EVEREST, EARLY LOOK FEATURETTE

EVEREST, EARLY LOOK FEATURETTE

(Sumber foto : www.movienewz.com)

Oleh : Fenny Fithri Ramadhani

Sutradara         : Baltasar Kormatur

Genre              : Adventure, Biography, Drama

Pemain             : – Jason Clarke as Rob Hall (pemimpin ekspedisi group New Zealand)

– Jake Gyllenhaal as Scott Fischer (pemimpin ekspedisi)

– Keira Knightley as Jan Hall

– Robin Wright as Peach Weathers

– Sam Worthingson as Guy Cotter

– Josh Brolin as Beck Weathers (Dokter)

– Emily Watson as Helen Wilton

Durasi              : 121 menit

Bacaekon.com-Rekomendasi. Film ini menceritakan perjalanan ekspedisi yang dilakukan beberapa negara untuk menaklukan puncak tertinggi gunung Everest. Akan tetapi badai besar menghalangi perjalanan mereka, bencana itu memaksa mereka untuk bertahan hidup di dinginnya gunung tersebut. Film ini diambil dari kisah nyata tahun 1996, di mana sejumlah pendaki di Everest tewas akibat dihadang badai salju super dahsyat saat turun dari puncak Everest. Badai ini menimpa dua kelompok pendaki yang dipimpin oleh pemandu profesional Rob Hall (Jason Clarke) dan Scott Fischer (Jake Gyllenhaal). Kelompok Rob yang merupakan fokus dari cerita ini terdiri dari Doug Hansen (John Hawkes), Yasuko (Naoko Mori), Beck Weathers (Josh Brolin) dan Jon Krakauer (Michael Kelly).

Di paruh pertama film, kita diceritakan sedikit mengenai latar belakang dan sifat masing-masing: si besar mulut Beck yang mempunyai istri dan anak yang tengah menunggu di rumah, Doug seorang tukang pos yang melakukan pendakian keduanya setelah gagal tahun lalu, Yasuko yang telah menaklukan 6 gunung tertinggi dan ini adalah puncak ketujuhnya, serta Rob sendiri yang istrinya tengah hamil tua.

Tepat pada tanggal 30 Maret 1996, pendakian dimulai dari Katmandu dan di sini kita bisa melihat sekilas kebudayaan dan kehidupan masyarakat Nepal. Rob memandu perjalanan ke puncak tertinggi gunung Everest lewat tour Adventure Consutltants yang dibuat bersama teman-temannya pada tahun 1996. Tepatnya di Hotel Garuda semua anggota dari berbagai negara Tour Adventure Consultant berkumpul, di situlah Rob menjelaskan bagi yang berani menghadapi mimpi, Konsultan Petualangan menawarkan sesuatu yang melebihi kata-kata untuk digambarkan. Perjalanan yang tidak dapat tergambarkan lewat brosur, hanya rasa sakitlah yang akan dilawan. Mereka diberi waktu 40 hari untuk melatih tubuh, pikiran dan diberikan kesempatan untuk makan, minum dan bergembira sebelum melanjutkan perjalanan

Keesokan harinya, dengan rasa gembira diiringi rasa cemas mereka berangkat menggunakan helikopter dan mendarat di Lukla dengan ketinggian 2.860 meter yang merupakan gerbang pertama pendaki yang hendak ke Everest. Tim berlanjut ke base camp utama pendakian Everest yang berada di 5.380 meter di atas permukaan laut.

Sesampainya di base camp, ternyata Adventure Consultant bukanlah satu-satunya guide komersil di sana. Ada banyak guide lain yang ikut pada pendakian tahun itu yang mengakibatkan pendakian kali ini menjadi pendakian teramai. Dua grup yang paling mencolok dipimpin oleh Scott Fischer (Jake Gyllenhaal) dari Amerika dan Anatoli Boukreev (Ingvar Sigordson) dari Rusia yang punya hubungan yang tak terlalu baik dengan Rob. Namun ketiganya setuju ambil kata sepakat, setelah Rob bernegosiasi mengingat situasi dan kondisi yang tak bersahabat. Mereka pun memutuskan untuk saling berkerjasama ketika pendakian berjalan. Sebelum mendaki, para pendaki harus di-aklimatisasi terlebih dahulu selama beberapa minggu agar bisa beradaptasi dengan cuaca ekstrim di ketinggian 8.000 lebih meter di atas permukaan laut, yang bisa menyebabkan hipotermia dan kerusakan organ parah.

Perjalanan mendaki dimulai. para pendaki terikat ke tali pengaman dan tak harus meloncat dari satu tebing ke tebing lain. Kita disuguhi banyak pemandangan indahnya di sekitar Everest, selama film berlangsung. Selain itu, kita juga ikut merasakan ketegangan ketika menonton film ini karena keganasan alam itu sendiri dan bagaimana mengerikannya degradasi fisik serta mental yang dialami pendaki. Kita melihat apa yang dialami dan dilakukan oleh orang-orang biasa dalam usahanya mencoba melawan alam.

Tepat pada tanggal 10 Mei 1996, rasa bahagia dan haru yang dirasakan para pendaki Everest telah berhasil mencapai puncak yang dinantikan, yaitu puncak Everest dengan ketinggian 8.848 meter. Melihat kondisi para pendaki yang sudah tidak memungkinkan dan cuaca buruk yang kembali terjadi, mereka segera turun dari puncak dan kembali ke base camp. Ketika sedang melakukan perjalanan turun dari puncak, para pendaki mengalami masalah dan ketegangan karena badai besar yang melanda. Tidak hanya masalah itu, di antara beberapa mereka pun sudah banyak yang mulai kekurangan oksigen dan mengalami kebekuan pada bagian tubuh mereka. Para pendaki berusaha menyelamatkan diri dari badai tersebut dan saling tolong-menolong sesama yang lainnya. Badai besar tersebut ternyata tidak bisa sepenuhnya dilawan, hanya beberapa pendaki yang bisa terselamatkan termasuk Beck Weathers yang hampir kehilangan nyawanya tetapi beberapa saat kemudian dia hidup kembali dengan kehilangan kedua tangan dan hidungnya. Dari tragedi tersebut, beberapa nyawa tidak tertolong.

Film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton bagi yang suka mendaki gunung dan suka berpetualang. Film everset ini memberikan banyak pelajaran kepada para petualang khususnya pendaki gunung bahwa dalam setiap pendakian akan selalu ada ancaman bahaya yang perlu untuk diberi perhatian. Dari film ini, kita juga bisa belajar, bahwa dalam sebuah perjalanan pendakian, puncak bukanlah segalanya, keselamatan nyawa adalah yang harus kita utamakan. Selain itu, mendaki gunung, sampai puncak memang penting dan bisa bikin bangga banget, tapi lebih penting lagi adalah bisa pulang dengan selamat dan kembali berkumpul dengan keluarga. Karena itu penting banget buat kita menekan keinginan atau ego, jangan sampai menimbulkan bencana buat diri kita sendiri dan orang lain. Mendaki gunung itu, yang ditaklukan bukan sekedar elevasi, tapi lebih pada ego diri kita sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

1266 Total Views 1 Views Today

Related Post

Letter To Sweet Coffee

Letter To Sweet Coffee

Oleh: A. Gunawan Judul               : Surat Untuk Kopi Manis (Letter To Sweet Coffee) Penulis             :…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *