Opini

Berdamai dengan Diri Sendiri

Foto : arthlete.tumblr.com

Oleh : Ayu R

“Andai aja aku sepinter dia.”

“Coba aja bisa se-easy going dia.”

“Dia makan banyak tetep aja kurus, aku baru makan gorengan satu aja udah naik 2 kilo.”


Tanpa disadari kalimat-kalimat seperti itu sering spontan terucap. Keinginan untuk menjadi orang lain selalu terbesit, dan perasaan lebih rendah atau lebih buruk dari orang lain selalu membuat tidak percaya dengan diri sendiri. Lalu, apakah jika berhasil memiliki yang orang lain miliki dapat menjamin kebahagiaan? Merasa cukup? Atau masih akan membandingkan diri dengan ratusan orang lainnya? Sah-sah saja untuk berpikir seperti itu, asal tetap dalam koridor tertentu. Nyatanya sebagian orang memang mengukur sesuatu hal dengan membandingkan. Rumput tetangga selalu lebih hijau memang menggambarkan kondisi ini.

Haus pengakuan atas kemampuan diri sendiri dan perasaan yang tidak pernah cukup akan pencapaian inilah yang kadang membuat seseorang terus membandingkan diri dengan orang lain. Misal, Kebanyakan orang tidak benar-benar yakin dengan pencapaiannya, dan cara termudah untuk mengukur progress atau tingkat pencapaian adalah membandingkan  dengan keberhasilan orang lain, begitulah kira-kira.

Dalam istilah psikologi, kondisi ini disebut sebagai social comparison atau perbandingan sosial. Perbandingan sosial adalah kecenderungan seseorang untuk merasakan hal baik dan buruk dalam dirinya berdasarkan perbandingan dirinya sendiri dengan orang lain. Kondisi ini pertama kali dikemukakan oleh seorang psikolog sosial bernama Leon Festinger pada tahun 1954. Festinger menyatakan bahwa ada dua alasan mengapa seseorang selalu mengevaluasi pendapat dan kemampuan mereka dengan membandingkan diri dengan orang lain, yaitu untuk mengurangi ketidakpastian dan untuk mempelajari cara mendefinisikan diri mereka sendiri.

Setiap manusia memiliki dorongan untuk mengevaluasi pendapat dan kemampuannya. Menurut Festinger cara pandang seseorang dalam sebuah situasi juga akan berpengaruh terhadap perilakunya. Selain itu, seseorang yang terlanjur berpegang pada pendapat dan penilaian yang kurang tepat pada penerimaan diri juga dapat menyebabkan perasaan minder. Sampai tahap tertentu, social comparison dapat menghasilkan efek tingkat lanjut yaitu :

  1. Seseorang akan selalu merasa buruk jika melihat kelebihan orang lain dan kelemahan dirinya sendiri.
  1. Seseorang bisa saja membenci perbuatan baik orang lain, tanpa benar-benar mengenal bagaimana orang itu sebenarnya.
  2. Seseorang mungkin mencoba menjatuhkan mereka yang lebih baik dari dirinya.

Bagaimana menangani atau menyudahinya?

Dapat dikatakan tidak ada penanganan khusus untuk hal ini, tapi ada beberapa hal yang mungkin dapat membantu menyudahinya.

Rasa syukur dapat menjadi stimulus untuk seorang individu dapat mengenali hal-hal baik yang sudah ia miliki di dunia. Sejatinya di dunia tidak ada yang sempurna.

Membandingkan prestasi antar 2 orang atau lebih merupakan perihal yang sulit. Karena setiap individu tidak akan benar-benar sama, bahkan kembar identik pun memiliki perbedaan.

Berupayalah untuk membebaskan diri dari perbandingan. Setiap individu sebaiknya berlatih untuk mencintai keunikan dan bangga atas prestasi yang telah diraih.

Mengapresiasi pencapaian diri sendiri dan orang lain juga diperlukan. Ketika teman, keluarga, atau rekan mencapai sebuah prestasi, berbahagialah untuk mereka. Hindari rasa cemburu terhadap pencapaian orang lain dengan kalimat sederhana seperti “selamat ya!.”  Dan cobalah jadikan itu sebagai inspirasi tanpa perbandingan.

Jadi, apakah membandingkan diri sendiri dengan orang lain benar-benar buruk?

Jawabannya, tergantung.

Festinger juga mengatakan, ada dua jenis perbandingan sosial, yaitu ke atas dan ke bawah. Membuat perbandingan ke bawah cenderung membuat seseorang merasa lebih bahagia dan lebih baik, sedangkan perbandingan ke atas biasanya menimbulkan perasaan tidak baik.

Jika membandingkan diri untuk penilaian sendiri, ya tentu itu sangat membantu bahkan diperlukan. Tetapi jika belum bisa mengontrol emosionalnya justru dalam beberapa kasus dapat menjadi obsesi, toxic, dan kadang menggiring untuk lupa mencintai diri sendiri.

“Don’t compare yourself to others. Compare yourself to the person you were yesterday.”

Editor : ikrar

286 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *