Berita

Dugaan Perbaikan Kualitas Udara saat Pandemi Covid-19

Foto: Kevin

Oleh: Saleh Bimantara Harahap

Bacaekon.com-Sudah delapan bulan kurang lebih pandemi Coronavirus Disease-19 (Covid-19) masuk ke Indonesia dan menjadi bahan perbincangan yang hangat. Covid-19 menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang. Pandemi ini sangat merugikan di berbagai bidang mulai dari perekonomian, pemerintahan, pariwisata, pendidikan, dan lainnya. Setiap harinya virus ini memakan banyak korban jiwa yang cukup banyak di seluruh Indonesia. Hingga hari ini (29/9) telah terkonfirmasi kurang lebih 283.000 kasus. 

Berbagai cara telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi pandemi, mulai dari penerapan physical distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah di Indonesia.  Situasi ini berdampak cukup besar pada sektor ekonomi, di mana penurunan permintaan secara agregat berhasil melumpuhkan kemampuan produksi secara nasional. Bantuan sosial pun turut diberikan pemerintah agar masyarakat dapat tetap memiliki daya beli meskipun berkegiatan dari rumah. Sektor pendidikan juga terpaksa dialihkan pada media daring dengan segala keterbatasannya.

Di balik kerugian yang ditimbulkan, ada suatu hal positif yang diduga disebabkan oleh Covid-19. Adanya penerapan physical distancing dan PSBB yang diberlakukan beberapa bulan ini menyebabkan kegiatan masyarakat yang menghasilkan polutan pun berkurang. Seperti kendaraan yang berlalu-lalang pun dibatasi secara besar-besaran mulai dari transportasi darat, laut, hingga udara. Hal ini berdampak pada perubahan kualitas udara yang membaik sebab polusi udara yang tereduksi. Hal ini terasa di kota-kota besar seperti Jakarta –yang terkenal dengan kualitas udara yang buruk. 

Berdasarkan data statistik Transportasi DKI Jakarta, pertumbuhan tertinggi transportasi jatuh ke pada mobil penumpang yakni sebesar 6,48% per periode 2012-2016. Jumlah mobil penumpang di Jakarta pada 2017 mencapai 3,75 juta unit, dan 2018 menjadi 3,99 juta unit. Sedangkan Jumlah sepeda motor di Jakarta pun tak kalah tinggi, menurut data statistik Transportasi DKI Jakarta pada 2012 mencapai 10,82 juta unit. Angka ini terus meningkat menjadi 13,3 juta unit pada 2016. Dengan rerata pertumbuhan 5,3% per tahun. Jumlah sepeda motor diperkirakan mencapai 14 juta unit pada 2017, dan 14,74 juta unit pada 2018. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Oktober 2018 menyatakan bawa belasan juta kendaraan bermotor melintas di DKI Jakarta. Paling banyak adalah sepeda motor sejumlah 13,3 juta. Disusul mobil penumpang sebanyak 3,5 juta. Dengan data kendaraan bermotor di atas yang sangat tinggi, dan didukung oleh jutaan kendaraan yang ada di DKI Jakarta, membuat kualitas udara di DKI Jakarta sangat buruk akibat polusi kendaraan bermotor. Hal ini telah dikonfirmasi oleh Andono Warih, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, bahwa 75% penyebab tingginya polusi di Jakarta disebabkan oleh emisi kendaraan, sisanya disebabkan oleh aktivitas industri dan domestik. 

Setelah adanya pandemi Covid-19, ditambah penerapan Physical Distancing serta PSBB, membuat lalu lalang kendaraan bermotor dan angka kemacetan pun menurun drastis. Berdasarkan data TomTom Traffic Index, tingkat kemacetan di Jakarta saat PSBB berkurang hingga lebih dari 50%. Contoh, di jam sibuk sekitar pukul 17.00 WIB, tingkat kemacetan bisa mencapai hingga 88% di hari biasa. Sedangkan ketika PSBB angka kemacetan Jakarta turun menjadi 19%. Kesimpulan terakhir dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Penurunan tren kendaraan bermotor inilah yang mengakibatkan kualitas udara membaik dan angka polusi udara ikut menurun.

Tidak hanya transportasi darat, di sektor dirgantara juga terjadi penurunan pergerakan secara drastis akibat pandemi Covid-19. PSBB menimbulkan penurunan penumpang yang menyebabkan seluruh maskapai mengurangi jam terbangnya. PSBB di DKI Jakarta pada tanggal 10 April 2020, di Bandara Soekarno Hatta terjadi penurunan 3,24% dari tanggal 9 April 2020 (338 menjadi 328 pergerakan). Lalu pada tanggal 11 April terjadi penurunan sebesar 22,86% dari tanggal 10 April (dari 328 menjadi 253 pergerakan). Sedangkan di Bandara Halim Perdana Kusuma, pada 10 April terjadi penurunan sebesar 20,21% dari tanggal 9 April (dari 95 menjadi 75 penerbangan). Lalu pada 11 April terjadi penurunan sebesar 29,33% dari tanggal 10 April (75 menjadi 53 pergerakan). 

Tren pergerakan pesawat terus menurun secara signifikan setiap harinya. Hingga mulai 24 April 2020 Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menghentikan sementara layanan transportasi udara. Peraturan tersebut dicabut pada tanggal 9 Mei 2020. Saat peraturan dicabut beberapa maskapai penerbangan mulai membuka layanan. Namun tren penerbangan masih cukup rendah. Seperti dikutip oleh Tempo, setelah peraturan tersebut dicabut, rata-rata pergerakan pesawat di Bandara Soekarno Hatta hanya 110-120 penerbangan. Di hari biasa dapat mencapai 1200 penerbangan. 

PSBB terbukti menjadi salah satu variabel perbaikan kualitas udara di Jakarta. Sebelum pandemi Covid-19, berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) DLH DKI Jakarta, udara tak sehat terus meningkat sejak 2016-2018. Berdasarkan data ISPU, terjadi peningkatan udara tidak sehat setiap tahunnya. Dalam kurun waktu 2016 terdapat 93 hari yang termasuk ke dalam udara tak sehat, lalu tahun 2017 meningkat menjadi 110 hari, dan tahun 2018 meningkat menjadi 187 hari. Dengan kualitas udara yang memburuk secara signifikan ini mengakibatkan kenaikan jumlah kasus ISPA. Data laporan rutin Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, kasus ISPA mengalami tren naik dari tahun ke tahun seiring dengan memburuknya kualitas udara. Pada 2016 tercatat 1.801.968 kasus, 2017 tercatat 1.846.180 kasus, 2018 tercatat 1.817.579 kasus, dan 2019 tercatat 1.874.925 kasus. 

Pada saat PSBB diterapkan berhasil membuat udara DKI Jakarta menjadi lebih bersih dengan kategori baik, yaitu senilai PM2,5 dengan rata-rata sebesar 18,46 µg/m3. Kualitas udara ini merupakan yang terbaik sejak 28 tahun. Lalu menurut Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Siswanto menjelaskan pemberlakuan PSBB telah menurunkan rata-rata konsentrasi karbondioksida (CO2) sekitar 47 ppm atau turun 9,8% dibandingkan tahun 2019.

Perbaikan lingkungan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 memiliki kemungkinan untuk kembali memburuk. Ini menjadi sebuah titik awal bagi pemerintah dan pengembang untuk lebih mengembangkan transportasi yang lebih ramah lingkungan. Tidak hanya itu, momentum ini sudah seharusnya juga menjadi titik awal bagi masyarakat agar lebih bijak dalam bermasyarakat, seperti memakai kendaraan bermotor seperlunya, tidak membakar sampah, dan mengurangi aktivitas yang menghasilkan polutan. 

Reporter : Saleh, Ikrar, Kevin, dan Dinnie

Editor : Retno

82 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *