Film Rekomendasi

Dua Garis Biru, Anomali Pendidikan Seksual

Foto : Dua Garis Biru (instagram)

Oleh : Ikrar Aruming Wilujeng

Sutradara : Gina S. Noer

Genre       : Drama, Keluarga

Pemeran : Zara JKT48, Angga Yunanda, Dwi Sasono, Cut Mini, Lulu Tobing, Arswendy Bening Swara

Durasi      : 113 menit

Pendidikan seksual baru-baru ini mulai banyak dibicarakan di Indonesia. Terdapat dua kabar di baliknya. Yang pertama adalah kabar baik, bahwa masyarakat di Indonesia sudah mulai melek akan pentingnya pendidikan seksual. Yang kedua adalah kabar buruk, dengan sadarnya masyarakat akan pendidikan seksual, bisa jadi menunjukan kasus pelecehan seksual di Indonesia semakin banyak.

Pada dasarnya, pendidikan seksual itu diberikan sesuai dengan jenis kelamin dan usia seseorang. Melihat urgensi yang berkembang, sudah semestinya target utama dari pengajaran pendidikan seksual adalah anak kecil dan anak usia remaja. Cara penyampaiannya pun beragam, dan sebaiknya diberikan dengan alasan yang logis dan masuk akal.

Dua Garis Biru, merupakan sebuah anomali dalam pengajaran pendidikan seksual di Indonesia. Dikemas dalam sebuah film yang menjelaskan sebab-akibat dari seks yang tidak pada waktunya. “Menjadi ibu bukan hanya hamil 9 bulan 10 hari, itu pekerjaan seumur hidup,” begitu kata karakter ibu dari Dara, pemeran utama, dalam salah satu adegan (ada di trailer).

Dara dan Bima, sepasang kekasih di SMA, berhasil menggambarkan kondisi pacaran ala anak SMA jaman sekarang.  Karakter Dara, yang diperankan oleh Zara JKT48, digambarkan sebagai seorang gadis yang cantik dan pintar. Ia harus keluar dari sekolah dan mempertaruhkan masa depannya karena hamil di luar nikah. Sedangkan Bima, yang diperankan oleh Angga Yunanda, digambarkan sebagai seorang remaja yang baik dan sederhana. Bima harus belajar menjadi seorang ayah setelah kedapatan melakukan hubungan terlarang.

Kesalahan mereka mengantarkan pada banyak permasalahan yang tidak sederhana. Beban yang ditanggung keluarga sebab menahan malu bukanlah sebuah candaan. Kondisi keluarga keduanya benar-benar mencerminkan keadaan rasa bersalah dan kecewa atas kesalahan dalam mendidik anak. Ditambah dengan karakter ibu dari keduanya yang sangat emosional. Keadaan ibu digambarkan sebagai orang yang paling terpukul atas kehamilan tokoh.

Tidak berhenti di keluarga, dampak yang cukup menyakitkan juga dirasakan oleh keduanya. Kehamilan di usia Dara (17 tahun) merupakan kondisi kehamilan yang terlalu dini, sehingga fisik dan mental belum siap untuk menjalani hari-hari dengan berbadan dua. Juga dengan Bima, remaja usia 17 tahun masih harus menghabiskan banyak waktu untuk mencoba banyak hal. Mental dan pikiran masih belum cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah keluarga. 

Pendidikan seks pada film Dua Garis Biru menekankan pada akibat yang timbul setelah melakukan pacaran yang tidak sehat. Sebab-akibat digambarkan dengan begitu logis dan sesuai dengan kondisi masyarakat di Indonesia dalam menyikapi kehamilan di luar nikah. Perspektif dalam memandang perilaku tokoh digambarkan di luar sisi maskulin dan feminin, sehingga kesalahan keduanya tidak menyudutkan gender, melainkan menyalahkan pribadi tokoh itu sendiri.

Tetapi dalam perjalanan pribadi kedua tokoh, terdapat sesuatu yang kurang bisa diterima dengan kacamata moral. Sepasang kekasih yang menikah karena sebuah kesalahan bukan berarti mengakhiri permasalahan. Menikah dalam konteks ini seharusnya tidak menggambarkan keadaan yang baik-baik saja. Pun sudut pandang asmara, menikah disini bukanlah cerminan dari esensi cinta yang seharusnya menggembirakan bagi kedua pihak.

Film ini masih menunjukkan keadaan baik-baik saja bagi kedua tokoh. Perasaan gembira atas pernikahan masih ditunjukkan di beberapa adegan. Sehingga film ini dapat memberi maksud bahwa melakukan seks bebas masih dapat diatasi dengan menikah. Tentu itu bukanlah substansi yang diinginkan, bukan? Korban kesalahan dalam berhubungan seksual memang harus ditolong, tetapi tidak semudah dengan cara menikahkan.

Film Dua Garis Biru cocok dipertontonkan bagi anak usia remaja, dan pastinya dengan bimbingan orang tua. Harapannya dapat mempengaruhi psikologis dari para remaja untuk menghindari hubungan seksual yang belum waktunya. Selain itu agar para remaja mengerti bahwa pacaran yang tidak sehat, lalu hamil di luar nikah, adalah kepedihan dan aib keluarga yang tidak terperikan. Output lain adalah agar para remaja menyadari, kesalahan yang dimaksud juga memberikan dampak yang menyakitkan bagi keduanya, terlebih pada mental dan fisik.

 

Editor : Azizah 

159 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *