Berita Kampus

Jaga Kestabilan Iklim, Semata 2019 Lepaskan 100 Burung Merpati

Foto : Rizky

Oleh : Retno Puspito Sari

Jika biasanya pembukaan acara dilakukan dengan menerbangkan balon, Semangat Taaruf (Semata) Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) 2019 ini dibuka dengan pelepasan burung merpati sejumlah 100 ekor. Opening Ceremony Semata 2019 dilakukan di halaman depan FE UII pada tanggal 18 Agustus 2019, pukul 07.00 WIB. Pelepasan burung ini dilakukan oleh jajaran dekanat dengan bantuan dari perwakilan peserta dan wali jamaah.

Penggunaan balon dianggap dapat merusak lingkungan dan mengganggu penerbangan. Maka dari itu muncul opsi lain untuk membuka acara Semata UII 2019. Berdasarkan penuturan Ketua Organizing Committee, Agung Prastyo, sebelum dipilih ide ini, Semata ingin dibuka dengan memencet sirine. Tetapi karena terlihat kurang menarik, ide tersebut dibatalkan. Agung juga mengatakan, awalnya panitia ingin menerbangkan 1000 burung pipit, tetapi tidak jadi dikarenakan burung pipit dianggap sebagai hama bagi petani. Senada dengan yang dituturkan oleh Naufal Majid selaku anggota Komisi A, wacana ini merupakan tantangan dari salah satu dosen di FE UII, Faaza Fakhrunnas, untuk mengejar konten viral atau rekor MURI.

Pemilihan ide pelepasan burung ini didasari oleh konsep acara yang bertajuk Collaborative Innovation for World Economics Climate Future. Agung memaparkan dipilihnya pelepasan burung ini lebih menekankan pada unsur kepedulian terhadap iklim. Selain itu sebagai representasi mahasiswa yang menjadi pemimpin masa depan di era 4.0 harus peduli dengan lingkungan. “Kenapa dipilih burung, karena ingin mahasiswa sebagai pemimpin masa depan harus peduli dengan lingkungan,” tutur Agung. 

Muhammad Rosyid Ridho, staf acara, mengungkapkan bahwa dipilihnya burung merpati ini melambangkan kebebasan dari satwa itu sendiri. Selain itu, harapannya agar burung merpati tersebut berada di lingkungan kampus, lalu dianggap sebagai warga baru dan  hewan peliharan di kampus FE UII.

Burung merpati yang diterbangkan didapatkan dari vendor di pasar. Agung juga menuturkan bahwa harga burung merpati yang digunakan adalah Rp 25.000 per ekor, sehingga biaya yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 2.500.000. Terkait dengan kotoran burung yang dikhawatirkan akan mengotori lingkungan kampus, Agung memaparkan bahwa pihak panitia telah berkonsultasi dengan pihak kampus. Pihak fakultas mewajarkan kotoran dari burung tersebut, bahwa kotoran burung bisa dijadikan sebagai pupuk organik.

Beberapa kendala terjadi sebelum acara pembukaan Semata 2019, seperti burung merpati yang diterbangkan seharusnya 100 ekor, tetapi hanya 97 ekor yang karena adanya kesalahan dalam pengangkutan. Selain itu, burung enggan terbang juga menjadi kendala acara ini. “Kendala yang terjadi itu dari vendor, sama burungnya malas terbang. Ekspektasi dari kami setelah dibuka burungnya akan keluar, tapi ternyata tidak. Jadi diambil saja lalu diterbangkan,” tutur Ridho.

Reporter: Azizah, Agung, Ikrar, Retno

Editor : Ikrar

280 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *