Berita Yogyakarta

Hilang Kepercayaan Terhadap Pemerintah, ARPI Gelar Aksi di Bundaran UGM

Narasi: Mujahid Hamzah K.

Foto: Fauzan Nabongkalon

Bacaekon – Pada Senin (11/4) Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi menuntut pemerintahan atas wacana penundaan Pemilu 2024 dan perpanjangan masa jabatan presiden menjadi 3 periode. Demo 11 April dilakukan di depan gedung DPR/MPR RI, yang sebelumnya direncanakan di depan Istana Negara lalu diganti dengan alasan memberi peringatan kepada wakil rakyat. Pada saat yang bersamaan aksi juga terjadi di Yogyakarta, tepatnya di Bunderan UGM.

Aksi di Jogja berbeda dengan di Jakarta karena diusung oleh Aliansi Rakyat Peduli Indonesia (ARPI). Mereka mengklaim mewakili rakyat yang sebenarnya dan mengatakan siapapun boleh masuk ke dalam aliansi ini dan menyuarakan suaranya. Tuntutan yang mereka sampaikan kurang lebih sama seperti Demo 11 April yang berada di Jakarta. Menekankan pada Pemilu 2024 dan kenaikan harga-harga barang yang menyusahkan rakyat.

Dani Eko Wiyono, selaku koordinator aksi ini, menjelaskan terdapat 5 poin dalam tuntutannya. Yang pertama adalah menolak penundaan pemilu yang kemarin sudah disepakati Jokowi. Tetapi mereka tidak percaya karena perkataan Jokowi selalu tidak sesuai. “Tapi kami tetap tidak percaya. Karena Jokowi ini ngomong iya bilang tidak. Ngomong tidak bilang iya,” kata Dani. 

Kedua, menolak masa jabatan presiden menjadi 3 periode. Wacana ini bertujuan membuat Presiden Jokowi menambah 1 masa jabatan lagi. Walaupun di dalam konstitusi hanya diperbolehkan 2 periode, tetapi bisa saja diubah oleh DPR. Jika perubahan benar terjadi ARPI menganggap ini adalah pembangkangan. “Di situ kami tidak ingin adanya pembangkangan konstitusi,” katanya.

Ketiga, lawan komunisme dan jangan sampai ada penyusup PKI dalam pemerintahan. Dilansir dari cnbcindonesia.com, Panglima TNI Andika Perkasa, menyatakan keturunan dari PKI tidak dilarang untuk menjadi TNI. Karena yang dilarang adalah komunismenya bukan keturunan dari komunis. ARPI mewaspadai pernyataan dari Panglima TNI tersebut. “Komunisme itu artinya seperti yang disampaikan Andika. Secara pribadi sah-sah saja tapi secara konstitusi jangan sampai ada penyusup-penyusup PKI yang masuk ke dalam pemerintah,” ucap Dani.

Keempat, turunkan harga-harga sembako, BBM, dsb. Karena harga minyak yang naik akan sangat berpengaruh. “Harga minyak yang naik, otomatis akan berdampak ke harga-harga lainnya. Rakyat akhirnya tertindas dan susah, ditambah pajak juga dinaikkan. Kan sudah menjadi aneh,” ucapnya.

Kelima, hancurkan oligarki dalam pemerintah yang selalu mementingkan sendiri dan lupa dengan rakyat. “Mafia-mafia minyak, mafia-mafia segala macamnya tolong dihancurkan. Mereka (pemerintah) tahu siapa-siapa yang bermain, tapi mereka tidak berani karena mereka terlibat. Kalo jaman Soeharto jelas penguasanya adalah Soeharto dan kita mengejar ke Soeharto. Kalo sekarang kenapa dibilang oligarki karena semua penguasa itu bermain di atas semua dan Jokowi tidak tegas dalam hal itu,” jelasnya. 

Dani juga menambahkan bahwa saat ini penguasa memiliki kepentingan dan sudah tidak berpihak kepada rakyat. “Dan hari ini pemerintah sudah kalah dengan yang namanya partai. Bukan lagi rakyat yang bertindak, melainkan partai-partai bertindak di situ. Dengan alasan kepentingan rakyat, tapi ternyata demi kepentingan masing-masing.”

Presiden Jokowi sendiri menanggapi isu mengenai penundaan pemilu dengan selalu menjawab tidak berminat melanggar konstitusi. Jokowi juga jelas menyertakan tanggal Pemilu dan Pilkada dalam pernyataannya sebagai penegasan ketidaksetujuan penundaan pemilu. “Saya kira sudah jelas semuanya, sudah tahu bahwa Pemilu akan dilaksanakan pada 14 Februari 2024 dan Pilkada pada November 2024,” kata Jokowi dilansir dari Tempo.co

Sementara pernyataan Jokowi berkaitan dengan kenaikan harga disampaikan bahwa kenaikan harga tidak bisa dielakkan dan tak bisa ditahan. Walaupun diusahakan agar tidak naik, pada akhirnya BBM naik juga. “Saya kira sudah kita tahan-tahan agar tidak terjadi kenaikan, tetapi saya kira situasinya memang tidak memungkinkan. Ga mungkin kita tidak menaikan yang namanya BBM, ga mungkin. Oleh sebab itu, naik Pertamax,” ujar Jokowi pada (6/4) dilansir dari Tempo.co.

Aliansi Rakyat Peduli Indonesia menyatakan bahwa mereka tidak bermasalah pada Presiden Jokowi. Ada yang memengaruhi beliau dari sekitar-sekitarnya. Ini menyebabkan mereka sudah tidak percaya lagi pada pemerintah. “Sebenarnya bukan masalah Jokowi. Jokowi baik-baik saja menurut kami, tapi banyak yang memengaruhi keputusannya untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Sebenarnya kalo kita audensi ke DPR bisa, cuman kita tidak percaya DPR. Karena DPR itu bukan wakil rakyat lagi tetapi sudah wakil para pemerintah yang berkepentingan,” jelas Dani.

Mengenai kelanjutan dari aksi ARPI pada hari Senin, Dani menjelaskan bahwa aksi ini baru awal dari pergerakan. Jika aksi pertama ini tidak ada pengaruh sama sekali, Dani berjanji akan ada yang lebih besar lagi kedepannya. “Dari Aliansi Rakyat Peduli Indonesia baru pertama kali aksi seperti ini.  Dan ini bukan dari kelompok manapun. Mahasiswa pun boleh masuk, makanya di sini tidak ada yang berbaju ormas, karena kita adalah rakyat. Dan jika setelah ini pemerintah tidak lagi berpihak pada rakyatnya maka saya pastikan di Jogja akan lebih besar dari yang di sana (Jakarta).”

Inti dari gerakan ARPI ini adalah bentuk kekecewaan rakyat pada pemerintah. Rakyat merasa dibohongi dari berbagai hal hanya demi kepentingan dan keuntungan suatu kelompok. “Pemerintah jangan bohongi rakyat tapi pikirkan rakyat. Jangan kelabui rakyat dengan segala bentuk bantuan, bantuan itu enggak ada. Itu bantuan minyak dan yang lainnya pakai uang rakyat sendiri, karena itu ngambil dari pajak,” tutup Dani.  

Aksi Aliansi Rakyat Peduli Indonesia di Bundaran UGM ini berlangsung damai dan lancar. Orang-orang bergantian orasi menyampaikan pendapat mereka tentang pemerintahan saat ini. Walaupun tidak seramai yang ada di Jakarta, aksi ini tetap dijaga oleh aparat kepolisian. Polisi berjaga di beberapa titik untuk menjaga aksi tetap kondusif dan berjalan lancar. 

Reporter: Khalid, Tama, Dika, Fauzan
Editor: Salwa Nidaul Mufidah

280 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *