Hentikan Pernikahan Dini

Hentikan Pernikahan Dini

(sumber foto : http://lomba.infokbjatim.com/)

Oleh : Dinmas Masyudin

Bacaekon.com-Opini. Fenomena menikah di usia dini merupakan suatu kejadian yang wajar bagi masyarakat Indonesia karena memang pernikahan di usia dini sudah terjadi sebelum Indonesia merdeka, padahal banyak sekali masalah yang ditimbulkan akibat dari pernikahan dini.  Beberapa masalah yang ditimbulkan oleh pernikahan dini yaitu angka kematian ibu meningkat karena ibu yang mengandung di usia muda masih dalam masa pertumbuhan sehingga organ-organ tubuhnya belum sempurna. Menimbulkan cacat pada ibu, melahirkan bayi dengan kualitas kesehatan yang rendah, tingginya angka perceraian, tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga, tingginya angka kemiskinan, dan lain-lain.

Data yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama (PA) Gunung Kidul Yogyakarta selama rentan tahun 2009-2012 terjadi permintaan dispensasi umur untuk melangsungkan pernikahan. Pada tahun 2009, permintaan dispensasi menikah sebanyak 60 kasus, 2010 sebanyak 120 kasus, 2011 sebanyak 145 kasus dan 2012 sebanyak 172 kasus. Dari jumlah tersebut, 90% pemohon dispensasi nikah dikarenakan remaja perempuan menjadi korban Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD).

Korban Kehamilan Tidak Diinginkan yang dipaksa menikah dengan pelaku berpotensi mengalami kekerasan berlapis, fisik, psikis dan ekonomi. Perceraian menjadi salah satu bentuk kekerasan fisik dan psikis yang dialami perempuan. Data ini didapat dari PA Gunung Kidul bahwa banyak kasus perceraian pada pasangan yang menikah usia dini. Selama kurun waktu Januari-Juni 2013 tercatat 755 kasus perceraian terjadi di Gunung Kidul. Terjadinya perceraian paling sering dipicu perselingkuhan dan tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Dikarenakan pasangan menikah dini kurang siap secara mental dan emosional.

Jika kita melihat data di atas, tingginya angka pernikahan dini disebabkan karena hamil di luar nikah. Pergaulan yang semakin tidak ada batasan di kalangan remaja patut menjadi perhatian kita bersama. Pemerintah harus bisa lebih agresif mengntrol dan memblokir situs-situs pornografi yang saat ini masih dapat diakses oleh remaja dengan mudah. Pengawasan orang tua sangat penting untuk membatasai pergaulan anak, apalagi pada usia-usia remaja di mana mereka berlimpah energi dan memiliki rasa penasaran yang tinggi sehingga mereka memiliki dorongan untuk mencoba hal-hal baru. Jika hal ini tidak diarahkan pada hal-hal positif maka angka kehamilan tidak diinginkan akan semakin tinggi.

 

4810 Total Views 1 Views Today

Related Post

3 Comments

  • Apakah ada batas umur yang jelas sehingga dikatakan pernikahan dini ? Dari sisi medis, psikologis, ataupun agama. Karena masih ada beberapa kebaikan dari pernikahan dini. Dan dari artikel di atas, banyak masalah yang timbul akibat dari personaliti yang tidak terdidik. Apakah benar2 pernikahan dini yang menjadi masalah ? Atau pendidikan yang harus kita perbaiki ?
    Mudah-mudahan ada artikel susulan mengenai pernikahan dini yang lebih komprehensif dari tim Redaksi Bacaekon.com. Atau ada diskusi terbuka yang bisa menambah pengetahuan kita tentang pernikahan dini. Ditunggu kabarnya.
    Maju terus LPM Ekonomika.

    Reply
  • Saya beberapa kali membaca berita di bacaekon.com dan mengamati antara isi dan judul sering tidak nyambung. Misalkan saja tulisan ini. Judulnya “Hentikan Pernikahan Dini” tetapi ketika saya membaca isinya yang menjadi masalah bukan pernikahan dininya melainkan hamil di luar nikah yang menyebabkan seorang perempuan harus dinikahi.

    Penulis juga kurang fokus pada idenya. Seharusnya yang dihentikan bukan pernikahan dininya tapi pada pergaulan bebas yang menyebabkan hamil di luar nikah.

    Dan setuju dengan komentator di atas saya ini, Abang Scanles. Seharusnya definisi pernikahan dini itu diperjelas. Berapa batasan usia sehingga seseorang bisa dikatakan menikah dini. Lalu supaya lebih meyakinkan lagi, berapa jumlah kematian ibu melahirkan yang diakibatkan karena ketidaksiapan organ perempuan saat melahirkan. Lalu apakah memang benar pernikahan dini menjadi faktor penyebab kemiskinan?

    Tentu masih banyak lagi pertanyaan yang tak terjawab dari artikel di atas. Dan menarik sekali kalau tulisan ini didiskusikan dengan difasilitasi oleh LPM EKonomika.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *