perang melawan penjajah Inggris maupun Belanda seperti peristiwa 10 November 1945, namun sebagai generasi muda penerus bangsa yang katanya penuh dengan cita-cita, lebih baik tunjukan diri masing-masing individu untuk turut berkontribusi membangun negeri dengan tetap mempertahankan adat-adat ketimuran.

Berbeda halnya dengan perjuangan dahulu. Memang kali ini tidak hanya menggunakan senjata, dalam makna lain, perjuangan generasi-generasi muda Indonesia adalah mewujudkan cita-cita para pahlawan terdahulu dalam mempertahankan kemerdakaan Indonesia sesuai dengan perkembangan zaman.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_10_November ,  dengan sedikit perubahan.

 

5938 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *