Indahnya Warisan Budaya Melayu

Indahnya Warisan Budaya Melayu

(Sumber foto: muhammadrazan12.wordpress.com)

Oleh: Ginola Tri Shindy

Bacaekon.com-Rekomendasi. Sebuah pulau kecil yang bersebrangan dengan ibukota provinsi Kepulauan Riau. Pulau kecil ini hanya dapat dijangkau dengan kapal kayu dan meyebrangi laut dalam waktu 15 menit dari Pelantar 1 kota Tanjungpinang. Biaya yang dikeluarkan pun sangat murah kita hanya cukup membayar Rp 3.000 untuk menaiki kapal kayu. Bagi pengunjung yang tidak sanggup mengelilingi kota Penyengat dengan berjalan kaki, di sana juga tersedia becak motor (bemor) dengan harga Rp 20.000 kita dapat mengelilingi Pulau Penyengat secara keseluruhan.

Nama Pulau Penyengat  diambil karena banyaknya binatang sejenis serangga penyengat yang menyerang pedagang atau pelaut yang mengambil air di pulau itu,  sehingga pulau ini diberi nama Pulau Penyengat Inderasakti. Pulau ini banyak menyimpan warisan budaya melayu yang sangat kental akan adat istiadat melayu. Banyaknya peninggalan kerajaan melayu Riau-Lingga yang masih utuh membuat banyak pengunjung yang datang untuk melihat budaya melayu baik dari masjid, kantor pemerintahan, rumah adat serta makam-makam keluarga raja. Pulau ini dikenal hingga kenegara tetangga yaitu Singapura dan Malaysia bahkan pulau ini telah dicalonkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia.

Salah satu ikon Pulau Penyengat Inderasakti yang sampai kini menjadi tujuan utama pulau ini adalah Masjid Raya Sultan Riau. Masjid ini dibangun oleh Sultah Mahmud tahun 1803 sejalan dengan dihadiahkannya Pulau Penyengat kepada Engku Putri Raja Hamidah. Namun tahun 1832 masjid ini direnovasi oleh raja yang berkuasa pada masa itu.

Di sisi lain, masjid ini mempunyai keunikan yaitu dari bahan pembuatannya, yang berasal dari putih telur sedangkan warna kuning masjidnya berasal dari kuning telur. Telur-telur itu merupakan hasil sumbangan dari masyarakat sekitar, yang ikut membantu dalam proses renovasi. Mesjid ini mempunyai warna yang masih mempertahankan budaya melayu yaitu warna hijau dan kuning. Tentunya warna ini mempunyai arti penting yaitu, untuk warna kuning melambangkan kesucian di jaman raja melayu sedangkan warna hijau melambangkan kesuburan dan kemakmuran.

Masjid Raya Sultan Riau masih terjaga keasliannya hingga sekarang. Di dalam masjid terdapat 17 tiang beton yang menggambarkan jumlah rakaat sholat wajib. Selain itu, di dalam masjid juga terdapat Al’quran besar yang ditulis tangan dan masih terjaga keasliannya hingga sekarang.

Selain masjid, Pulau Penyengat juga terkenal akan puisi melayu lama atau yang sering disebut Gurindam Dua Belas. Gurindam Dua Belas merupakan karya sastrawan melayu Raja Ali Haji  yang terkenal hingga ke luar negeri. Gurindam Dua Belas terdiri dari 12 pasal yang berisikan nasehat-nasehat dalam hidup. Kita bisa menemukan tulisan Gurindam Dua Belas di sepanjang jalan yang berada di kota Tanjungpinang.

Banyak sekali tempat yang harus kita kunjungi di Pulau Penyengat, kita membutuhkan waktu 1 hari untuk menyelesaikan kunjungan di Pulau Penyengat. Tidak hanya dari tempatnya yang sangat menarik dan bagus namun dari kulinernya juga akan membuat kita merasa ingin kembali lagi ke Pulau Penyengat. Deram-deram dan laksa merupakan makanan yang wajib dicoba ketika kita berada di tanah melayu. Deram-deram merupakan kue yang terbuat dari tepung beras dan gula aren, sedangkan laksa terbuat dari tepung sagu dan dicampur dengan kuah kari.

Sebelum kita mengakhiri liburan di Pulau Penyengat  maka kita jangan lupa untuk membawa oleh-oleh yang bernama batang buruk, namanya memang aneh tapi rasanya akan membuat Anda ketagihan oleh kenikmatan dan kelezatannya

Hal yang harus kita ingat adalah selalu menjaga warisan budaya kita. Tentunya, pengunjung juga harus menjaga kebersihan, ucapan dan perbuatan agar tidak merugikan orang lain maupun diri kita sendiri.

1595 Total Views 1 Views Today

Related Post

Jejak Petualang Seorang Diplomat Amerika

Jejak Petualang Seorang Diplomat Amerika

(Foto: ebooks.gramedia.com) Oleh: Ulfa Fajria Ayub Judul                  : Seperti Bulan dan Matahari, Indonesia dalam Catatan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *