Buku Rekomendasi

Insecurity: Memandang Diri Sebagai Hal yang Patut Disyukuri

Ilustrasi: Suci Dwi Arti

Narasi: Nur’Alif Nafilah

Bacaekon – Insecurity kerap kali muncul dalam diri manusia ketika berhadapan dengan perbedaan. Mereka yang good looking, mereka yang berprestasi, mereka yang sukses, mereka yang segalanya berbeda dengan diri sendiri.

Situasi dunia yang didominasi dengan teknologi membuat segala akses untuk melihat dunia luar semakin mudah dan terbuka. Sosial media adalah salah satu ruang interaksi dan fantasi bagi semua penggunanya. Saling mengunggah momen bahagia, prestasi, kekayaan, dan rupa diri. Hasil dari interaksi dan pandangi mereka yang sukses dan berhasil dalam hidupnya membuat insecurity memenuhi diri. Cemas, ragu, dan tidak percaya diri hingga membandingkan diri dengan orang lain adalah bagian dari insecurity.

Buku Self-Healing karangan Alvi Syahrin yang berjudul “Insecurity is My Middle Name” menjelaskan segala hal yang membuat insecurity itu muncul dalam diri. Dalam tulisan ini berdamai dengan diri sendiri, menerima keadaan diri dengan mensyukuri, dan mengubah insecurity menjadi motivasi adalah solusi yang ditawarkan. Dalam karangannya, penulis memaparkan poin-poin yang menjadi alasan seseorang mengalami insecure dan mulai membenci dirinya sendiri.

Membahas persoalan tentang penampilan diri menjadi alasan pertama munculnya perasaan insecure yang tertuang dalam buku ini. Kehidupan yang kerap kali memilih orang-orang pilihan dengan paras yang cantik dan tampan atau umum disebut dengan good-looking. Orang pilihan itulah selalu menerima dan selalu diterima dalam segala aspek kehidupan termasuk dunia kerja, pertemanan, hubungan asmara, hingga dalam keluarga.

Namun, penulis menjelaskan bahwa good-looking bukan satu-satunya kelebihan. Dan bahkan penulis menambahkan belum tentu seseorang yang good-looking pun terbebas dari perasaan insecure. Perasaan itu akan selalu muncul dalam diri ketika melihat hal-hal yang lebih dari kemampuan yang dimiliki diri sendiri.

Tetap bersungguh-sungguh untuk mengejar hal baik maka tampilan bukanlah segalanya. Bersyukur atas kemampuan diri dan memikirkan bagaimana cara untuk grow-up bukan menjadi glow-up. Penulis juga menyampaikan bahwa masih banyak jalan untuk menjadi cantik versi diri sendiri.

Persoalan pencapaian dan kesuksesan menjadi alasan kedua seseorang merasakan insecure terhadap diri sendiri. Melihat postingan seseorang di media sosial ataupun teman yang sudah memiliki pencapaian dan tergolong seseorang yang sukses mendahului diri sendiri. Membuat diri menjadi lebih tersisihkan, mulai muncul rasa cemas akan masa depan, dan tidak memiliki percaya diri untuk unjuk diri.

Penulis membawa kita untuk mencoba segala hal, mengasah kemampuan, dan meningkatkan skill yang dimiliki. Membahas soal kecepatan laju pencapaian kesuksesan, dalam buku ini penulis menyampaikan bahwa setiap orang memiliki tingkat laju kecepatan yang berbeda. Kesuksesan akan menghampiri pada orang yang berusaha maka tetaplah berusaha dengan penuh syukur.

Perasaan insecure akan dibutuhkan untuk menumbuhkan motivasi diri untuk terus berkembang dan bergerak mencapai perubahan. Perasaan insecure terkadang melampaui batas hingga membuat munculnya rasa benci pada diri sendiri. Berdamai dengan insecurity tidak mudah. Namun, terlena dengan rasa insecurity akan menyia-nyiakan potensi yang dimiliki diri sendiri.

Hidup didalam dunia dengan semua jendela kehidupan lain terbuka lebar dengan akses yang mudah. Akan sulit untuk menghilangkan insecurity. Berdamai dan berteman dengan insecurity diri seolah-olah itu adalah the middle name adalah bentuk dari bersyukur dan  menerima diri dengan apa adanya.

Editor: Mujahid Hamzah K.

106 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *