Opini

Jangan-jangan, Kita adalah Pelaku Pelecehan Seksual

Foto : Pixabay/Anemone123

Oleh : Ikrar Aruming Wilujeng

Concern publik terhadap sexual harassment belakangan ini semakin tergugah. Topik tersebut banyak dibicarakan dan didiskusikan di ruang publik. Keadaan ini merupakan angin segar di tengah kondisi masyarakat Indonesia yang kadang suka sedikit sexist dan misoginis. Berawal dari mencuatnya kasus pelecehan seksual oleh Reynhard Sinaga di Inggris membuat kasus pelecehan di tanah air terbuka satu per satu di media sosial. 

Saat kasus Reynhard Sinaga ramai dibicarakan, banyak masyarakat yang takjub terhadap sikap media Inggris dalam memberitakan kasus ini. Media Inggris bersikap profesional dengan tidak membongkar atau menyudutkan latar belakang pelaku. Yang disorot memang benar-benar personal pelakunya. Tidak ada pemberitaan mengenai gaya berpakaian Reynhard, keluarganya siapa aja, marganya apa, agamanya apa, sukunya apa, dan bagaimana tampangnya.

Agaknya sikap media Inggris perlu menjadi contoh bagi media Indonesia ketika mewartakan kasus pelecehan seksual. Lebih tepatnya nggak cuma kasus pelecehan seksual, sih, tetapi juga kasus lain yang seharusnya hanya dan cukup memblow up personal seseorang saja. Namun sebaiknya nggak hanya media mainstream aja deh yang disuruh berkaca, tetapi masyarakat bin netizen seperti kita perlu mencontoh sikap media Inggris.

Masyarakat alias netizen nih memang suka begitu. Ada-ada saja pikirannya. Tingkat kekepoannya terkadang tidak hanya berhenti pada “siapa pelakunya”, tetapi juga “siapa ya bapaknya? Kayaknya dia salah didik, deh!” Atau, “hilih tidak kaget kalau akhi-akhi yang melakukan tindakan itu!”

Apa sih untungnya dari mencela latar belakang dan kerabat pelaku? Nggak ada! Adanya kerugian. Berikut adalah kerugian yang kamu dapatkan jika julid terhadap latar belakang dan kerabat pelaku!

1.Membuat Hatimu Tidak Tenang~

Alih-alih mencoba untuk meluapkan segala emosi, hatimu malah jadi semakin suram tuh gara-gara banyak marah-marah untuk sesuatu yang tidak penting. Marah-marah untuk sesuatu yang tidak penting dan tidak profit menimbulkan gejala ndredeg, kunang-kunang, dan haus yang berlebihan.

2. Membuang-buang Waktu

Ketika hendak menghujat latar belakang dan kerabat pelaku, nggak mungkin dong kamu tiba-tiba dapat wangsit melalui mimpi mengenai silsilah keluarga pelaku? Kamu pasti butuh melakukan riset! Stalking instagram keluarga pelaku adalah salah satu riset kecil-kecilan yang biasa dilakukan sebagian netizen. Kenapa tidak kau gunakan waktu risetmu untuk nyicil skripsian saja?

3. Cedera Jari dan Sakit Kepala

Banyak membuang waktu untuk riset berdampak pada kesehatanmu loh, nder. Ketika sibuk meriset, pergerakan mata dan jempol tangan akan lebih aktif dari biasanya. Makanya jempolmu akan terasa nyeri karena jadi hiperaktif. Ditambah kalo lagi ngeriset pasti nengok ke bawah mulu. Seorang ahli bedah di New York bilang, katanya jika kita memiringkan leher ke bawah di sudut 45 derajat, katanya sama dengan meletakkan beban seberat 24Kg di leher! Ngeri bro~

Setelah mengetahui dampaknya, apakah kamu masih mau menghujat sesuatu yang tidak penting itu? 

Kritik adalah hak sejuta umat. Kritik dan kecaman terhadap pelaku pelecehan seksual harus dan wajib diberikan. Tidak ada toleransi sedikitpun pada tindakan pelecehan seksual. Tetapi rasanya kritikanmu kurang afdol kalau kamu sendiri tidak memahami apa itu pelecehan seksual dengan benar dan bijak. Jangan-jangan, malah kamu juga pelaku pelecehan seksual secara tidak sadar. “Halah cuma dichat gitu doang”, “Lebay banget, sih, digituin doang udah marah marah.”

Dikutip oleh Tirto.id, menurut International Labour Organization, Pelecehan Seksual adalah bentuk diskriminasi seksual serius yang mempengaruhi wibawa perempuan dan laki-laki. Pelecehan dapat berbentuk verbal maupun kontak fisik, selain itu dapat berbentuk lain, sebagai berikut :

-Komentar, gurauan, rayuan atau penghinaan bernada seksual 

-Pertanyaan intrusif tentang kehidupan pribadi atau komentar bernada seksual tentang penampilan, pakaian atau bagian tubuh

-Undangan untuk melakukan hubungan seks yang tidak diinginkan atau permintaan berkencan secara terus-menerus 

-Menunjukkan gambar-gambar seksual secara eksplisit (misalnya poster, screen saver atau situs internet) 

-Mengirim, meneruskan atau membujuk melalui pesan-pesan bernada seksual (misalnya surat, catatan, email, Twitter atau SMS) 

-Gerakan seksual yang tidak diinginkan, seperti menyentuh, menepuk, mencubit, sengaja menyentuh tubuh orang lain, memeluk, mencium, menatap atau melirik

-Tindakan yang merupakan pelanggaran hukum pidana, seperti penyerangan secara fisik, menguntit atau menyampaikan cerita cabul.

Baca selengkapnya di artikel “Bentuk-Bentuk Pelecehan Seksual, Rayuan Hingga Perkosaan”, https://tirto.id/elTB

Sebelum lanjut membaca, silakan dibaca dengan seksama jenis-jenis pelecehan seksual di atas. Pelecehan seksual tak hanya dikerucutkan pada pemerkosaan dan tindakan fisik pada organ privat manusia saja. 

Pelecehan seksual dapat terbungkus dengan gurauan dan cuap-cuap sederhana yang nampaknya tidak akan menyakiti siapapun. Tetapi siapa sangka, ujaran nakal yang berbau seksual adalah gerbang dari tindakan pelecehan seksual yang lainnya. Jika kamu pernah melontarkan ujaran seperti “kamu cewek apa cowok? Kok datar?”, “rahimku hangat”, kamu adalah pelaku pelecehan seksual! Segeralah meminta maaf!

Pelecehan seksual terjadi di luar consent pihak-pihak yang terlibat. Consent merupakan kesepakatan atau persetujuan yang terjadi antara pihak yang terlibat untuk melakukan sesuatu. Jika melakukan tindakan seksual dengan kesepakatan dan atas dasar sama-sama mau, tindakan tersebut tidak termasuk pelecehan seksual. Sepasang kekasih yang tengah memadu kasih di kamar kos, dengan mengesampingkan norma yang berlaku, adalah tindakan yang sah di dalam consent. Jadi belajarlah untuk memahami consent sebelum memasuki ranah seksual. Sebab jika suami memaksa istri untuk bersenggama pun termasuk tindak perkosaan.

Momen terkuaknya banyak kasus pelecehan seksual semestinya dapat meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan kita. Pelecehan seksual itu nyata adanya. Sudah semestinya semuanya menyadari bahwa pelecehan seksual harus dilawan bersama-sama. Mengapa demikian? Tidak sedikit korban mengalami trauma. Mereka membutuhkan pendampingan dan dukungan dari kita semua; bahwa ia tak sendiri. 

“Kalau dilecehin, kenapa nggak ngelawan aja, sih?”

Kenapa korban perkosaan tidak memberontak? Ketika pelecehan seksual terjadi, korban akan mengalami tonic immobility. Keadaan ini merupakan kelumpuhan sementara yang membuat korban tidak dapat bergerak untuk membela diri, bahkan tidak bisa bicara. Menurut Arkansas Coalition Against Sexualt Assault (ACASA) hormon corticosteroid mereduksi energi korban ketika mendapat pelecehan seksual. Sehingga korban tidak bereaksi apapun.

Fakta ini bisa menjadi alasan yang kuat untuk menjawab mengapa korban pelecehan seksual tidak berani melawan. Otak seakan dibajak untuk tidak melakukan reaksi apapun. Sebesar itu pengaruh pelecehan seksual, sampai-sampai menyerang psikologis secara spontan.

Tidak sedikit juga fenomena victim blaming yang membuat korban terus dicari-cari kesalahannya. Yang paling umum dijadikan bumerang adalah mengenai pakaian. Katanya sih, berpakaian terbuka adalah sebab dari motif pelaku melakukan tindak pelecehan. Apa iya?

Data Jakarta Post mengenai survei yang dilakukan oleh Hollaback! Jakarta, perEMPUan, Lentera Sintas Indonesia, Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta, dan Change.org Indonesia, membuktikan bahwa kasus pelecehan seksual tertinggi didapatkan oleh perempuan yang memakai rok/celana panjang (18%), lalu disusul oleh pemakai jilbab (17%). Survei ini cukup bisa membuktikan bahwa pakaian korban bukanlah sebab dari pelaku melancarkan aksi pelecehan. Kalau perempuan disuruh untuk menutup pakaiannya agar tidak mendapat pelecehan seksual, lantas, laki-laki apanya yang harus ditutup agar tidak melakukan tindak pelecehan?

Motif pelecehan seksual murni dan hanya muncul dari otak pelaku. Siapapun bisa menjadi pelaku pelecehan. Pun siapapun bisa menjadi korban pelecehan; perempuan dan laki-laki. Di dunia ini pelaku pelecehan tidak hanya berkumis dan memakai kacamata saja. Kaum hawa pun juga banyak yang menjadi pelaku pelecehan seksual. Komentar sensual pada postingan Pangeran Mateen adalah kasus yang paling hangat dijagat perinternetan netizen Indonesia. Pelecehan seksual verbal nampaknya memang kurang disadari dan kurang dipahami netizen~

Di momentum yang sedang panas membicarakan kasus pelecehan seksual ini, mari kita sama-sama berkaca, apakah kita sudah bebas dari tindakan melakukan pelecehan seksual? Membebaskan lingkungan kampus dari pelecehan seksual harus dimulai dari mayoritas penghuni kampus; mahasiswa. Sembari menunggu birokrat, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, dan Aliansi UII Bergerak menyusut kasus pelecehan oleh IM, yuk kita sama-sama mulai melek mengenai pelecehan seksual.

Tidak ada pelecehan seksual ringan, tidak ada pelecehan seksual setengah ringan, dan tidak ada pelecehan seksual yang tidak ringan. Segala bentuk pelecehan seksual sepakat untuk tidak bisa ditolerir!

Editor : Retno

778 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *