Kebenaran Media

Kebenaran Media

Oleh : Fardholi Sahrizal

Bacaekon.com-Opini. “Jangan sampai saudara-saudara mengeluarkan satu perkataan pun dari tetesan pena saudara yang tidak berisi satu kebenaran. Oleh karena tiap-tiap tetesan pena saudara dipercayai oleh pembaca”.

Sebelumnya, merupakan kutipan pesan Soekarno kepada para wartawan, saat acara ramah tamah di istana Bogor, 20 November 1968. Pesan tersebut muncul, tentu bukan tanpa sebab. Keprihatinan akan tulisan-tulisan di media saat itu yang mengarahkan pada “gontok-gontokan, gebug-gebugan, bakar-bakar semangat” dan akhirnya self destruction (kehancuran) menjadi alasannya. Lalu bagaimana dengan era sekarang ini?

Informasi yang Anda dapatkan dari media televisi, radio, cetak, ataupun internet, seberapa besar mempengaruhi kehidupan Anda? Coba saya tebak, saat Pemilihan Umum (Pemilu) lalu Anda memantau berita terlebih dahulu untuk menentukan pilihan. Anda mengkritisi saat ada kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Anda memilih rute memutar karena jalan utama diberitakan macet. Anda menentukan tempat liburan tahun baru karena berita pariwisata yang menarik. Atau Anda ikut melakukan, karena isu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polisi Republik Indonesia (POLRI).

Saat ini banjir informasi melanda masyarakat. Era kebebasan berpendapat, masa teknologi informasi berkembang pesat. Media-media mainstream berlomba meraih eksistensi melalui berbagai macam bentuk produk. Lalu apa kabar dengan nilai kebenaran yang harus dipertanggungjawabkan? Pertanyaan ini akan menarik, saat kita menilik berita-berita politik pada media mainstream pada tahun politik lalu sampai  dengan saat ini. Karena informasi yang diberitakan media akan mengarahkan opini publik, yang akan menimbulkan dampak pada masyarakat. Oleh sebab itu, kenapa nilai kebenaran pada suatu informasi dalam bentuk apapun sangatlah penting. Apalagi akses mendapatkan informasi itu sangat terbuka.

Perihal berita media akan mengarahkan opini publik, maka profesi jurnalis tidak boleh netral, dan harus memihak. Keberpihakkan pada nilai kebenaran tentunya. Akan tetapi bukan kah pemilik media saat ini, kebanyakan mengintervensi untuk memihak kepentingan tertentu? Bukan memihak kepada siapa, jurnalis harus independen dalam bersikap, bahkan kepada pemilik media itu sendiri.

Pertanyaan berikutnya yang akan muncul, “lalu kebenaran yang mana?”. Tentu sudut pandang kebenaran setiap paham, kepercayaan atau filosofi belum tentu sama. Dan latar belakang jurnalis akan mempengaruhi tafsir kebenaran yang berbeda-beda. Dalam Sembilan Elemen Jurnalisme rumusan Bill Kovach dan Tom Rosentiel, menerangkan bahwa masyarakat butuh prosedur dan proses guna mendapatkan apa yang disebut kebenaran fungsional. Seperti halnya seperti hakim yang menjalankan kebenaran fungsional, yang kebenarannya senantiasa bisa direvisi. Seorang terdakwa tidak terbukti bersalah, hakim bisa keliru. Hal yang sama yang dilakukan pada jurnalisme, bukan kebenaran dalam tataran filosofis melainkan kebenaran fungsional.

Maka dalam pertemuan di istana Bogor itu. Sukarno mengingatkan, “saudara sebagai wartawan saudara punya pekerjaan itu sebetulnya gawat sekali. Oleh karena sampai sekarang ini apa yang ditulis di surat kabar dipercaya. Het volk gelooft het (rakyat percaya)”.

*Sumber: Majalah Historia, historia.co.id

 

784 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *