KENDALI IMAN, KUNCI MORAL DAN ETIKA PENDIDIKAN

KENDALI IMAN, KUNCI MORAL DAN ETIKA PENDIDIKAN

(Foto : tongkronganislami.com)

Oleh: Restin Septiana

 “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3)

BACAEKON.COM-OASE. Apa yang dapat mengeluarkan umat manusia dari kekafiran, kefasikan, dan kedzaliman diri? Ialah ilmu yang akan membawa mereka pada keimanan. Begitulah Abdurrahman Al-Mukaffi dalam buku sakunya yang berjudul 50 Perisai Mukmin menyebutkan. Orang yang memiliki perisai ilmu akan menjadi cahaya di tengah gelapnya alam jahiliyah. Ilmu pengetahuan ini memang dapat diperoleh di mana dan dari siapapun, seperti ungkapan Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan di Indonesia, “Jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan jadikan setiap orang sebagai guru.”

Pun demikian di dalam Al-Qur’an Surat Al-Jaatsiyah ayat 12-13, Allah SWT berfirman, “Allah-lah yang menundukan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” Begitulah petunjuk dari Allah SWT yang hadir di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an bagi seorang mukmin menurut Abdurrahman Al-Mukaffi merupakan perisai yang dapat menunjukan (Al-Huda), membuktikan (Al-Bayan), dan membedakan (Al-Furqan) segala aktivitas kehidupan dengan sempurna karena memiliki kebenaran mutlak yang menjamin kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Maka sebagai seorang mukmin barang tentu untuk menjadi seorang pemikir memerlukan wadah seperti lembaga pendidikan yang dapat digunakannya sebagai salah satu sarana penimba ilmu. Pendidikan sendiri dalam KBBI adalah proses untuk mengubah sikap dan perilaku seseorang atau kelompok orang dalam upaya mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, lewat proses, cara, dan perbuatan yang mendidik. Maka pendidikan sebagai sarana menimba ilmu ini tidak saja menjadi tanggungjawab setiap insannya. Namun juga menjadi tanggungjawab lembaga pendidikannya. Tidak lupa dengan proses yang mendidik bukan sekedar mengajar tentunya. Maka capaian dari peserta didik haruslah sesuai dengan apa yang dikerjakannya.

Masalah moral dan etika barangkali masih menjadi isu yang hangat menghiasi dunia pendidikan dewasa ini. Gonjang-ganjing tentang ijazah palsu, kecurangan dalam ujian, hingga pemalsuan dokumen. Padahal Allah SWT telah mengangkat derajat orang-orang yang memiliki perisai ilmu dengan landasan iman. Karena tidaklah dikatakan berilmu atau bermanfaat ilmunya sedikitpun tanpa adanya kendali iman. Sebagaimana yang tersirat dalam firman-Nya, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”(QS. Al-Mujaadilah: 11). Kendali iman digunakan untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat. Maka dalam proses pencapaiannya pun kendali iman janganlah terlepas. Bagaimanakah proses kita memperoleh ilmu itu selama ini?

Rasulullah SAW, bersabda, “Tiap-tiap agama mempunyai budi pekerti dan budi pekerti dalam Islam ialah malu.” (HR. Malik). Seyogianya kita merasa malu, apabila dalam proses menimba ilmu di lembaga pendidikan dilakukan tidak sesuai dengan seruan-Nya. Maka sepantasnya kita kembali benar sesuai jalannya. Bukan sekedar nama mata kuliah yang berbau islami tapi juga proses memperolehnya dengan benar. Mengakui apa yang dilakukan dan tidak menyuarakan yang belum pernah dilakukan. Sebab belajarpun adalah suatu amanah dari proses dan tanggungjawab yang menyertainya.

Begitulah sebagai seorang mukmin yang berupaya senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, menjadikan Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagai pedoman hidupnya. Atas mukmin yang demikian Al-Qur’an bukan sekedar bacaan yang mengisi kekosongan waktu setelah melaksanakan shalat-shalat fardhu atau acara-acara ritual lainnya dalam perayaan hari-hari besar Islam. Lebih dari itu bacaan Qur’annya memberi pelajaran sebagai tambahan aset atas keimanan yang sudah ada untuk tunduk mengimani Qur’an, berpedoman kepadanya, mengadili di antara manusia dengannya, dan tidak merasa keberatan dengan segala putusan yang telah digariskan.(50 Perisai Mukmin, 1418 H)

 

8889 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *