Berita Ekonomi

Fenomena Disrupsi Pada Masa Post Pandemi

Foto: Nadia Alya Nur F.

Narasi: Sofia Ayu Riandini

Bacaekon Disruption atau disrupsi merupakan istilah yang sedang ramai dibicarakan dan perlahan mulai terjadi pada masa ini. Dikutip dari website pintar.id, disrupsi merupakan perubahan besar yang terjadi secara cepat, mengejutan dan mampu mengubah peradaban dunia. Hal ini tentu menimbulkan tanda tanya besar tentang apa itu disrupsi dan bagaimana cara menyikapi dan menghadapinya agar bisnis dapat bertahan. Hal tersebut menjadi topik “Diskusi Interkatif Ekonomika” (DINAMIKA), sebuah diskusi buku sebagai salah satu upaya dalam pengembagan pustaka yang diadakan oleh Bidang Riset dan Pengembangan Pustaka (RPP)  LPM Ekonomika pada Sabtu, 16 Juli 2022. Judul buku yang menjadi bahan diskusi adalah Disruption (2017) karangan Rhenald Kasali. Acara ini dimoderatori oleh Sekar dan sebagai pemantik materi yaitu Adi Wahyu Adji atau yang kerap disapa Kak Adi, beliau merupakan CEO dari @rumah_kepemimpinan.

Buku Disruption dicetak pertama kali pada tahun 2017 dan hingga tahun 2019 sudah dicetak sebanyak 11 kali. Rhenald Kasali Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI sekaligus sang penulis buku ini menuangkan Disruption ke dalam 5 (lima) bagian dan 16 bab. Masing-masing bagian terdiri 3 (tiga) bab kecuali bagian 2 (dua) yang ada empat bab. Namun pada diskusi kali ini Kak Adi tidak membahas per-bab yang ada, melainkan secara garis besar.

Disrupsi sendiri dapat terjadi saat bisnis yang sudah ada (incumbent) yang semakin lama akan meningkatkan kualitasnya dan sejalan pula dengan naiknya harga, tetapi disaat yang sama datang pula orang baru (new entrant) yang memiliki performa produk yang biasa saja namun dari segi harga lebih murah, dikutip dari salah satu bab di dalam buku ini. Salah satu contoh incumbent adalah Bluebird yang merupakan armada taksi konvensional yang memiliki pelayanan yang bagus akan tetapi dibandrol dengan tarif yang cukup mahal, lalu muncul new entrant yaitu Gojek dengan harga yang lebih murah tetapi dengan fitur pelayanan yang lebih lengkap. Kehadiran new entrant yang tak dihiraukan oleh Bluebird menjadikan para pelanggan setianya berpaling.

Kak Adi menjelaskan bahwa buku ini mengajarkan untuk sudah seharusnya kita sadar akan adanya disrupsi ini. Pada salah satu bab pada yang berjudull “Self Disruption”, mengajarkan cara paling sederhana agar tidak terdisrupsi adalah dengan mendisrupsi diri kita sendiri. Menganggap bahwa bisnis sudah usang merupakan cara terbaik agar kita bisa melakukan disrupsi atau jika tidak kita yang akan terdisrupsi oleh kehadiran new entrant.

Kak Adi juga memaparkan bagaimana disrupsi terjadi pada masa pandemi dan post pandemi. “Pada masa pandemi, kita sama sama menyaksikan banyak perubahan seperti banyak industri yang jatuh karena tidak memperkirakan adanya pandemi ini. Kita juga menjadi terbiasa dengan kegiatan serba online”. Selanjutnya pada masa post pandemi juga mengalami perubahan yaitu sudah mulai banyak kegiatan yang offline maupun hybrid, sehingga hal ini menjadikan pola pikir juga cara pengambilan keputusan masyarakat menjadi berubah dan hal ini berpengaruh terhadap berbagai industri.

Topik dari buku “Disruption”  karangan Rhenald Kasali yang sangat relevan pada masa ini dan cara penyampaian dari Kak Adi yang mudah dipahami menjadikan para audience menjadi sangat antusias saat mengikuti DINAMIKA ini. Antusias ini terbukti dari beberapa audience yang mengajukan pertanyaan seputar buku yang menjadi bahan diskusi ini.

“Disrupsi merupakan perubahan yang sangat besar dan dialami kita saat ini. Bagaimana menghadapi fenomena disrupsi ini pada masa post pandemi?” salah satu pertanyaan dari Sekar. Kak Adi kemudian menjelaskan bahwa terdapat beberapa tahapan dalam melakukan Design Thinking guna untuk tetap bertahan pada era post pandemi. Tahapan yang pertama yaitu Empati, dimana saat kita ingin membangun startup baiknya memperhitungkan apakah masalah tersebut ada dan apakah penawaran solusi yang diberikan tepat. Tahapan yang kedua yaitu Problem and Solution Fit, artinya apakah masalah dan solusi yang diberikan fit. Dan tahapan terakhir yang disampaikan adalah Produk Market Fit, yaitu harus memastikan apakah pasar yang disasar menerima produk kita.

Lalu Sekar bertanya kembali, adanya disruption ini apakah suatu hal yang positif atau negatif? Menurut Kak Adi, jika dilihat dari berbagai perspektif adanya disrupsi ini merupakan hal yang positif karena dalam konteks hidup disrupsi menjadi solusi agar lebih efektif dan efisien. “Bayangkan jika kita merasa puas dengan sekarang tanpa adanya disrupsi, misal pembayaran hanya dengan cash, kita tidak akan mengenal pembayaran secara online” jawab Kak Adi. Jadi tanpa adanya disrupsi maka akhirnya kita akan terus berada dalam zona ketidakefisienan dan ketidakefektifan.

Reporter: Sofia

Editor: Salwa Nida’ul Mufidah

134 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *