Ilmu dalam Balutan Islam

Ilmu dalam Balutan Islam

(Foto : tribunislam.com)

Oleh : Rafani Adhyapaka Shafira

Guruku tersayang, Guru tercinta

Tanpamu apa jadinya Aku, tak bisa baca tulis

Mengerti banyak hal, Guruku terimakasihku

Bacaekon.com, Oase. Bait lagu karya Melly Goeslaw ini sekilas mengingatkan kita akan pertama kali belajar membaca dan menulis. Betapa sulit saat mengeja kata demi kata, baris demi baris kala itu. Lantas bagaimana bisa, saat ini kita paham sampai cas cis cus sana sini? Nah, misalkan sekarang ketika kita pandai dalam bertutur, disanalah sebenarnya sebuah proses belajar sudah dilewati. Melalui proses belajar yang dinamakan pendidikan, kita dapat memperoleh ilmu sehingga mampu merubah pemikiran, perilaku, karakter bahkan peradaban yang dibutuhkan oleh setiap  manusia sekarang.

Jauh beberapa abad sebelum masehi, Aristoteles seorang filsuf dari Yunani, menyebut hakikat manusia sesungguhnya adalah makhluk monodualis, makhluk yang dapat berperan sebagai makhluk individu dan sosial. Melalui konteks makhluk sosial inilah, manusia diharuskan bekontribusi bagi peradaban dunia. Peradaban yang harus diperjuangkan khususnya bagi kita umat Muslim untuk berkewajiban memberikan manfaat bagi umat manusia lainnya. Salah satunya dengan sikap mau belajar untuk memperoleh ilmu.

Masih ingatkah kisah awal mula Rasulullah Salallahu ‘alaihi wassalam menerima wahyu dari Allah Subhanahu Wata’ala? Dilihat dari kisah tersebut, dengan tegas Allah Subhanahu Wata’ala telah menyeru Rasulullah Salallahu ‘alaihi wassalam dalam surat Al-‘Alaq (1-5) dengan perintah “Iqra” atau “bacalah”. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu-lah yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Secara gamblang agama Islam telah memberikan kebenaran atau Haqq untuk berkehidupan sesuai dengan perintah-Nya dalam Al-Qur’an dan Hadist. Dalam proses  belajar, sudah seharusnya menjadikan Al-Qur’an dan Hadist sebagai pedoman dalam pengkajian, menimba ilmu pengetahuan, serta berbuat bijaksana, misal dalam penggunaan kalam (pena) agar benar-benar tercapai budi pekerti luhur seperti yang telah dijelaskan dalam surat Al-Qalam (4). Sehingga dengan menjalani segala proses tersebut, manusia diharapkan mampu mendapat ridho-Nya dan mewujudkan karimah bagi seorang mukmin yang menjalankan.

Sebagai seorang hamba-Nya yang beriman, pentingnya mencari ilmu adalah wajib, bahkan tidak mengenal usia dan waktu untuk terus belajar dan menjalankan perintah Tuhannya. Seperti Hadist dari Ibnu Abdil Barr Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Salallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan”. Sehingga siapapun Muslim yang berilmu dan mengamalkannya, maka Allah Subhanahu Wata’ala akan menaikan derajatnya. Dalam surat Al-Mujadilah (11) telah dijelaskan, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Wahai orang-orang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “berilah kelapangan didalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan “berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”

Tanggal 2 Mei menjadi hari sakral bagi dunia pendidikan di Indonesia. Bertajuk Hari Pendidikan Nasional yang ditetapkan oleh pemerintah untuk memperingati kelahiran Ki Hajar Dewantara, sang pelopor pendidikan di Indonesia. Lantas bagaimana kita melihat pendidikan di negeri sendiri? Inilah yang menjadi tantangan bersama agar pendidikan di Indonesia mampu menyeimbangkan antara ilmu dunia dan akhirat, sehingga tercipta generasi muslim intelektual yang peduli  dengan bangsanya sendiri dan mampu mengahadapi derasnya arus perkembangan zaman. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat An-Nisa’ (9), yang artinya “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) nya. Oleh sebab itu, hendaknya mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

Disadur dari berbagai sumber.

5141 Total Views 1 Views Today

Related Post

Desis Jemari Penggenggam Bara Api

Desis Jemari Penggenggam Bara Api

(Foto : Islampos.com) Oleh : Nabila Ramadhani “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *