Desis Jemari Penggenggam Bara Api

Desis Jemari Penggenggam Bara Api

(Foto : Islampos.com)

Oleh : Nabila Ramadhani

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (hadis riwayat Tirmidzi nomor 2260)

Bacaekon.com, Oase. Kala itu matahari sangat terik, rasanya tepat diatas kepala posisinya. Bau khas aspal jalanan menghampiri hidung seakan mengucapkan salam di tengah hari. Segala aktivitas berjalan seiringan, terkadang tidak peduli keadaan yang ada di sekitarnya. Namun, ada yang menarik mata seolah ada yang janggal. Terlihat pemuda dengan penampilan tidak biasa menyusuri jalan hendak pergi kesuatu tujuan.

Bersamaan dengan itu tersiar seruan adzan, panggilan tunaikan sholat. Pemuda itu menyusuri jalan hendak memenuhi panggilan adzan. Dicarinya masjid secara saksama dengan mulut bersaut lirih tanda menjawab salam panggilan. Langkah kakinya terhenti tepat di depan teras masjid. Kemudian mengambil sikap duduk diatas batas suci, melepas sepatunya secara bergilir, kiri dulu barulah sepatu kanannya. Berdiri dia dan berjalan menuju serambi masjid, sekarang nampak lagi celena hitam diatas mata kaki dengan baju koko dan peci putih, lengkap dengan tas rangsel memeluk pundaknya. Raut wajahnya yang sumringah dilengkapi dengan janggut yang menghiasi dagunya.

Mata orang-orang pun menatap tajam pemuda itu. Melihat dari ujung kepala hingga batas kakinya. Terkesan asing dan membuat heran orang-orang yang memperhatikannya. Sesekali terdengar dari mulut orang-orang itu dengan pernyataan yang lumrah didengar, “Islam aliran apa dia?”

Ciri yang tampak pada penampilan pemuda tersebut masih dianggap asing oleh sebagian masyarakat luas. Penampilan pemuda yang dikisahkan diatas masih identik dengan istilah “aliran” dan berujung pada mengklasifikasikan ajaran agama. Padahal, pemuda tersebut sedang mengamalkan sunnah Nabi yang seharusnya umat Islam meyakini kebenarannya.

Sunnah yang pertama ialah celana diatas mata kaki, mengenakan celana dibawah mata kaki dalam istilah Islam lebih dikenal dengan kata isbal. “Kain yang panjangnya dibawah mata kaki tempatnya dineraka” (hadis riwayat Bukhari nomor 5787). Sebab pada masa Nabi Muhammad Shalallahu Allaihi Wasallam, isbal identik dengan kesombongan.

Pengamalan sunnah yang kedua adalah memelihara janggut atau jenggot bagi laki-laki. “Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” (hadis riwayat Bukhari nomor 5892). Lantas apa yang membuat sunnah itu asing? Sebab ketidaktahuan ilmu sunnah itu sendiri yang membuatnya asing dibenak beberapa pihak. “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (hadis riwayat Muslim nomor 145).

Zaman modern saat ini mungkin menganggap fenomena itu sebagai doktrin ideologi yang biasanya sering dihindari. Ketakutan akan ikatan belenggu kesesatan adalah pola pikir berujung penolakan. Kesalah pahaman membawa petaka. Pelajarannya ialah, jadilah muslim yang tidak cepat menilai sebelum mempelajari dan mengamati suatu hal.

Pemuda yang dikisahkan sebelumnya adalah pemuda penggengggam bara api. Alasan mengapa demikian adalah sebagaimana yang tercantum dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi nomor 2260, bahwa akan datang suatu masa umat yang berpegang teguh pada agamanya dianalogikan seperti menggenggam bara api.

Terdapat makna mendalam pada istilah penggenggam bara api. Ada alasan mengapa Nabi Muhammad Shalallahu Allaihi Wasallam memilih perumpamaan keteguhan agama dengan bara api. Ada dua cara menggenggam bara api. Pertama apabila menggenggamnya dengan erat, kuat dan yakin maka rasa sakit dari panasnya bara api akan cepat hilang dan berlangsung sekejab. Cara yang kedua adalah dengan rasa ragu, alhasil rasa sakit bengangsur lama dan bisa jadi enggan untuk menggenggamnya lagi.

Sama halnya dengan bepegang teguh pada agama di zaman sekarang ini. Sunnah dianggap berbeda dari keyakinan muslim kebanyakan, walaupun aslinya berasal dari keyakinan Islam juga. Miris menyaksikan hal tersebut ditengah umat muslim. Islam yang ada adalah satu yaitu bersumber dari al-Qur’an dan hadis. Maka inilah alasan mengapa penting belajar sebelum beramal.

Mengamalkan sunnah bukan berarti mengasingkan diri. Bermuamalah dengan sekitarnya juga harus dilaksanakan. Islam bukan berarti anti dengan adat istiadat, namun apabila adat istiadat atau kebiasaan setempat tidak mengingkari syariat Islam maka jangan diingkari.

Upaya mewujudkan pengamalan sunnah yang baik dan benar ialah dengan belajar beragama dengan benar. Mantapkan ilmu tauhid, kenalilah ilmu fiqih, belajarlah sirah atau kisah-kisah Nabawiyah, serta carilah ilmu akhlakul karimah.

3691 Total Views 63 Views Today

Related Post

Ilmu dalam Balutan Islam

Ilmu dalam Balutan Islam

(Foto : tribunislam.com) Oleh : Rafani Adhyapaka Shafira Guruku tersayang, Guru tercinta Tanpamu apa jadinya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *