HUKUM KEBIRI UNTUK PELAKU KEJAHATAN SEKSUAL ANAK

HUKUM KEBIRI UNTUK PELAKU KEJAHATAN SEKSUAL ANAK

(Sumber foto: http://www.malukupost.com/)

Oleh: Chassanah Novambar Andiyansari

Bacaekon.com-Opini. Serbuan berita dan media tidak dapat kita hindari setiap hari. Mudahnya akses internet dan informasi seakan menjadi konsumsi wajib yang harus kita terima. Perkembangan pemberitaan pun tak luput dari sasaran media yang terus menerus memberitakan tentang  politik, ekonomi, sosial dan budaya. Salah satu hal yang sering diberitakan media adalah sosial, apalagi dengan pemberitaan tentang kejahatan seksual pada anak yang mulai gencar sejak kasus Kekerasan Seksual Anak TK di JIS pada tahun 2014 lalu, hingga berita terbaru tentang temuan Anak di dalam kardus yang baru terjadi pada bulan Oktober 2015.

Anak sejatinya buah hati yang harus kita jaga dan dilindungi baik dari perkembangannya. Kesiapan orang tua dalam menghadapi segala resiko pada anak harus sudah dipikirkan sedini mungkin. Mengingat kasus kekerasan anak kian meningkat, dilihat dari perkembangan kasus sejak dari tahun 2014 kian bertambah dengan macam-macam kekerasan seksual anak.

Diketahui dari salah satu media online milik pemerintahan, yakni Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam judul Indonesia Darurat Kejahatan Seksual Anak (15/06/2014). Dari data yang berhasil dirangkum Harian Terbit, berdasarkan catatan Komnas PA pada Januari-April 2014, terdapat 342 kasus kekerasan seksual terhadap anak. Data Polri 2014, mencatat ada 697 kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi di separuh tahun 2014. Dari jumlah itu, sudah 726 orang yang ditangkap dengan jumlah korban mencapai 859 orang. Sedangkan data KPAI dari bulan Januari hingga April 2014, terdapat 622 laporan kasus kekerasan terhadap anak.

Dalam kasus kekerasan seksual anak yang sangat krusial, membutuhkan pertimbangan matang terhadap hukuman yang akan dijatuhkan kepada tersangka, yang telah melakukan kejahatan seksual dengan banyak motifnya. Motif kejahatan seksual yang biasa terjadi yakni pelecehan seksual, sodomi, pemerkosaan hingga pembunuhan. Pembunuhan yang biasa dilakukan oleh tersangka untuk menghilangkan jejak, hal ini dirasa sangat tidak manusiawi dan juga keji. Pelaku kekerasan seksual yang kebanyakan tetangga atau orang terdekat sang korban. Biasanya penyelesaian masalah tersebut dilakukan secara kekeluargaan dan diserahkan kepada polisi untuk dipenjara. Hal tersebut tidaklah cukup menjadi efek jera pada pelaku, juga tidak sebanding dengan efek trauma psikis yang dirasakan sang anak selaku korban. Dirilis dalam berita online Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI ) dengan judul Presiden Setuju Hukuman Kebiri bagi Pelaku Kejahatan Seksual terhadap Anak (21/10/2015), menurut Prasetyo perlu dilakukan hukum kebiri agar menimbulkan efek jera. Ia mengatakan bahwa khususnya berkaitan dengan kejahatan seksual terhadap anak-anak. Telah disepakati dan disetujui bapak Presiden, untuk nantinya akan diberikan hukuman tambahan berupa pengebirian. Yang pasti dengan pengebirian ini memberikan efek menjerakan dan bisa menimbulkan orang harus berpikir seribu kali kalau akan melakukan kejahatan seksual terhadap anak.

Jika hukuman untuk pelaku benar terealisasikan dengan baik dan adil maka akan ada harapan cerah bagi orang tua yang masih was-was apabila hukuman hanya dijatuhkan pada hukuman penjara semata. Karena perilaku menyimpang seperti itu harus dihukum dengan efek jera supaya tidak timbul lagi perasaan atau nafsu yang dilampiaskan kepada anak.

 

976 Total Views 1 Views Today

Related Post

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *