GIE, CATATAN SEORANG DEMONSTRAN

GIE, CATATAN SEORANG DEMONSTRAN

(Sumber Foto : miles film)

Oleh: Rif’at Arifur Rochman

Sutradara         : Riri Riza

Produser          : Mira Lesmana

Genre              : Drama, Biografi, Politik

Pemeran          :

  • Nicholas Saputra
  • Wulan Guritno
  • Indra Wibowo
  • Lukman Sardi

Durasi              : 147 menit

Lebih baik saya diasingkan, dari pada kalah dalam kemunafikan,” Soe Hok Gie

Bacaekon.com-Rekomendasi. Film yang tayang pada tahun 2005 ini berkisah tentang seorang yang sudah tidak asing lagi bagi para mahasiswa.Ya, Soe Hok Gie yang biasa dipanggil Soe. Seorang keturunan Tionghoa lahir pada 17 Desember 1942. Film ini mengisahkan kehidupannya. Soe sendiri diperankan oleh Nicholas Saputra sedangkan keluarga Soe, kakaknya, Soe Hok Djin yang berganti nama menjadi Arif Budiman diperankan oleh Gino Korompis, ibunya Nio diperankan oleh Tutie Kirana, dan bapaknya, Soe Lie Piet diperankan oleh Robby Tamewu.

Karakter Soe dalam film termasuk anak yang pandai dan seorang yang kuat akan pendiriannya. Terlihat pada awal Soe masuk sekolah, ia membantah gurunya bahwa pengarang tidak bisa disamakan dengan penerjemah sampai Soe dihukum dan akhirnya pindah sekolah. Soe punya seorang sahabat, Tan Tjin Han (Thomas nawilis). Pada tahun 1959 Soe menyelesaikan sekolah menengah atas dan melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe sangat suka akan diskusi dan dia sering menjadi narasumber atau pemantik. Sampai pada saat ia ditemui oleh aktivis gerakan yang dipimpin oleh mantan pejabat, Sumitro namanya. Di samping diskusi Soe juga sangat gemar menonton film dilanjutkan membedah atau berdikusi mengenai film yang ditonton tersebut. Ditemani teman-teman kampusnya, Ira (Sita Nursanti RSD), Herman Lantang (Lukman sardi), Jaka (Doni Alamsyah), Denny Mamoto (Indra Birowo) dan yang lain.

Soe, selain seorang yang pandai dia juga mempunyai hobi yang menarik yaitu mendaki gunung sampai Soe mendirikan Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam-red) di Universitas Indonesia (UI) kala itu. Namun dalam film ini juga ada kisah romantismenya tersendiri, antara Ira dan Soe mereka saling menyukai namun Soe tidak bisa mengungkapkan rasa sukanya kepada Ira.

Konflik pun dimulai ketika UI mengadakan pemilihan ketua senat, dari itu Soe benar-benar tidak menyukai politik karena bagi dia politik adalah Tai kucing. Bagaimana tidak, calon yang diusung tidak lepas akan partai dan golongan yang medukungnya, sampai Soe berkata, “Politik partai dan golongan telah masuk kampus, organisasi-organisai besar seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Bergerak dan berteriak atas nama golongan, aku benar-benar tidak simpati, aku ingin melihat mahasiswa jika sekiranya mengambil keputusan –keputusan yang mempunyai arti politik walau bagaimana kecilnya, selau didasarkan pada prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka harus berani menyatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah. Dan tidak menerapkan kebenaran atas nama agama, ormas atau golongan apapun.”

Hingga Soe menginisiasi Herman menjadi calon ketua senat UI, tak lain untuk menghentikan politik tai kucing di kampus, karena situasi dalam kampusnya sudah kacau. Waktu itu, Herman bagi Soe adalah seorang yang paling ideal di antara calon ketua senat yang lain.

Pada tahun 1965, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia protes karena poster-poster mereka di cabut hingga mereka menduga bahwa ada politik dalam senat. Sebelum itu, Herman menjadi ketua senat terpilih. Namun Soe membahtah bahwa dalam senat kepemimpinan Herman tidak ada unsur golongan apapun, melainkan individu-individu yang terpilih bukan dari ormas-ormas, dan suasana ricuh dalam ruang sidang itu. Sampai Herman bertanya satu hal pada Soe, “untuk apa perlawanan ini?” Soe menjawab dengan sederhana bahwa dia menginginkan perubahan.

Januari tahun 1966, teman Soe, Tan Tjin Han telibat dalam Partai Komunis Indonesia, dan Soe menasehatinya agar tidak berurusan lagi dengan PKI. Namun Han menolak nasehat Soe sampai Han diculik dan dilarikan ke Bali. Situasi pemerintah begitu kacau waktu itu, oraganisasi-organisai mahasiswa tergerak dan tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia yang menyuarakan TRITURA atau tiga tuntutan rakyat.

Soe kemudian berkenalan dengan salah satu wanita, Sinta (Wulan guritno) namanya, dalam film itu, Sinta jatuh hati pada Soe begitu juga dengan Soe, sampai akhirnya mereka berpacaran. Namun hubungan mereka tak berlangsung lama karena Sinta dijodohkan dengan pemuda lain yang lebih mapan.

Soe Hok Gie meninggal pada usia 27 tahun ketika dia sedang mendaki di Gunung Semeru, Soe meninggal di pangkuan sahabatnya Herman. Dalam film ini kita sadar bahwa hingga saat ini yang dicita-citakan Soe tentang pemerintahan Indonesia yang bersih dari korupsi dan kehidupan politik yang tidak berpihak pada golongan, ras, atau agama, belum tewujud. Apakah yang terjadi di Fakuktas Ekonomi Universitas Islam Indonesia sama demikian? Jawabannya ada di hati nurani kalian masing-masing.

4772 Total Views 1 Views Today

Related Post

Letter To Sweet Coffee

Letter To Sweet Coffee

Oleh: A. Gunawan Judul               : Surat Untuk Kopi Manis (Letter To Sweet Coffee) Penulis             :…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *