HUBUNGAN DALAM PERMAINAN DAN TAKDIR

HUBUNGAN DALAM PERMAINAN DAN TAKDIR

(Dok.Pribadi)

Oleh : Ridho Haga Pratama

Judul : Hateship, Friendship, Courtship, Loveship, Marriage
Penulis : Alice Munro
Penerbit : Penerbit Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2016
Jenis Buku : Fiksi
Cetakan : Pertama
Tebal : Xii + 448 hlm.; 20,8 cm
ISBN : 978-602-291-101-2

Bacaekon.com-Rekomendasi. Munro memberi judul buku ini dengan nama sebuah permainan: hateship, friendship, courtship, loveship, marriage. Tulis nama anda dan nama orang yang anda taksir, hapus tiap huruf yang sama dan hitung sisa hurufnya sembari mengucap lima kata tersebut. Pada kata mana hitunganmu jatuh, di sana takdir hubungan anda dengan orang yang anda taksir berakhir. Begitulah kira-kira permainan ini dilakukan. Namun judul tak pernah seratus persen berarti konten. Tak ada satupun adegan dalam cerpen Munro di mana tokoh-tokohnya memainkan permainan ini. Satu yang dapat ditangkap dari judul ini yaitu bahwa ia adalah permainan tentang ketentuan takdir atas hubungan manusia.

Buku ini dibuka oleh cerita dengan judul yang sama dengan judul bukunya, “Kebencian, Persahabatan, Pendekatan, Percintaan, Pernikahan”. Cerita pertama ini tentang seorang pembantu rumah tangga yang rela keluar dari rutinitasnya sebagai pembantu rumah tangga di sebuah kota kecil yang telah dilakoninya selama bertahun-tahun untuk seorang pria yang diyakininya akan menikahinya. Namun kemudian pembaca akan dibuat tersentak oleh bagaimana Munro menunjukkan bahwa apa yang diyakini oleh sang pembantu rumah tangga sebagai panggilan takdir—yang mendorongnya mengambil resiko meninggalkan pekerjaannya—sesungguhnya tak lebih dari dampak keisengan permainan dua gadis belia. Persis seperti yang digambarkan judulnya, cerpen ini tentang permainan dan takdir.

Ada beberapa kisah lainnya yang memiliki potensi untuk ‘membekas’ usai dibaca. Misalnya yang berjudul “Jembatan Apung”. Kali ini Munro bercerita tentang seorang wanita yang terkena penyakit kanker yang merusak penampilannya. Wanita ini selalu merasa tidak nyaman dengan interaksi dengan orang asing. Ia pun selalu mengenakan topi seakan-akan topi dapat menjadi tameng yang mampu mengusir ketidaknyamanannya atas penampilannya di hadapan orang lain. Kemudian dalam cerita perjalanan pulangnya, ia menikmati pemandangan dan suasana tempat-tempat yang dilewatinya hingga tak menyadari bahwa ia telah kehilangan topinya beberapa waktu lamanya hanya untuk mengetahui bahwa ia mampu untuk memperoleh kenyamanan tanpa harus bertameng topi. Penderitaan yang dibawakan kanker padanya dapat reda oleh desir lembut kegembiraan yang dibawa oleh kasih sayang.

Tidak semua cerpen Munro bernuansa cerah. Cerpen berjudul “Kenyamanan” mengambil nuansa cerita yang agak suram. Dari cerita ke empat ini pembaca mungkin sudah akan mengenal polanya bahwa setiap karakter utama Munro dalam cerpennya adalah seorang wanita. “Kenyamanan” bercerita tentang seorang wanita yang selama berumahtangga dengan suaminya beberapa kali diselingi perdebatan karena perbedaan pandangan. Ketika sang suami yang seorang fundamentalis meninggal, sang istri disibukkan dengan upaya mencari catatan atau surat yang sangat diinginkan oleh sang istri untuk ditinggalkan sang suami untuknya. Di sini Munro dengan lihai memperlihatkan ego seorang istri yang membutuhkan penanda arti dirinya bagi mendiang suaminya selama mereka bersama. Tak berhenti di situ, dengan sangat subtil Munro mampu berkisah tentang perasaan, yang entah marah entah kecewa, dalam diri sang janda mengetahui catatan kecil yang butuhkan itu ditemukan orang lain dan sama sekali tak berbicara tentang dirinya.

Alice Munro dikenal sebagai seorang master untuk penulisan cerpen dalam hal kepiawaiannya memahami psikologi manusia. Itu pula yang kemungkinan besar menjadi alasan utama anugerah nobel kesusastraan itu jatuh padanya pada tahun 2013 lalu. Beberapa pendapat mengemukakan tentang ketidaklaziman bagi penulis cerpen untuk memperoleh nobel kesusastraan. Namun insight yang dimiliki Munro tak bisa diremehkan. Pembaca dapat melihat ini dalam pemilihan susunan kata Munro yang sangat teliti dalam tiap dialog. Seringkali pembaca mungkin tak akan menyadari—namun mampu merasakan—kondisi psikologis tokoh yang mengucapkan dan maknanya hingga Munro benar-benar menjelaskannya. Ini paling jelas nampak dalam salah satu adegan cerpen  berjudul “Yang Masih Diingat” berikut:

Bawalah aku, itulah yang dikatakan Meriel. Bawalah aku ke tempat lain, bukan Mari kita pergi ke tempat lain. Itu penting baginya. Resiko, pemindahan kekuasaan. Resiko dan pemindahan kekuasaan sepenuhnya. Mari kita pergi—itu mengandung resiko, tetapi bukan pelepasan…”(hal. 322)

Pembaca mungkin tak akan menemukan kejutan-kejutan atau kebetulan-kebetulan yang syarat dengan keajaiban layaknya novel-novel romantis remaja Indonesia dalam cerpen Munro, karena toh bukan itu yang menonjol darinya. Cerita-cerita Munro justru unggul karena kemampuannya untuk dibayangkan terjadi di sekitar kita. Alih-alih ajaib, lebih tepat menyebut kejutan-kejutan dalam cerpen Munro dengan sebutan realistis. Agaknya itu dapat menjelaskan mengapa cerpennya terasa  touchable tanpa kehilangan kompleksitas dan misteri yang tak pernah kita sadari selalu hadir bersama peristiwa yang kita saksikan sehari-hari.

10377 Total Views 1 Views Today

Related Post

Letter To Sweet Coffee

Letter To Sweet Coffee

Oleh: A. Gunawan Judul               : Surat Untuk Kopi Manis (Letter To Sweet Coffee) Penulis             :…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *