Dua Sisi Uang Elektronik

Dua Sisi Uang Elektronik

(Foto : moneycontrol.com)

Oleh : Ahmad Rizky Noor Adhidha

Bacaekon.com, Opini-Saat ini telah memasuki era revolusi industri 4.0, hampir semua yang ada di kehidupan kita menjadi praktis. Contohnya adalah adanya revolusi pada pemesanan transportasi umum dan cara belanja. Revolusi transportasi ojek di Indonesia terjadi setelah berdirinya perusahaan aplikasi ojek online seperti Gojek dan Grab. Ojek yang dulu hanya sebagai sarana transportasi konvensional berubah setelah adanya aplikasi. Dulu ojek hanya di pangkalan, sekarang bisa menjemput dimana pun, kapan pun sesuai keinginan melalui aplikasi.

Selain itu adanya revolusi cara berbelanja di Indonesia. Bermula dengan berdirinya aplikasi Bukalapak dan Tokopedia. Aplikasi memudahkan orang berjualan secara online. Membuka toko gratis (toko online), mempersingkat waktu belanja tanpa pergi ke toko, dan berkeliling membandingkan antar toko. Hal ini membuat pelanggan lebih leluasa memilih toko dan produk yang diinginkan.

Selain inovasi aplikasi tadi, sekarang ada juga inovasi pelengkapnya. Inovasi instrumen pembayaran elektronik dengan menggunakan kartu yang berkembang menjadi lebih praktis. Instrumen ini digunakan sebagai alternatif pembayaran non tunai seperti kartu debit atau kredit namun dengan karakter yang berbeda. Sistem penggunaannya adalah dengan cara top up dimana para pemakainya harus menyetorkan uang lebih dahulu kepada penerbit dan disimpan dalam media elektronik sebelum digunakan untuk keperluan transaksi. Ketika digunakan, nilai uang elektronik yang tersimpan akan berkurang sesuai nilai transaksi yang dilakukan, dan sewaktu-waktu dapat kita isi kembali (top-up). Uang elektronik atau lebih dikenal dengan e-money (electronic money) digunakan untuk menunjang pembayaran aplikasi yang disebutkan diatas. Bila merujuk pada situs web Bank Indonesia, Uang Elektronik didefinisikan sebagai alat pembayaran yang memenuhi unsur-unsur sebagai berikut :

  1. Diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu oleh pemegang kepada penerbit;
  2. Nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media seperti server atau chip;
  3. Digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut; dan
  4. Nilai uang elektronik yang disetor oleh pemegang dan dikelola oleh penerbit bukan merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai perbankan. Berdasarkan penjabaran BI diatas telah jelas sifat, karakteristik, tujuan, sistem penggunaan uang elektronik, sehingga kedepannya tidak ada lagi kebingungan mengenai definisi uang elektronik.

 

E-money sendiri di Indonesia telah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009 tanggal 13 April 2009 tentang Uang Elektronik. Aturan lain juga diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia No.11/11/DASP tanggal 13 April 2009 perihal Uang Elektronik. Dikeluarkanya aturan ini menjelaskan pemerintah mendukung adanya inovasi perubahan instrumen pembayaran ke arah yang modern. Diperjelas dengan aturan tentang penerbit uang elektronik, batas nilai saldo akun, dan batas limit penggunaannya. Hal ini mencegah terjadinya kekacauan, kecurangan, penipuan dalam penggunaan uang elektronik. Manfaat dari uang elektronik sangat banyak, seperti mempermudah dan mempercepat dalam banyak transaksi. Pembayaran jalan tol, supermarket, transportasi, belanja online, juga bisa menerima diskon, dan tidak lagi mendapat uang kembali receh yang berisi, berat bahkan dapat merusak dompet. Atau uang kembali dalam bentuk permen dikarenakan pedagang tidak mempunyai uang receh.

Dibalik kemudahan penggunaan uang elektronik, tetap saja uang elektronik mempunyai kekurangan dan risiko yang harus dicermati penggunanya. Risiko kehilangan uang elektronik dikarenakan dicuri atau di retas orang lain, karena prinsip uang elektronik sama seperti uang tunai apabila hilang tidak dapat diminta kembali kepada penerbit. Kurang pahamnya pengguna menggunakan uang elektronik merupakan bentuk risiko lain. Contohnya ketika pengguna tidak menyadari uang elektronik yang digunakan ditempelkan dua kali pada alat pemindai untuk transaksi yang sama. Alhasil, nilai uang elektronik berkurang dua kali dari nilai transaksi yang dilakukan. Umat islam harus memikirkan bagaimana hukum fikih uang elektronik, hingga saat ini hukum fikih mengenai uang elektronik masih saja diperdebatkan. Tentu ada banyak pihak yang melarang karena menurut mereka didalamnya terdapat riba dan gharar. Namun ada pihak yang memperbolehkan, tetapi menggunakan syarat tertentu seperti yang dilakukan MUI dengan mengeluarkan fatwa uang elektronik syariah.

Walaupun ada beberapa risiko dalam penggunaan uang elektronik, terlepas dari halal-haramnya. Banyak manfaat didalamnya yang sangat disayangkan untuk tidak dipergunakan. Terlebih untuk setiap kekurangan tadi ada solusinya masing-masing misal untuk mencegah kecurangan bisa dicegah dengan bersikap hati-hati. Untuk hukum halal-haramnya solusinya menggunakan uang elektronik syariah jadi menghindari riba dan gharar. Sangat disayangkan jika dengan kemajuan teknologi saat ini kita tidak memanfaatkan adanya uang elektronik.

4762 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *