Berita Kampus

FBE UII Bebas Rokok, Kantinnya Sesak Napas

Foto: Ikrar

Oleh: Cemara Putri Pertiwi*             

Untuk menuntaskan perut yang lapar beserta dahaganya, mahasiswa FBE UII memiliki kantin yang terletak di bagian barat kampus. Kantin ini menjual beraneka ragam makanan, mulai dari makanan berat seperti nasi dengan lauk pauknya dan juga makanan ringan seperti donat dan gorengan. Tak ketinggalan juga kantin ini menjual aneka minuman, yaitu mulai dari minuman panas seperti kopi dan juga minuman dingin seperti es teh dan minuman botol lainnya. Maka dari itu, seharusnya mahasiswa FBE UII tidak perlu bingung lagi untuk mencari makanan dan minuman atau sekadar untuk melepas lelah.

Hal itu dibenarkan oleh pengunjung setia kantin FE UII, Fajri Andhika, mahasiswa Ilmu Ekonomi 2018, “enak sih, deket dari kelas juga jadi tidak perlu keluar kampus untuk nunggu matkul selanjutnya,” tutur Fajri. Berbeda dengan Fajri, Avriell, salah satu pengunjung kantin menjelaskan bahwa alasan ia ke kantin adalah karena terdapat banyak kakak tingkat, sehingga bisa  berbagi pengalaman. “Banyak kating yang kadang sharing, lebih ke ngobrol sih kalo di kantin,” tutur Avriell.

Di samping itu, rata-rata pengunjung kantin FBE UII adalah mahasiswa laki-laki, lantaran letak kantin yang bersebelahan dengan bekas smoking room. Maka dari itu, banyak mahasiswa laki-laki yang berkunjung ke kantin untuk sekadar berbincang-bincang sambil merokok (sebelum kebijakan larangan merokok di sekitar kampus baca berita selengkapnya di http://bacaekon.com/kebijakan-labil-larangan-merokok-di-kawasan-fbe-uii/). Hal itu menyebabkan kurangnya antusias dari mahasiswa perempuan untuk berkunjung ke kantin FBE UII. Diperkuat dengan pernyataan dari salah satu mahasiswa Ilmu Ekonomi 2019, “iya soalnya banyak asap rokok juga jadinya malas dan malu juga karena banyak cowok dan tidak ada perempuannya.” Tutur Amelia yang tidak pernah ke kantin FBE UII. 

Faktor tersebut lah yang membuat kantin di FBE UII sepi pengunjung setiap harinya. Selain itu, letak kantin yang berada di belakang kampus membuatnya tidak strategis dan terpencil. Awalnya kantin FBE UII berada di depan kampus, di sebelah utara parkiran mobil dengan empat kios berbeda. Namun, setelah kantin dipindahkan ke belakang kampus pada tahun 2015, penjual di kantin keluar satu persatu. Hal tersebut terjadi karena omzet yang dihasilkan tidak mencukupi untuk membayar modal awal. Akibatnya sekarang di FBE UII hanya terdapat satu buah kios kantin, dengan omzet rata-rata Rp500 ribu perhari yang belum termasuk modal.

Di sisi lain, biaya sewa di kantin FBE UII pada tahun 2013 mencapai sekitar Rp. 22.500.000 per tahunnya, biaya sewa itu pun belum termasuk dengan pengeluaran biaya listrik per bulannya. Tapi pada tahun 2018, biaya sewa kantin turun menjadi sekitar Rp. 15.000.000 per tahun karena permintaan satu-satunya penjual kantin yang masih tersisa. “Sekarang itu harga sewa sudah Rp. 15.000.000 setahun, tapi efektifnya saya berjualan hanya enam sampai tujuh bulan karena terpotong libur puasa, dan libur tiap semester. Semakin lama biaya sewa semakin turun karena kita sudah mengeluh ke pihak kampus karena kondisi kantin yang tidak begitu ramai, sehingga dengan pengunjung yang sepi dan omzet yang sedikit membuat saya tidak bisa mencukupi untuk pembayaran sewa ruko per tahunnya,” tutur Ibu Iin,  satu-satunya penjual yang tersisa di kantin.

Memang sudah sepatutnya pihak fakultas turun tangan untuk membenahi kantin FBE UII. Kantin merupakan salah satu bentuk pelayanan fasilitas yang diberikan terhadap mahasiswa dan juga pegawai. Kantin pun harus terjamin kesehatan makanannya, kebersihan, kenyamanan, dan juga kelayakan tempatnya, serta dengan harga yang terjangkau. Saat ini kantin FBE UII sangat sepi pengunjung dan akhirnya penjual pun mau tak mau menaikkan harga jualnya.

Menurut Suharto, dosen Ilmu Ekonomi, pengelolaan kantin terdapat di bawah wewenang paguyuban karyawan, sehingga pembayaran sewa kantin pun masuk di paguyuban karyawan bukan di fakultas. Sistem tersebut yang membuat pihak fakultas tidak bisa melakukan perbaikan. “Jadi seharusnya pengelolaan di bawah paguyuban harus ditarik ke fakultas sehingga itu menjadi bagian pengembangan dari pihak fakultas,” saran Suharto.

Hal tersebut dibenarkan oleh Arif Rahman, Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, “sebenarnya kan kami dari fakultas memang mau memperbaiki kantin itu tapi kan saya bukan pengelola,” ujar Arif. Ia juga mengatakan bahwa akan melakukan diskusi dengan pengurus paguyuban karyawan. Paguyuban karyawan sendiri juga memiliki struktur yang kurang terbuka dengan dekanat sehingga butuh evaluasi dan restrukturisasi. 

Arif juga menyebutkan bahwa ia sudah memiliki gagasan untuk memindahkan posisi kantin FBE UII ke tempat yang lebih strategis dan lebih meluas. “Saya sudah mengidentifikasi beberapa tempat untuk kantin, supaya pergerakan mahasiswa itu tidak hanya bergerombol di satu tempat,” jelasnya.

*Penulis adalah magang LPM Ekonomika

Reporter: Retno, Suci, Cemara, Saleh

Editor: Azizah

372 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *