Buku Rekomendasi

Jangan Jadi Dewasa yang Menyebalkan

Foto: www.theguardian.com

Oleh: Ayu Rezkyana S.

Judul: The Little Prince (Pangeran Kecil)

Pengarang: Antoine de Saint-Exupery

Tebal: 112 halaman

Penerbit:  PT Gramedia Pustaka Utama

“Mereka sangat terburu-buru,” kata pangeran kecil. “Apa yang mereka cari?”-hal 86

Menjadi dewasa tidaklah buruk, justru hal bagus. Tetapi kadang manusia menanggapi beberapa hal dengan berlebihan, dan itu menyebalkan. Saat beranjak dewasa sudut pandang seakan ikut menjadi dewasa, menghilangkan jejak bahwa kita juga dulu adalah anak-anak. Kita berubah menjadi dewasa yang hampir segala hal ditanggapi serius, hidup kaku, monoton, individualis, dan terlalu larut menjadi budak-budak angka. Jika kalian menilai buku ini adalah bacaan ringan karena fisik tipisnya dan gambarnya yang kekanakkan, maka kalian benarlah orang dewasa. Buku penuh sindiran dan pemikiran ini dirasa sesuai untuk dibaca saat usia kita; yang katanya sedang beranjak dewasa. 

Berkisah tentang seorang pilot yang terdampar di gurun dan tidak memiliki banyak perbekalan, namun tetap mencoba memperbaiki pesawat kecilnya untuk kembali ke tempatnya. Di tengah usaha memperbaiki pesawatnya, sang pilot berjumpa dengan seorang anak kecil yang berambut kuning keemasan dan memakai pakaian rapi. Ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang pangeran kecil. Pangeran kecil datang dan meminta pilot untuk menggambarkannya biri-biri. Dari mana datangnya anak kecil ini? Kenapa juga aku harus menggambarkannya biri-biri? Lalu kenapa harus biri-biri?  Di benak pilot dan pembaca, ini absurd! 

Akhirnya sang pilot menggambarkan biri-biri untuk pangeran kecil. Tiga kali ia menggambar biri-biri, dan semua gambar ditolak olehnya. Pangeran kecil seakan tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Akhirnya sang pilot berakhir dengan menggambar sebuah kotak dengan tiga lubang kecil dan berkata “ini kotak dan biri-birimu ada di dalamnya.” Tebak apa yang dikatakan pangeran kecil? Ya, pangeran kecil berkata bahwa inilah biri-biri yang dia inginkan, biri-biri sehat di dalam sebuah kotak yang penuh makanan. 

Seketika sang pilot tersadar bahwa selagi ia kecil ia juga merasa bahwa tidak satu orang dewasapun yang mengerti apa yang diinginkannya. Saat usianya berkisar 6 tahun sang pilot menggambar ular yang memakan gajah, namun orang dewasa menganggap bahwa ia menggambar topi. Tingkah sederhana pangeran kecil sudah menyadarkan sang pilot bahwa menjadi dewasa, membuat kita lupa esensi menikmati hidup.

“…Orang dewasa tidak pernah mengerti apa-apa sendiri, maka sungguh menjemukan bagi anak-anak, perlu memberi penjelasan terus menerus.” –hal 9

Bagi orang dewasa imajinasi atau sudut pandang serta deskripsi dianggap tidak begitu penting. Cukup sebutkan nilai atau angkanya maka mereka seketika sudah mengerti semuanya. Tuntutan kehidupan tanpa sadar mendorong kita mengejar angka, dan semakin lama angka yang besar menjadi tujuannya. Uang, kekayaan, prestasi, membuat kita lupa bahwa juga ada keindahan dan keanggunan tentang bunga bunga di pinggir jalan yang masih basah berembun, tentang luasnya lautan yang saat kecil dulu kupikir akan tumpah saat bumi berputar. 

“Jika kau berkata kepada orang-orang dewasa, “Aku melihat rumah indah terbuat dari bata merah jambu, dengan bunga geranium di jendela-jendelanya, dan merpati di atapnya, mereka tak bisa membayangkan rumah semacam itu. Kau harus berkata, ‘Aku melihat rumah yang harganya seratus ribu franc.” maka  mereka akan berseru, ‘oh pasti indah sekali!’”-hal 24

#Pangeran kecil

Selama ini pangeran kecil melakukan perjalanan ke berbagai planet dan bintang-bintang demi mencari sebuah arti menjadi dewasa dan dicintai. Planet-planet yang dikunjunginya diberi tanda dengan angka karena orang dewasa menyukai angka. 

Di planet pertama pangeran bertemu seorang raja yang hanya mau memerintah. Lalu di planet selanjutnya ia bertemu si orang angkuh yang terus mengagumi dirinya dan menganggap semua orang adalah pengagumnya. Selanjutnya ia beranjak ke sebuah planet yang tidak kalah suramya, isinya seorang pemabuk yang hanya ingin minum terus terusan untuk melupakan. 

Ia juga beranjak ke planet di mana planet itu dihuni pengusaha yang terlalu sibuk menghitung bagaimana caranya untuk jadi kaya, ia tak ingin membuang waktunya walau hanya untuk sekedar berbincang. Juga ada seorang penjaga lampu yang menganggap dirinya begitu penting, hingga ia mengorbankan dirinya untuk tidak menikmati hidup. Dan seorang ahli geografi yang terlalu sibuk di menara gading sampai lupa untuk menjelajahi dunia. 

Para penghuni planet itu, atau justru itu adalah kita, seringkali menganggap diri sebagai pusat dari semesta. Bahwa hanya dirinya sendiri yang penting, dan lainnya tidak. 

“…Mengadili diri sendiri lebih sulit daripada mengadili orang lain. Jika kamu berhasil, berarti kamu betul-betul orang yang bijaksana.’” hal. 47

Planet yang terakhir dikunjunginya adalah bumi, di luar bertemu sang narator, pangeran kecil bertemu dengan seekor rubah yang masih nampak malu dan sedikit takut padanya. Pangeran kecil mengajak rubah itu bermain tetapi rubah menolak dan pergi. Keesokan harinya rubah itu muncul lagi dengan sedikit keberanian. Setelah perbincangannya dengan pangeran kecil, si rubah akhirnya menjadi jinak padanya. 

Rubah mengajarkan pangeran kecil tentang bagaimana suatu hubungan itu terbentuk; dari yang tidak tahu menahu, lalu menjadi jinak atau dekat lekat, setelah itu juga ada yang namanya perpisahan. Pangeran kecil terus berjalan melanjutkan perjalanannya sampai pada sebuah padang mawar yang akhirnya mengingatkannya akan sesuatu di planetnya. 

Pangeran kecil berasal dari sebuah planet yang tidak lebih besar dari dirinya sendiri, ia ditemani setangkai mawar yang sungguh banyak inginnya. Meski begitu pangeran kecil tidak lelah dengan mawarnya, ia tetap melakukan apa yang dimintanya hingga bunga mawarpun luluh padanya. Pangeran kecil berhasil menjinakkan mawarnya yang egois bukan karena apa, karena hanya itu yang ia punya di planetnya.

“Inilah rahasiaku. Sangat sederhana: hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata.”-hal 88

Buku yang nyaris tanpa cacat dan mengingatkan bagaimana menjadi manusia dewasa yang tidak terlalu menyebalkan. Buku tipis yang dikemas dengan gaya bahasa sederhana dan gambar yang dibuat dengan goresan tebal juga jujur, mampu mengajarkan bagaimana menilai segala sesuatu tidak hanya melalui sampul. Buku yang mengajak kita untuk melihat sesuatu sebagaimana anak kecil yang sederhana, polos, dan apa adanya. Mungkin justru dengan begitu kita akan dekat dengan kedewasaan. 

Hidup itu sejatinya sederhana tetapi terkadang kita sendiri yang membuatnya rumit. Terlalu berfokus pada mendapatkan, bukan memberi. Terlalu terpaku pada uang dan angka ketimbang pada keindahan sejati yang ada di dalam diri.

Editor : Ikrar

110 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *