Oase

Internalisasi Islam di Masyarakat Perdesaan

Ilustrasi : Ayu Rezkyana

Oleh : Reza Fatah Ilman*

 

Bacaekon.com-Entitas agama sejatinya menciptakan kedamaian dan mencegah kerusakan. Tak lupa selalu menebar kebaikan ke siapapun dan kepercayaan apapun yang dianutnya. Pun dengan islam, islam mengajarkan untuk saling menebar manfaat ke setiap makhluk ciptaan-Nya, serta menjalin hubungan harmonis antar umat beragama. Di perdesaan, setiap individu beragama memahami dan mengimplementasikan ajaran tersebut ke dalam kehidupan muamalahnya. Mereka sepenuhnya menyadari bukanlah saudara seiman, melainkan saudara dalam kemanusiaan. Pengamalan seperti ini jarang terjadi di beberapa tempat karena ada perasaan paling benar dan cenderung menyalahkan yang tidak sependapat dengannya. 

Banyak kegiatan sosial yang masih bertahan dan diajarkan oleh islam, seperti gotong royong. Hal ini merupakan tanggung jawab moral bersama untuk mengamalkan nilai-nilai islam dan kemanusiaan, tak pandang pilih siapa atau apa yang dibantu. Yang terpenting saling berbagi rasa dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan masalah. Islam pun mengajarkan umatnya untuk bersikap baik dan peduli terhadap tetangga. Kuatnya hubungan silaturahmi antar tetangga di perdesaan terjalin sejak lama karena faktor saling membutuhkan dan pola komunikasi yang intensif.

Tak sedikit kegiatan keagamaan yang masih terjaga kelangsungannya, baik kegiatan untuk perempuan, laki laki, maupun anak-anak seperti yasinan, dzibaan, khataman, maupun tradisi hari besar islam lainnya. Hal ini mereka pertahankan karena adanya sebuah keyakinan dan rasa memiliki terhadap tradisi dan kebiasaan tersebut. Keyakinan tersebut pun tak menyeleweng dari ajaran. Bahkan islam memperbolehkannya guna mempertahankan budaya berasaskan nilai-nilai islam sekaligus sebagai metode dakwah Islamiah. Pelaksanaannya pun didampingi oleh kyai atau alim ulama untuk memastikan terjaganya nilai-nilai islam yang diangkat dalam tradisi tersebut. Berbagai tradisi itu rasanya tak pernah lekang oleh waktu. Kekhusyukan kepada Sang Khaliq terasa nikmat dan penuh makna. Senyum tawa yang terjadi menambah kuatnya rasa silaturahmi antar manusia. Hal tersebutlah yang membuat tradisi-tradisi itu digemari oleh semua kalangan. 

Masyarakat perdesaan terkadang tak perlu fatwa pemerintah untuk melegitimasi kegiatan mereka. Cukup alim ulama atau seseorang yang dituakan (yang dipercaya di daerah itu) untuk “memandu” kegiatan masyarakat. Memang terkadang cukup bias, namun itulah realitanya. Pendalaman ilmu agama islam harus senantiasa dilaksanakan secara progresif. Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya menyuruh umat-Nya untuk menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Tidak ada batas usia, waktu, hingga tempat yang membatasi umat-Nya untuk mencari ilmu, terkhusus ilmu agama. 

Kegiatan masyarakat desa semacam itu diterapkan menggunakan metode tradisional berdasar adat budaya setempat. Metode ini berbeda-beda untuk setiap jenjang usia dan gender. Memasrahkan segala urusan agama kepada ulama setempat terkadang membuat seseorang menjadi taklid buta, hanya ikut-ikut saja dengan dalih mencari barokah kyai. Hal tersebut menjadi titik resah pemuda di perdesaan yang memiliki gairah pengetahuan memuncak. Terkadang menjadi diskursus tersendiri di kalangan pemuda. Dialog-dialog keagamaan dengan tokoh atau ulama terkadang diberi ruang bebas agar terjadi konsensus pemahaman agama antar elemen masyarakat. Dibukanya ruang dialog tersebut menjadi cerminan interpretasi islam dalam kehidupan masyarakat perdesaan.

Dalam bidang pendidikan, masih banyak pondok pesantren yang mengajarkan kitab-kitab karya cendekiawan muslim; baik hadis, tafsir, nahwu, bahkan fiqh. Tak sedikit pula Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang berdiri kokoh, ditambah riuhnya suara anak-anak yang mengaji. Sekolah formal islam seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA) pun tetap populer di tengah persaingan sekolah negeri atau swasta unggulan. Hal ini disebabkan keinginan orang tua untuk melakukan internalisasi islam ke anak-anaknya.

Mengajarkan ilmu agama pada anak sejak dini memang sangat diharuskan dalam islam, agar anak tersebut dapat tumbuh berkembang teriringi dengan nilai-nilai islam. Harapannya dapat memberi manfaat kepada masyarakat dan menjadi insan ulil albab. Orang tua pun tak perlu risau dengan menyekolahkan anaknya di sekolah berbasis islam, karena tidak hanya diberi wawasan tentang agama, tetapi juga tentang sains sehingga dapat menciptakan ulama yang intelek atau cendekiawan muslim yang progresif.

Meskipun terkotakkan oleh kesederhanaan, distribusi harta dengan sedekah maupun zakat tak pernah lepas dari keseharian masyarakat perdesaan. Hal itu didasarkan pada rasa saling membantu dan niat mengamalkan ajaran islam. Dengan latar belakang kesederhanaan dan keterbatasan yang dimiliki, mereka tetap mengamalkan ajaran islam untuk berbagi. Bahkan sering kali ada kegiatan untuk membantu orang yang membutuhkan dengan melibatkan anak-anak untuk menumbuhkan sikap empati. Islam pun mengajarkan umatnya untuk tidak boros dan selalu berbagi dengan sesama tanpa pamrih.

*Penulis adalah Pengurus LEM FBE UII 2019/2020

 

Editor : Retno 

148 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *