KEINDAHAN DALAM BERTOLERANSI

KEINDAHAN DALAM BERTOLERANSI

(Sumber Foto : qureta.com)

Oleh: Raden Allan Finaldo

“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujurat: 13)

BACAEKON.COM-OASE. Allah SWT sengaja menciptakan manusia berbeda-beda salah satunya adalah perbedaan agama. Tujuannya agar manusia dapat saling menghargai dan menghormati perbedaan, maka dibutuhkan sifat toleransi dalam beragama. Dalam kaitannya dengan toleransi antar umat beragama, toleransi hendaknya dapat dimaknai sebagai suatu sikap untuk dapat hidup bersama masyarakat penganut agama lain. Memiliki kebebasan untuk menjalankan prinsip-prinsip keagamaan masing-masing, tanpa adanya paksaan dan tekanan, baik untuk beribadah maupun tidak beribadah, dari satu pihak ke pihak lain. Hal demikian, dalam tingkat praktek-praktek sosial, dapat dimulai dari sikap bertetangga, karena toleransi yang paling hakiki adalah sikap kebersamaan antara penganut keagamaan dalam praktek sosial dan kehidupan bertetangga serta bermasyarakat.

Sikap toleransi antar umat beragama bisa dimulai dari hidup bertetangga baik dengan tetangga yang seiman dengan kita maupun tidak. Sikap toleransi dapat direfleksikan dengan cara saling menghormati, saling memuliakan, dan saling tolong-menolong. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, ketika suatu hari beliau dan para sahabat sedang berkumpul, kemudian lewatlah rombongan orang Yahudi yang mengantar jenazah dan Nabi SAW langsung berdiri memberikan penghormatan. Seorang sahabat berkata, “Bukankah mereka orang Yahudi wahai Rasul?” Nabi SAW menjawab, “Ya, tapi mereka manusia juga”. Jadi sudah jelas bahwa Islam mengajarkan kita untuk saling menghormati dan menghargai antar umat manusia yang berbeda agama dengan membiarkan ibadah mereka, tetapi bukan turut serta dalam ibadah mereka. Karena Islam mengajarkan prinsip sebagaimana yang tersirat dalam firman-Nya, “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). Dan dengan kepercayaan masing-masing kita tidak diwajibkan untuk ikut serta dalam ibadah agama lain karena itu merupakan dosa seperti yang dicantumkan pada firman-Nya, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al Qashshash: 55)

Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai perbedaan agama, dikatakan, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). Perbedaan agama bukanlah suatu masalah yang dapat menimbulkan perpecahan umat manusia, melainkan salah satu cara kita berinteraksi dan saling berbagi satu sama yang lain.

Di Indonesia sendiri memiliki Pancasila sebagai landasan dan acuan dalam berkehidupan di Negara. Pancasila telah mengajarkan kita mengenai perbedaan agama seperti yang disebutkan pada sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Makna sila pertama dari pancasila tersebut tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2  yaitu (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu adab. Sebagai contoh nya tidak melakukan penistaan dari suatu agama seperti melakukan pembakaran rumah-rumah ibadah atau bentuk pelecehan lainnya karena hal itu tidak menunjukan dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Maka dari itu Pancasila menjaga keamanan dan ketentraman penduduk yang tinggal di Indonesia. Sesuai yang diharapkan Nabi kita Rasulullah SAW, untuk hidup rukun antar umat manusia meski terdapat perbedaan. Kita sebagai umat muslim yang mayoritas tinggal di Indonesia wajib untuk menghargai dan menghormati agama lain. Sebab Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang Sahabat tentang agama yang paling dicintai oleh Allah, kemudian beliau menjawab: al-Hanifiyyah al-Samhah yang artinya adalah agama lurus yang penuh toleransi.

8259 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *