Opini

Dilema Bahasa Arab dalam Studi Ilmu Ekonomi

foto: www.thearabweekly.com

Oleh : Naning Astia

Universitas Islam Indonesia (UII) adalah kampus yang mempunyai latar belakang keislaman. Namun sering kali kita gagal memahami mengenai status UII, apakah sebagai kampus islam atau kampus umum? Karena dua hal tersebut mempunyai definisi dan karakteristik yang berbeda. UII sendiri terdiri dari delapan fakultas, tujuh diantaranya mempunyai disiplin ilmu umum, dan hanya satu yang mempunyai disiplin ilmu islam yakni Fakultas Ilmu Agama Islam.

Program studi Ilmu Ekonomi atau yang sebelumnya mempunyai nama Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan merupakan salah satu program studi dengan corak disiplin ilmu sosial atau umum. Ada salah satu mata kuliah yang menjadi perhatian di dalam Rancangan Program Studi (RPS), yakni Bahasa Arab. Penting untuk diperhatikan dan dibahas bersama mengenai perlu atau tidak keberadaan mata kuliah Bahasa Arab di program studi Ilmu Ekonomi.

Mengulas mengenai lahirnya Bahasa Arab menjadi mata kuliah di program studi Ilmu Ekonomi, adanya mata kuliah Bahasa Arab diawali dari pemecahan mata kuliah Ekonomi Perbankan yang mempunyai bobot sebesar enam SKS. Mata kuliah tersebut kini menjadi mata kuliah Praktikum Perbankan Islam sebanyak tiga SKS dan Bahasa Arab sebanyak tiga SKS. Pemecahan tersebut mulai berlaku sejak tahun 2016 pada semester ganjil, sehingga yang mengikuti arus dari hasil pecahan mata kuliah ini adalah angkatan 2015 hingga angkatan berikutnya. Perlu diketahui mengenai rancangan studi yang dibangun setelah adanya pemecahan mata kuliah beserta SKS-nya, hampir keseluruhan mata kuliah di program studi Ilmu Ekonomi harus disesuaikan dengan pemecahan tersebut.

Hal ini menjadi perhatian bagi mahasiswa Ilmu Ekonomi. Secara disiplin ilmu memang Bahasa Arab tidak mempunyai korelasi dengan studi Ilmu Ekonomi. Kejanggalan ini tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa Ilmu Ekonomi, tapi juga dirasakan oleh beberapa dosen pengampu mata kuliah Bahasa Arab. Didapati ada dosen yang memang bukan konsentrasi mengajar mata kuliah Bahasa Arab, sehingga meminta mahasiswa yang lebih paham mata kuliah tersebut untuk menjelaskannya.

Alasan adanya pemecahan mata kuliah sehingga muncul mata kuliah Bahasa Arab  juga pernah ditanyakan kepada salah satu dosen Ilmu Ekonomi sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi, Jaka Sriyana. “Untuk membantu dalam memahami mata kuliah Perbankan Syariah, karena di dalamnya terdapat banyak penggunaan bahasa atau istilah Arab, maka adanya mata kuliah Bahasa Arab adalah untuk memudahkan kalian dalam mengenali istilah atau Bahasa Arab,” tutur Jaka. Namun pada silabus dan praktik pengajaran mata kuliah Bahasa Arab, tidak ada satupun yang diajarkan atau membahas mengenai istilah Perbankan Syariah, malah lebih merujuk pada materi dasar Bahasa Arab.

Dosen lain berpendapat bahwa mata kuliah Bahasa Arab itu untuk menunjang keahlian bahasa mahasiswa. Beliau mengatakan ada salah satu alumni yang pernah mendaftar pekerjaan di salah satu BUMN, dan perusahaan tersebut memberlakukan persyaratan minimal harus menguasai dua bahasa internasional. Namun yang perlu dianalisis lebih lanjut adalah untuk menguasai Bahasa Arab hingga mahir akan terasa kurang ketika hanya dengan 14 pertemuan atau tiga SKS. Untuk menguasai dan memahami suatu bahasa tidak bisa dengan waktu yang singkat, apabila yang diajarkan masih dalam tahap dasar dan hanya satu semester, dirasa mustahil untuk bisa mahir berbahasa Arab.

Ada pula yang berpendapat bahwa mata kuliah Bahasa Arab merupakan bagian dari ajaran islam dan bahasa Alquran. Tetapi bukan berarti ketika mengedepankan hal itu tidak memperhatikan disiplin ilmu yang ada. Semuanya mempunyai porsi atau fokus yang diselenggarakan dalam Mata Kuliah Universitas (MKU) dan kegiatan wajib universitas. Kegiatan seperti Orientasi Nilai-nilai Dasar Islam (ONDI), pesantrenisasi, dan taklim dilaksanakan untuk menunjang keislaman dan kebangsaan mahasiswa di UII. Berbeda halnya ketika mata kuliah tersebut bagian dari MKU. Apabila mata kuliah Bahasa Arab mempunyai keterkaitan dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan, maka bisa dikategorikan ke dalam MKU, seperti halnya mata kuliah yang sudah ada dan berjalan selama ini yakni Islam Ulil Albab, Islam Rahmatan lil alamin, dan Pendidikan Pancasila.

                                     

Editor : Ikrar, Retno

365 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *