Ekspresi

For Palestine

Ilustrasi : Amellya Candra

Narasi : Adim Windi Yad’ulah

Bacaekon.com-Gelap, berdengung, putih, bercahaya, dan melihat sebuah gedung hancur oleh rudal yang menghantam apapun yang diinginkan. Sedang aku, termenung melihat sesosok pria berjenggot rapi, rambut hitam dan mengenakan jaket hitam berkerah yang tergeletak tak berdaya diantara reruntuhan bangunan yang mirip seperti rumahku dan Azzeza. 

“Apakah aku kini telah meregang nyawa? Apakah pria itu aku?” Tanya yang tak digubris oleh angin.

Jeritan, isak tangis, dan rintihan terdengar begitu jelas di telingaku. Rintihan gadis perempuan yang benar-benar ku kenal siapa pemilik suara itu. “Ayah! Ayah! Bangun!” Suara tangis iba si gadis perempuan tengah mencoba menggoyang-goyangkan tubuh pria yang mirip dengan ku. Tangannya yang mungil tak pernah sampai untuk memegang tubuh seseorang yang dipanggilnya ayah. Tubuh pria yang terkapar tak berdaya terlihat dari celah bangunan yang runtuh mengenai tubuhnya.

“Azzeza! mengapa kamu menangis hai anakku?” Berusaha menenangkan gadis kecilku. Aku berusaha mengusap air mata menggunakan jemari, namun apa daya tanganku tak pernah bisa memegang wajah Azzeza yang menangis dan bersimbah darah pada dahi dan pelipisnya.

Apa yang membuatnya menangis tersedu? Siapa yang berani membuatnya berdarah-darah seperti ini? Ia gadis kecilku, siapapun yang berani memegang dan membuatnya menangis harus berhadapan denganku! Mengapa aku tak bisa memegang gadis kecilku yang amat ku cinta? Pertanyaan yang terus berkecamuk didalam dada kembali menguap.

Lantunan takbir terdengar di antara rumah-rumah berwarna coklat yang terselimuti debu dan bercak darah di beberapa sisi. Rentetan senjata kembali terdengar, kepulan asap menghiasi langit Yerusalem yang sedang berawan. Suara dentuman beberapa kali terdengar keras di gendang telinga. Asap hitam pekat bersama dengan jilatan api membumbung tinggi. Suara sirine ambulan hilir mudik bergantian. Jeritan anak-anak maupun wanita kembali terdengar mengiris hati, membawa memori beberapa bulan lalu ketika rudal menghantarkan istriku untuk pulang ke hadapan Allah.

“Ayah! Aku ingin menjalankan sholat idul fitri bersamamu, jangan tinggalkan aku sendiri. Bangun Ayah!” Teriak Azzeza mencoba mengulurkan tangannya ke celah reruntuhan, berharap tangannya di sambut oleh pria itu.

***

Rambut lepek, baju kumal, kaki tanpa alas. Azzeza, seorang gadis kecil berusia enam tahun. Matanya yang berbinar ketika menatapku, terutama ketika aku menyampaikan pesan bahwa semua warga palestina harus mempertahankan tanah kelahirannya, terutama untuk menjaga Al-Quds. Selain itu, aku juga sering mengatakan bahwa semua warga palestina termasuk Azzeza harus selalu mengingat Allah, walau malam hari mereka dihantui ketakutan akan suara dentuman bom maupun rudal yang bisa membuat siapapun tak lagi bangun dari tidurnya di pagi hari.

Sebuah rumah warisan dari orang tua yang kini ku tinggali bersama putriku. Disaat aku seusia Azzeza, rumah ini masih berbentuk utuh dan dilengkapi fasilitas juga makanan yang tercukupi di dalamnya. Namun, semua itu hanya sebuah ingatan di dalam kepalaku. Rumah yang kini ku tinggali bersama Azzeza hanyalah sebuah reruntuhan rumah yang aku sulap kembali menjadi tempat berteduh. Sudah enam kali aku mencoba memperbaiki rumah ini dari serangan rudal. Walau usahaku untuk memperbaiki rumah ini tak pernah sampai pada kata nyaman, akan tetapi aku berusaha melindungi Azzeza dari panas maupun hujan. Saat musim dingin tiba, kami masih selalu merasa kedinginan. Dinding yang bolong, atap dari seng bekas dan lantai beralas tanah lah yang tak mampu melindungi kami dari dingin. Dan hanya itu yang dapat aku buat. 

Aku pernah dibuat menangis oleh Azzeza karena pertanyaan polosnya. Ketika hendak tidur, dari celah dinding yang berlubang karena hantaman rudal itu terlihat gemerlap cahaya seperti kilat atau sesekali nampak peluru yang beterbangan seperti meteor. Lalu terdengar suara dentuman yang keras berulang kali, suara rentetan tembakan juga silih berganti dari arah utara maupun timur.

“Ayah, aku takut. Mengapa engkau tidak menutup lubang dinding itu? Aku melihat mimpi buruk di setiap peluru yang berbaris di langit.” Tanya Azzeza yang tengah baring bersamaku diatas kasur busa tipis yang terletak di antara beberapa ubin bekas.

“Mimpi buruk apa yang kamu lihat nak?” Aku mengernyitkan dahi sambil mengusap rambutnya yang lepek karena lama tak keramas.

Azzeza diam, matanya menatap dalam mataku. Walau di malam hari aliran listrik tak sampai di Yerusalem, tapi mata Azzeza tampak bercahaya dan berkaca-kaca.

“Aku takut jika rudal-rudal itu akan merenggut nyawa salah satu diantara kita, dan akan menangisi jasad aku, pun Ayah.” Air matanya merambati pipinya yang putih berdebu.

“Azzeza, bukankah Allah ada di dalam hatimu?”

Azzeza menganggukkan kepala.

“Bukankah setiap yang hidup akan mati?”

Azzeza diam, tatapan matanya kosong ketika aku mengatakan itu.

“Azzeza kan tau, bahwa tidak ada kehidupan yang kekal di dunia ini. Semua hanya milik Allah. Termasuk Ayah maupun Azzeza. Seperti ibu, ia telah dipanggil oleh Allah ketika kamu masih kecil. Waktu itu Ayah sedih sekali, tapi ayah ingat kalau semuanya milik allah, maka ayah harus ikhlas. Memang tidak ada cerita yang mudah dan indah di dunia ini, tapi semua akan dibalas di suatu saat nanti. Ketika nama Allah mengembang begitu besar di dalam dadamu, maka kamu tak akan pernah takut dan tak akan pernah merasakan sedih yang berlarut.”

“Tapi, Azzeza takut kehilangan Ayah, orang yang Azezza cinta selain ibu. Semua keluarga kita telah dipanggil oleh Allah yah. Rudal, bom dan peluru panas itu telah merenggut semua keluarga kita. Hanya Ayah yang bisa melindungi dan memeluk Azzeza saat ini. “

“Azzeza, semua orang muslim itu saudara kita, kamu tidak sendirian. Seperti orang Indonesia, mereka tidak pernah bertemu dengan kita, tapi mereka selalu membantu kita dalam setiap hal seperti makanan yang kita makan, rumah sakit, pakaian dan banyak hal lain. Mereka cinta kepada kita, kamu tidak sendirian Azzeza. Ayah juga akan selalu berusaha ada di sampingmu.”

Malam itu Azzeza tertidur di lenganku, ia juga memelukku erat. Sedang rudal dan dentuman terus terdengar nyaring di luar rumah seperti hujan badai yang tiada henti.

Saat pagi buta, sebuah dentuman keras terdengar tak jauh dari rumah. Suara tangis, takbir, jerit, dan rintihan kembali menggema. Tak begitu lama, suara beberapa sirine ambulan terdengar mendekat. Jeritan beberapa anak kecil membuat suasana kian mencekam. Rintihan orang yang meminta tolong terdengar mengiba. Pagi itu matahari belum muncul, tiada listrik dan lampu yang menjadi alat penerangan. Hanya ada beberapa senter dari petugas medis dan obor warga sekitar yang dinyalakan untuk membantu mengevakuasi korban dari reruntuhan bangunan. Azzeza tampak begitu takut, air mukanya seolah bercerita tentang kepanikan yang menggelora dalam dirinya.

“Azzeza! Azzeza! Azzeza! Tolong ayah ibuku! Tolong!” Suara teriakan lelaki berusia sekitar lima belas tahun yang menahan tangis dan menggedor pintu.

Ku buka pintu, seorang lelaki yang tubuhnya dibalut oleh debu tengah berdiri didepan pintu. Pelipisnya bercucuran darah, salah satu tangannya menutup luka di pelipisnya agar darah tak terus keluar. “Ahmed! kemarilah biar ku bersihkan debu dan luka dipelipis mu, lalu diamlah di sini. Aku akan membantu menyelamatkan ayah ibumu.”

“Terima kasih tuan, tiada waktu untuk itu. Ayah ibuku membutuhkan bantuan segera, biar darah mengalir dari pelipisku asalkan mereka selamat. Tolong!”

Ahmed mencengkram tanganku, ditariknya menuju reruntuhan bangunan rumahnya. Api yang membakar beberapa barang dan kepulan asap hitam pekat membumbung tergambar abu abu dari siluet semburat matahari. Aku mencoba menghentikan langkah kaki Ahmed, kutarik tangannya kembali menuju pintu rumah.

“Azzeza, apapun yang terjadi kamu harus tetap di rumah. Semoga Allah selalu melindungi.” Pesanku sambil mengusap rambut juga menciumnya.

Ahmed kembali menarik tanganku dengan setengah berlari. Kami hanya mengandalkan intuisi juga semburat matahari untuk menuju reruntuhan rumah Ahmed. Aroma sangit yang mungkin saja dari bagian tubuh tengah mencoba mendobrak hidung. Sesekali rintihan terdengar menelisik di balik reruntuhan. Kecamuk isi hati perihal penyerahan diri kepada yang maha kuasa: Ya Allah, berilah kami kekuatan. Karena hanya engkau yang maha kuat dan maha segalanya. Hamba berserah.

Lima belas langkah kaki aku dan Ahmed berlari, terdengar sebuah pesawat jet F-15 buatan Amerika terbang rendah di antara reruntuhan rumah Ahmed dan sebuah rumah berlantai tiga yang biasa digunakan sebagai gudang penyimpan bantuan logistik dari bangsa Indonesia. Gedung itu terletak tak jauh dari rumahku. Cengkraman Ahmed ku lepas, pikiranku melayang pada Azzeza. Sepuluh langkah kaki menuju rumah, sebuah rudal meluncur deras menghancurkan gudang logistik juga rumahku, mungkin juga tubuh mungil Azzeza. Penglihatanku kabur, hilang dan gelap.

***

Pagi itu, sekiranya setelah sholat subuh. Telepon genggam seorang pemuda berkebangsaan Indonesia yang diletakkan di atas meja makan telah berdering hingga sepuluh kali, namun tak diantara satu dari panggilan itu sempat terjawab. Pagi itu sang pemilik telepon tengah mempersiapkan logistik untuk diberikan kepada warga sekitar Yerusalem.

Seusainya ia mempersiapkan logistik yang hendak dibawa ke desa di Yerusalem, ia mengambil telepon genggam yang tergeletak di atas meja makan. Betapa terkejutnya ia melihat berita bahwa dua rudal telah dijatuhkan Israel di daerah yang akan ia kunjungi pagi ini. Dan panggilan ke tujuh belas kembali menghampiri.

“Hai Husein, sebuah desa yang akan kita kunjungi pagi ini telah di rudal oleh Israel. Gudang logistik desa itu hancur, ada beberapa orang dilaporkan hilang, kemungkinan tertimbun di antara reruntuhan. Tolong kirim bantuan ambulan untuk segera membantu para korban.” ucap seorang pria di ujung sambungan telepon.

“Baik, saya akan kesana dan meminta beberapa ambulan untuk membantu. Saya juga akan membawakan logistik untuk mereka yang selamat. Terima kasih atas informasinya.”

Sebuah mobil hitam tengah melaju menuju desa di sekitar Yerusalem. Suasana di dalam mobil itu pun hening, tiada obrolan di antara penumpang mobil tersebut. Hanya suara angin yang menghambat laju mobil yang terdengar kencang. Pikiran Husein melayang kepada seorang gadis kecil yang pernah ditemuinya sebulan yang lalu ketika memberikan logistik di desa tersebut. Seorang gadis yang umurnya ditaksir sekitar lima atau enam tahun. Senyumannya yang ramah tak pernah hilang ketika berjumpa dengannya. Apakah ia selamat dari serangan rudal pagi tadi?

Setibanya di desa tersebut, ia melihat seorang gadis yang tubuhnya dibalut oleh debu. Bahkan warna baju dan kulitnya sudah tak lagi terlihat, semua sudah berwarna coklat seperti debu. Ia menangis memanggil ayahnya, pelipis dan dahinya berdarah. Sedang air matanya mewarnai debunya menjadi basah. Husein mencoba mengingat siapakah gadis itu, sepertinya ia tak asing dengan suaranya. Ketika ingatannya belum juga sampai kepada nama si gadis itu, gadis itu mengetahui kedatangannya. Ia berlari menghampiri dan memeluknya, gadis itu menangis menjadi-jadi dan mengadu bahwa ayahnya tertimbun reruntuhan rumahnya. Sedangkan ia tak tahu bagaimana ceritanya bisa selamat.

“Wahai paman yang baik, apakah kamu mengingatku? Tolong aku paman. Ayahku tertimbun di antara reruntuhan rumah kami. Aku sedih bila harus kehilangannya, aku tak memiliki keluarga lagi. Tapi, semalam ayah berkata bahwa aku tak boleh sedih. Katanya setiap yang hidup akan mati. Bila ia wafat, maka aku harus ikhlas. Nama Allah begitu besar di dadaku. Aku percaya bahwa semua ini jalan terbaik dari-Nya. Sejujurnya aku takut paman, tapi ayah semalam bilang kalau aku tidak sendiri. Setidaknya saudara seiman adalah saudara terdekatku, seperti orang Indonesia yang begitu baik kepada ku juga ayah, mereka yang selalu memberikan makanan maupun pakaian, meski kami tak pernah bertemu secara langsung. Tapi aku ingin ayahku kembali, tolong aku paman, tolong aku!”

Husein terdiam, ingatannya akan gadis ini telah kembali. Gadis ini adalah Azzeza, gadis yang senyumnya tak pernah pudar ketika ia temui. Kini ia menangis tersedu dan menceritakan hal yang dikatakan oleh ayahnya semalam. Ayahnya bercerita tentang kebaikan bangsanya, Indonesia. Bahkan sampai sebelum ayah Azzeza wafat, ia bersaksi kepada anaknya bahwa bangsanya telah berbuat baik untuk warga Yerusalem. kini Hatinya hancur tatkala gadis ini meminta bantuan padanya. Ia tak dapat berkata apapun, hanya sebuah pelukan juga tetesan air mata yang menjawab rintihan Azzeza.

Editor : Ikrar Aruming Wilujeng

201 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *