Opini

Bukan Sekadar Mendengar

Ilustrasi : wikiHow

Oleh : Suci Brilianti Hermanto*


“When you talk, you are only repeating what you already know. But if you listen, you may learn something new,” Dalai Lama.

 

Bacaekon.com-Sebagai makhluk sosial, manusia cenderung berhubungan dengan manusia lainnya. Ada sesuatu yang perlu diketahui dari dalam dirinya dan lingkungan sekitar. Kecenderungan inilah yang mendorong manusia untuk berkomunikasi. Dalam proses komunikasi efektif, dibutuhkan keterampilan seseorang dalam menyampaikan ataupun menerima pesan (selengkapnya baca di sini). Tidak hanya proses berbicara saja yang terjadi. Tetapi ada pula proses mendengarkan yang sama pentingnya di dalam suatu komunikasi. Di setiap kegiatan sehari-hari, pasti akan membutuhkan proses mendengarkan, apalagi di dalam suatu komunikasi lisan. Ada beberapa fungsi dari mendengarkan, seperti memperoleh informasi, meningkatkan hubungan kerja, mudah menemukan solusi dari setiap permasalahan, menghindari konflik, dan yang terpenting agar tidak menyepelekan lawan bicara. 

Tanpa disadari terkadang kita lupa kita dianugerahi dengan dua telinga dan organ tubuh lainnya. Seperti pikiran, mata, hati, dan saraf pusat sebagai pendukung untuk dapat memahami apa yang orang lain katakan. Artinya, sebagai manusia kita didesain untuk menjadi pendengar yang baik dan penuh perhatian. 

Seperti yang tidak banyak orang ketahui, mendengarkan itu berbeda dengan mendengar. Menurut Burhan (1971:81), mendengarkan adalah suatu proses menangkap, memahami, dan mengingat dengan sebaik-baiknya apa yang didengarnya atau sesuatu yang dikatakan oleh orang lain kepadanya. Kita bisa saja secara fisik mendengar orang-orang berbicara, tetapi tidak benar-benar mendengarkan apa yang orang lain katakan.

Dalam berkomunikasi sering kali sebagian dari kita lebih menggunakan lidah ketimbang telinga. Dengan kata lain lebih suka berbicara ketimbang mendengarkan. Padahal, berbicara membutuhkan usaha fisik yang lebih keras. Kita harus membuka mulut, menggerakkan lidah, dan mengeluarkan suara. Sedangkan mendengarkan hanya perlu membuka telinga dan menyimak apa yang dikatakan orang lain. Hal ini juga didukung oleh aksara tradisional Tiongkok sejak abad ke-18 oleh Cang Jie. Ia dititah Langit turun ke dunia untuk menciptakan aksara Mandarin. Dia terlahir dengan memiliki empat mata, membuat dirinya dapat melihat seluruh penciptaan yang ada di bumi. Cang Jie disebut juga Zuozi Xianshi atau guru besar pencipta huruf. 

TO REDAKSI

Makna aksara tradisional Tiongkok 聽 (Ting, baca: ding, yang artinya mendengar). Aksara Ting terdiri dari dua bagian, pada sisi kiri aksara adalah aksara untuk kata telinga目(Er, telinga ), dan pada sisi kanan aksara tersusun dari 3 aksara dengan urutan dari atas ke bawah: 十 (shi, kedua mata), 一 (yi, satu/memperhatikan secara penuh) dan  心 (xin, hati).

Maknanya mendengarkan bukanlah hanya menggunakan telinga. Melainkan juga menggunakan mata untuk memperhatikan bahasa tubuh pembicara, menggunakan hati untuk merasakan, dan menggunakan pikiran untuk dapat memahami sepenuhnya objek pembicaraan.

Dengan demikian, cara kita mendengarkan menentukan seberapa baik kualitas komunikasi dan seberapa mulus hubungan kita dengan orang lain. Mendengar secara semu akan menghasilkan komunikasi yang semu pula. Misalnya, di pertemuan dengan orang yang baru dikenal. “Halo, apa kabar? Cerah sekali ya hari ini?” Kita cukup merespon pertanyaan standar dengan jawaban standar. Sementara pikiran kita memikirkan hal- hal lain. Kita lebih sering melakukannya ketika tidak terlalu tertarik dengan seseorang, tetapi perlu komunikasi untuk sopan santun belaka. Apabila tahap mendengarkan ini diterapkan pada hubungan yang sudah terjalin lama, ini menunjukkan hubungan tersebut mulai tidak baik dan mulai berakhir. Kualitas komunikasi ini sudah mencapai tahap kebiasaan. Mendengarkan menjadi sekadar mendengar.

Pada taraf inilah tingkat mendengarkan yang banyak kita terapkan. Menghasilkan komunikasi yang penuh kesalahpahaman terutama dengan mereka yang kita sepelekan. Tingkat mendengarkan yang selanjutnya sama tidak memuaskannya. Alih-alih membuat penilaian, kita justru berasumsi dan langsung mengeluarkan apa yang ada di kepala kita. Tidak mendengarkan informasi yang seharusnya kita simak. 

Tujuan mendengarkan di sini bukan mendapatkan sesuatu yang baru, melainkan praktik memproyeksikan ide, opini, dan apapun informasi yang telah kita miliki. Bukan sekadar menyimak tetapi mendengarkan untuk menegaskan keyakinan-keyakinan kita.

Layaknya rubah yang siap menerkam domba. Tindakan mendengar menjadi peluang, mengoreksi, mengungkap ketidaksetujuan, bahkan menganggap tidak penting perkataan orang lain. Komunikasi hanya sebatas memamerkan isi pikiran  dan ketajaman intelektual kita dibandingkan dengan lawan bicara kita.

Jadi, adakah cara terbaik untuk mendengarkan? Cara mendengarkan untuk menghasilkan perasaan positif dan menciptakan bentuk komunikasi yang sama-sama memuaskan dan disepakati. Untuk menciptakan itu, kita perlu melakukannya dengan pikiran dan hati yang terbuka. Terbebas dari penilaian dan kritik yang mengotori batin kita.

Dengan begitu, kita dapat saling berempati dan menjaga diri untuk tidak saling menghakimi, menyimpulkan, dan mengoreksi masalah-masalah mereka dengan menawarkan solusi yang tidak perlu. Memberi solusi dan benar-benar memahami apa yang disampaikan dan mengapa ia menyampaikan itu dari sudut pandang orang tersebut, bukan dari sudut pandang diri kita. 

*Penulis adalah demisioner Bendahara Umum LPM Ekonomika periode 2019/2020

Editor : Retno

93 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *