Berita Yogyakarta

Elaborasi Seni dalam Pergerakan Rakyat

Foto : Kepin

Oleh : Maria Kiptiah*

“Boikot boikot boikot jalannya, boikot jalannya sekarang juga,” teriakan para massa aksi sembari bergerak menutup jalan dari arah Timur Tugu menuju Jalan Malioboro. Senin (28/10/2019) Aliansi Rakyat Bergerak kembali turun ke jalan untuk terus bergerak melanjutkan aksi-aksi ke depan mengawal pemerintahan, baik pemerintahan eksekutif maupun legislatif. 

Terlepas untuk melancarkan aksi dapat di mana saja, pemilihan Tugu Yogyakarta sebagai lokasi aksi yang baru dikarenakan Tugu adalah ikon dari Yogyakarta itu sendiri. sekitar pukul 15.42 WIB massa aksi mulai berjalan dari Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM) menuju Tugu Pal Yogyakarta. Sementara itu di Tugu Yogyakarta ada Panggung Rakyat yang digunakan sebagai media aspirasi melalui seni.

 “Dalam aksi kali ini kami menggunakan media panggung bergerak dan karnaval demokrasi untuk mengambil suara masyarakat sekitar, agar semua mengerti bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja,” ucap Nailendra selaku Humas Aliansi Rakyat Bergerak saat konferensi pers. Disuguhkan teatrikal di sepanjang jalan saat longmarch dari bundaran UGM menuju Tugu Yogyakarta. Oligarki di circle penguasa, upaya penghancuran kapitalisme, penindasan petani, dan penegakkan demokrasi diilustrasikan oleh massa aksi yang mayoritas berpenampilan seperti joker (tokoh film yang tertindas, -red). Massa aksi juga mengenakan atribut yang mendukung sesuai dengan perannya. 

“Karena ini bagian bentuk dari seni, bukan bagian seperti aksi Gejayan Memanggil, memang ini beda konsep,” tutur Nailendra. Konsep pada aksi kali ini memang berbeda dengan aksi-aksi sebelumnya. Ketika masa aksi datang dari arah timur disambut dengan penampilan live music. Massa aksi lantas menanggapinya dengan menari dan bersorak.

Aksi ini menyuarakan sepuluh tuntutan, sembilan di antaranya sudah diserukan pada Gejayan Memanggil, yaitu sistem ekonomi politik, demokrasi dan HAM, agraria dan lingkungan hidup, ketenagakerjaan, gender, korupsi, militerisme, dan papua. Sedangkan satu tuntutan yang baru menyuarakan tentang pendidikan.

RUU-PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual) tetap disuarakan dalam aksi ini di tengah pro-kontranya. Velis, aktivis feminis yang menjadi orator, memaparkan landasan keikutsertaannya. “Aku udah pernah ngerasain di mana direndahkan sebagai perempuan, dari pengalamanku dengan aku ikut fitness, banyak orang yang mengunderestimate bahwa women are not strong.” RUU-PKS sudah dimasukkan pada prolegnas DPR tahun 2016, namun sampai saat ini tidak pernah dibahas, dan tak kunjung disahkan. 

Adanya tuntutan baru, mengenai pendidikan, disuarakan karena adanya keresahan penurunan kualitas pendidikan itu sendiri. “Sekolah sekarang beda dengan jaman SMP dulu, sekarang sekolah saya semua fasilitas sudah jelek, pemerintah engga kasih dana ke sekolah,” tutur Hazl, pelajar kelas 1 SMA. Hazl tidak datang sendiri, Dipa, sesama pelajar SMA, juga mengutarakan keresahannya. UU Ketenagakerjaan dirasa merugikan pelajar SMK. “Harapannya pemerintah peduli bahwa siswa ketika lulusnya nanti tidak hanya dilihat sebagai penghasil uang, tetapi juga pemaju bangsa,” tutup Dipa.

Di akun instagram @gejayanmemanggil ramai isu yang mengatakan bahwa Aliansi Rakyat Bergerak ditunggangi oleh ormas terlarang. Kabar ini santer terdengar melalui cuitan di kolom komentar, bisa demikian karena ada pesan yang tersebar di masyarakat. “Selama ini kami diserang dengan pesan-pesan berantai yang dibagikan ke masyarakat Yogyakarta,” ucap Nailendra. Salah satu contoh pesan singkat yang diklarifikasi di instagram story akun @gejayanmemanggil berbunyi, “teman-teman aksi hari ini engga jadi. Karena ditumpangi pok HTI yang manfaatin kita.”

Pihak Humas Aliansi Rakyat Bergerak menampik adanya kabar tersebut. Tuduhan-tuduhan yang datang merupakan fitnah yang diduga berasal dari buzzer istana. “Dan satu kami tekankan untuk para buzzer-buzzer istana atau senayan, stop menuduh kami digerakkan ini itu! Kami tidak ditunggangi oleh partai politik dan ormas tertentu!” Nailendra menegaskan. Informasi yang sah dapat diakses di akun instagram resmi Aliansi Rakyat Bergerak, yaitu @gejayanmemanggil.

Kasus di atas diduga menjadi salah satu penyebab penurunan massa aksi. Terlihat hanya ada satu mobil pick-up yang menjadi panggung orasi. Di belakangnya diikuti satu kelompok massa yang berjumlah kurang lebih 300 orang. Sementara itu di Tugu Yogyakarta sudah ada massa sekitar tidak lebih dari 100 orang. Namun, kuantitas tidaklah menjadi prioritas, aksi tetap berjalan tanpa mengurangi esensi dari tuntutan yang disuarakan. “Kita nggak terpengaruh berapa jumlah massa aksi tapi kita tetap berusaha konsisten untuk menyuarakan apa tuntutan dari kami,” jelas Nailendra. Alasan ini berlandaskan pada perbedaan konsep seperti yang sudah dijelaskan. “Memang konsepnya berbeda, bukan berarti ada penurunan drastis,” pungkas Nailendra.

Aliansi Rakyat Bergerak masih belum berhenti, mereka akan terus menyuarakan dan merespon isu nasional. Membuka ruang yang lebih besar bagi masyarakat untuk menyuarakan segala keresahannya mengenai persoalan negara merupakan muara yang akan dituju.

Reporter : Maria, Ikrar, Azizah, Kepin, Adis, Amel, Dini

Editor : Ikrar

*Penulis adalah anggota magang LPM Ekonomika

245 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *